full screen background image

Alex Noerdin: Asian Games Bukan Tujuan Utama

PALEMBANG, PE Berbagai tudingan dan komentar miring segelintir warga Sumatera Selatan (Sumsel) terhadap kinerja Gubernur Sumsel, sepanjang tahun 2017 tidak membuat H Alex Noerdin geram ataupun marah. Bagi pelopor sekolah dan berobat gratis ini komentar tersebut dilontarkan masyarakat karena ketidakpahaman terhadap kondisi Sumsel secara objektif.

“Ada yang bilang Gubernur hanya fokus pada Asian Games saja, hanya memperhatikan (kota) Palembang. Sampai saya disebut Gubernur Palembang,” ungkap Alex di hadapan para pemimpin redaksi, akademisi dan tokoh masyarakat saat Kaleidoskop Akhir Tahun 2017 di Griya Agung, Rabu (27/12).

Suami Hj Eliza ini menjelaskan, membangun suatu daerah tidak mungkin hanya dengan menggunakan Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sendiri karena tidak akan pernah cukup. “Harus masuk investasi dari luar, bantuan dari luar yang tepat sasaran untuk menggerakkan perekonomian Sumsel sehingga cepat mencapai targetnya,” jelas Alex.

Untuk bisa menarik investasi masuk ke Sumsel, lanjut Alex, Sumsel harus dikenal secara baik di mata Indonesia maupun di mata dunia, salah satu cara yang paling cepat melalui olahraga.

“Kita pilih olahraga, karena kita punya modal Jakabaring Sport City (JSC) yang kita bangun dalam waktu singkat, menyulap rawa menjadi kota olahraga yang hingga kini venue-venuenya masih terawat dan terus bertambah,” terang Alex.

Sejak hadirnya kawasan JSC, membuat Sumsel semakin dikenal dunia dengan banyaknya event olahraga internasional yang berlangsung di Sumsel.

“Sumsel semakin dikenal di mata dunia, investasi masuk, bantuan masuk, ini adalah mata rantai yang tidak terputus sejak 2004 hingga 2018 nanti kita akan menjadi salah satu tuan rumah Asian Games,” urainya.

Bagi Alex, merebut Asian Games merupakan perjuangan yang luar biasa, meskipun Alex menegaskan Asian Games bukan menjadi tujuan utama. “Asian Games bukan tujuan utama, tapi alat untuk mencapai tujuan utama yaitu KEK TAA (Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api) yang akan menjadi peluang ekonomi masyarakat Palembang yang secara jangka panjang muaranya adalah untuk kesejahteraan masyarakat. Jika KEK TAA sudah berjalan, Sumsel tidak akan terkejar lagi oleh provinsi lain di Indonesia,” tegasnya.

Tahun lalu, anggaran sebesar Rp 68 Triliun dari APBN dan penyertaan modal negara masuk di Sumsel dalam bentuk infrastruktur, yakni Light Rail Transit (LRT), tiga ruas jalan tol, dua jembatan, underpass dan dua fly over dibangun di Sumsel untuk mensukseskan penyelenggaraan Asian Games.

“Jika tidak ada Asian Games maka tidak akan ada APBN yang masuk ke Sumsel artinya tidak akan ada LRT dan sebagainya itu,” tukas dia.

Memang diakui Alex, pembangunan infrastruktur di Sumsel terus tumbuh meskipun keadaan infrastruktur jalan di hampir seluruh daerah di Sumsel mengalami kerusakan cukup parah yang terus menjadi keluhan masyarakat.

“Memang jalan kita banyak yang hancur, apalagi tahun lalu kita kena efisiensi hampir Rp 1 triliun, dan tahun ini juga berkurang Rp 800 miliar jadi dana untuk pembangunan berkurang sangat signifikan. Tapi mulai tahun 2018 kita akan perbaiki semua jalan yang rusak,” janji Alex.

Dalam Kaleidoskop tersebut juga diterangkan pertumbuhan ekonomi Sumsel di triwulan ke III tahun 2017 tumbuh 5,56 persen dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2016 atau berada di atas pertumbuhan nasional. Pertumbuhan ekonomi tersebut dikontribusi oleh beberapa lapangan usaha yakni pertambangan dan penggalian (19,10 persen), industri pengolahan (18,85 persen), pertanian, kehutanan dan perikanan (16,79 persen), konstruksi (13,6 persen) dan perdagangan besar, eceran reparasi mobil dan sepeda motor (12,33 persen). BET

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *