full screen background image

Populasi Gajah OKUS Terancam Punah

Bangkai Gajah Diduga Diracun Dilakukan Otopsi

MUARADUA, PE – Populasi gajah liar di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan mulai terancam punah. Pasalnya populasi satwa yang dilindungi negara ini setiap tahun terus berkurang baik mati akibat terjadi kontrak dengan masyarakat hingga ada karena mati terserang penyakit hewan.

Informasi berhasil dihimpun, apabila tahun 1990-an gajah di kawasan Hutan Marga Satwa terdapat 22 Ekor. Saat ini hanya sekitar lima ekor, setelah dilakukan proses pemindahan dan sebagiannya ada mengalami kepunanan. Sedangkan di kawasan Hutan Lindung Hutan Lindung (HL) Bukit Nanti dan Hutan Lindung di Paraduan Gistang jumlah puluhan hanya sekitar enam ekor karena punah.

Kondisi Hutan Lindung di Kabupaten OKU Selatan sendiri kini mulai terancam dan semakin kritis, dari total Luas Hutan Lindung‎ mencapai 138.917 Hektar‎ (Ha), 70%nya saat ini sudah mengalami rusak berat diduga menjadi faktor utama kawanan gajah liar semakin punah.

Kepala UPTD ‎Kesatuan Pengelolaan Hutan Sumsel, OKU Selatan, Ir Edi Suratman membenarkan jika keseluruhan hutan terdiri hutan Produksi, Lindung‎ dan Konservasi terancam kelestariannya karena berbagai faktor salah satunya ‘ekspansi’ atau perluasan lahan pertanian oleh warga.

“Mayoritas kerusakan hutan lindung (HL) tersebut disebabkan adanya akupansi dan pendudukan dilakukan masyarakat di kawasan hutan lindung tersebut, telah berlangsung bertahun-tahun, yang berdanpak kerusakan,” kata Edi, Senin (8/1).

Dia menampik, kerusakan hutan sudah berdampak kepada seluruh ekosistem dan hewan liar berada di dalamnya bakal semakin punahnya, akibat lokasi mereka saat ini beralih fungsi dan ditempati petani. ‎Namun, faktornya hanya sebagian kecilnya‎.

‎”Masyarakat tersebut menduduki kawasan hutan membuka lahan untuk perkebunan dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Makanya semakin tahun hutan semakin kritis. Tetapi, untuk gajah liar ini masuk ke pemukiman faktornya karena hutan lindung sedikit, tetapi lebih kepada ingin mencari makanan karena di lokasi mereka tinggal sudah tidak ada makanan sesuai selera mereka,” timpalnya.

‎Dia merincikan, total lahan diseluruh wilayah di Kecamatan OKU Selatan terdapat167.000 Hektar‎, terbagi dengan hutan lindung, produksi dan hutan Marga Satwa yang banyak dihuni aneka satwa liar.

‎”Total hutan lindung sendiri seluas138.917 Hektar (Ha) dibagi dengan kawasan  Hutan Lindung (HL) Saka, Hutan Lindung (HL) Bukit Nanti dan Hutan Lindung (HL) di Paraduan Gistang, dan sebagian di Hutan Lindung di areal Bukit Gerba,” tambahnya.

Dia menambahkan, sementara berdasarkan data dimiliki, kerusakan kawasan hutan di Kabupaten OKU Selatan sudah mencapai 70 %. Sisanya masih ada sekitar 30% kondisinya‎ masih terjaga dengan baik. “Mengenai kondisi hutan lindung di daerah kita ini sendiri memang sudah cukup memprihatinkan.‎ Perlu ada langkah serius mengatasi permasahan kerusakan Hutan Lindung (HL) tersebut,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Edi, kerusakan hutan sendiri ada disebabkan oleh aksi pembalakan kawasan hutan lindung dilakukan oknum tertentu. Makanya, untuk kedepan sistem pengawasanya akan diperketat. “Kedepan setiap wilayahnya akan ada petugas ‎kami ditempatkan. Penanggulanganya akan dilakukan berbagai cara mulai dari pendekatan dengan warga berada di wilayah hutan lindung tersebut. Jika nanti untuk upaya tersebut tidak bisa maka kita lakukan proses hukum sesuai peraturan,” pungkasnya.

‎Sementara guna mengetahui penyebab pasti  kematian satwa langka di Desa Kota Dalam, Kecamatan Mekakau Ilir, Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan (Sumsel) dan Tim melakukan Otopsi dengan cara menurun Tim dan Dokter hewan, Senin (8/1).

Pantauan di lapangan, Tim Dokter Hewan, BKSDA, Polhut, TNI dan petugas khusus melakukan Otopsi dan berhasil menemukan bagian dalam tubuh gajah sudah mulai membusuk diduga akibat racun.

Menurut Dokter Tim, Natan Basyri Drh, pihaknya sengaja melakukan Otopsi untuk mengetahui apa menjadi penyebab kematian Satwa Liar, Gajah akan melakukan rangkaian tes terhadap bangkai Gajah untuk mengetahui gambaran besar apa yang terjadi dan memastikan penyebab dasar matinya Gajah. “Tim melakukan Otopsi meliputi rangkaian yakni, tahap komfirmasi, Diaknosa, Ananese, Prezen atau lebih dikenal dengan bedah bangkai,” ungkapnya.

Pihaknya sendiri belum dapat memastikan apabila Gajah tersebut mati akibat diracun ataupun hanya mati lantaran menderita penyakit hewan. Namun, di bagian fisik Gajah tidak terdapat luka bekas penganiayaan akibat benda tajam. Hanya saja mulut dan bagian anusnya mengeluarkan darah.

“Tim akan mengambil sample berupa organ tubuh yakni Jantung, limpa, Hati, Paru dan Ginjal serta beberapa organ lainnya. Nanti akan dibawa ke Laboratorium untuk memastikan kematian Gajah, di sanalah kita dapat mengetahui kematian Gajah disebabkan oleh Zat apa,” ulasnya.

Kepala Koordinator Wilayah III, OKU Raya, BKSDA Sumsel, Herman SH mengatakan, tim dokter yang dipimpin langsung Dokter Hewan Natan Basri sengaja diturunkan sudah mengambil sampel tubuh gajah ditemukan mati diduga keracunan.

 

“Seluruh sampel ini, selanjutnya akan dibawa Tim Dokter khusus Gajah untuk kemudian diperiksa ke Pusat Laporaterium di Palembang,” ungkapnya.

Dia mengatakan, pihaknya juga melakukan Olah TKP dan melakukan pendampingan kepada pihak BKSDA Provinsi dalam melakuakan Otopsi. Setelah melakukan Otopsi Bangkai akan di kubur agar tidak  sampai mengakibatkan penyebaran penyakit.

“Kami dan Polhut Seksi Wilayah melakukan Olah TKP sekaligus melakukan pendampingan kepada BKSDA mengotopsi untuk mengetahui penyebab kematian Satwa Langka tersebut,” ujar Herman.

Terpisah, Kapolres OKU Selatan, AKBP Ferry Harahap SIK melalui Kapolsek Mekakau Ilir, Ipda Wilson Sarlis, SH mengatakan pihaknya telah melakukan Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan mengumpulkan data–data yang diperlukan.

“Kita sudah menggelar Olah TKP dan mengumpulkan seluruh bukti-bukti, untuk bahan penyidikan. Termasuk saksi-saksi sudah diperiksa,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, belum dapat memastikan dugaan analisa kematian Gajah, lantaran masih menunggu hasil uji laboratorium yang dilakukan pihak BKSDA Sumel kini tengah melakukan Otopsi.

“Kita (Polsek Mekakau Ilir) masih menunggu hasil lab dari BKSDA perihal penyebap kematian Gajah, sedangkan dugaan pembunuhan yang dilakukan oknum warga masih dalam penyelidikan kita,” ujarnya.‎

Diberitakan sebelumnya, Seekor Gajah Sumatera ditemukan mati, diduga keracunan di areal perkebunan jagung warga di Dusun IV, Desa Kota Dalam, Kecamatan Mekakau Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Ahad (7/1) sekitar pukul 07.00 WIB.

Informasi berhasil dihimpun di lapangan, satwa dilindungi tersebut pertama kali ditemukan Jakpar dan istrinya Santi, pemilik kebun jagung ketika ingin pergi ke kebun dan melakukan aktivitas berkebun.

Sontak penemuan Gajah berkelamin‎ jantan mati dengan kondisi mengenaskan, di mana mulutnya mengeluarkan darah dan perut terlihat kembung, menggegerkan masyarakat setempat. Ratusan warga berdatang menyaksikan hewan sudah mulai sulit ditemui di Kabupaten OKU Selatan tersebut.

Mirisnya, gading Gajah jantan yang diperkirakan sudah berusia lima tahun tersebut sudah hilang tidak berhasil ditemukan, karena diduga sengaja dicuri.

Sebelum akhirnya ditemukan ada Gajah mati‎, warga sejumlah desa di Kecamatan Mekakau Ilir memang kerap diresahkan dengan kawanan Gajah yang masuk ke perkebunan warga. DRE

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *