full screen background image

Wisata Ghumah Baghi Kurang Promosi

PAGARALAM, PE – Ghumah baghi alias rumah kuno peninggalan leluhur masyarakat Besemah Kota Pagaralam masih banyak ditemukan di daerah pedusunan. Namun, wisata ghumah baghi ini tampaknya kurang begitu dipromosikan.

Salah seorang jurai tue (sesepuh tertua) Dusun Pelang Kenidai, Ghozali mengatakan, di dusunnya saja masih ada sekitar 40-an ghumah baghi yang masih ada. Sebagian besar ghumah tersebut masih dipergunakan dengan baik.

“Usia rumah peninggalan orang tua zaman dahulu itu usianya puluhan hingga ratusan tahun. Meskipun ada yang sudah tidak ditempati, namun sebagian besar masih dipergunakan anak keturunannya,” ujar dia.

Sementara di dusun lain seperti Dusun Tanjung Aro, juga masih ada belasan rumah yang tersisa. “Rumah di dusun ini banyak yang tidak terawat dan ditinggal begitu saja oleh pemiliknya. Keturunannya juga tidak ada yang tinggal di sana,” ujar Jeki, salah seorang warga.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pagaralam, Samsul Bahri Burlian menyebutkan, upaya pendataan ulang aset pariwisata yang bertebaran di Pagaralam dilakukan setiap tahun. Hal itu untuk menginventarisasi lagi aset-aset yang ada dan agar dapat ditindaklanjuti penanganannya.

Dia mengatakan bahwa saat ini masih banyak aset wisata dan budaya yang belum tereksplorasi dengan baik termasuk ghumah baghi. Di samping tentu saja sangat banyak yang sudah tereksplorasi dan menjadi unggulan wisata di Pagaralam bahkan di Sumatera Selatan (Sumsel).

“Sampai saat ini yang masih banyak bertebaran terutama megalit-megalit peninggalan nenek moyang kita pada masa purba dahulu termasuk juga ghumah baghi. Kalau bisa kita tata dengan baik bukan tidak mungkin wisata budaya silam semakin berkembang dan menjadikan Pagaralam sebagai pusat peninggalan purbakala yang banyak dikunjungi selain kekayaan alamnya,” ujar Samsul.

Pernah dirumuskan ada wacana terbuka untuk bekerja sama dengan Balai Arkeologi Jambi untuk membuat semacam kampung megalit atau paling tidak museum  purbakala. Dengan demikian diharapkan nantinya informasi yang disajikan lebih lengkap dan ilmiah sehingga pengunjung tidak kesulitan mencari tahu asal-usul benda megalitikum yang dikumpulkan tersebut. KOE




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *