full screen background image

Siswa Dibebani Beli Kursi dan Buku

INDRALAYA, PE – Minimnya sarana dan prasarana (sarpras) yang dimiliki MAN Sakatiga membuat pihak madrasah meminta bantuan kepada siswa agar bisa memenuhi fasilitas tersebut. Namun, pembebanan ini justru dikeluhkan orang tua dikarenakan pemenuhan sarpras merupakan tanggung jawab pemerintah dan madrasah bersangkutan.

Informasi yang diterima, siswa di madrasah yang ada di Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir diminta untuk membeli kursi plastik yang akan digunakan di Gedung Serbaguna Madrasah. Mengingat, gedung serbaguna tersebut belum memiliki kursi sehingga duduk lesehan. Bukan itu saja, pihak madrasah juga membebani siswa membeli buku dengan nilai Rp1 juta/ siswa.

“Semestinya, pihak madrasah minta bantuan kepada pemerintah seperti mengajukan provosal, jangan sama wali murid. Setahu saya pemerintah sudah tidak membebani masyarakat lagi untuk anak yang ingin sekolah,” keluh Suroiya, warga Indralaya.

Terpisah, Kepala MAN Sakatiga Muslim arif, S Pd mengakui jika meminta bantuan kepada wali murid agar membantu satu kursi plastik untuk duduk pada kegiatan yang akan digelar dalam Gedung Serbaguna MAN Sakatiga.

“Waktu itu, saya sedang berdiskusi dengan wali murid dan siswa kelas 12 di Gedung Serbaguna. Saat berdiskusi semuanya duduk lesehan. Spontan saya terpikir untuk meminta sumbangan kepada wali murid untuk menyumbang kursi agar lebih nyaman. Lagi pula setiap ada kegiatan di Gedung Serbaguna bisa duduk di kursi, tidak lesehan seperti ini,” aku dia.

Saat itu, aku dia, pembebanan kursi hanya bagi siswa yang tamat atau lulus, kemarin. Namun, setelah menimbang, pihaknya juga memutuskan untuk meminta bantuan juga kepada kelas 10 dan 11. “Khusus siswa kelas 10 dan 11 terserah mau berupa uang atau langsung kursi,” ujarnya.

Disinggung soal uang Rp1 juta yang diwajibkan untuk setiap siswa membeli buku, juga diakuinya. Menurutnya, untuk menunjang anak didiknya memiliki pengetahuan lebih dalam proses belajar mengajar, pihaknya mewajibkan anak didiknya untuk beli buku.

“Selama empat bulan sejak saya di sini, anak didik kita hanya mengandalkan buku tulis dalam belajar. Kalau begini, bagaimana pelajar mau banyak masuk Unsri atau Universitas ternama lainnya,” ungkapnya.

Sebagai putra daerah, dirinya berkeinginan anak didiknya bisa memiliki ilmu yang setara dengan pelajar-pelajar di Kota Palembang atau tempat dia mengajar sebelumnya di MAN 2 Palembang.

“Bagi kami tidak masalah kalau mau beli buku sendiri. Karena memang, kita melakukan kerjasama dengan pihak ketiga untuk pembelian buku ini. Lagi pula, pembelian buku ini, bukan melalui kita, uangnya langsung ditransfer ke rekening penjual buku tersebut,” tukasnya. VIV




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *