full screen background image

Pedagang Ayam Dilarang Potong Sembarangan

MUARA ENIM, PE – Para pedagang ayam yang berjualan di Pasar Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Muara Enim dilarang melakukan pemotongan ayam atau hewan unggas lainnya di pasar secara sembarangan. Pemerintah Kabupaten Muara Enim kini mewajibkan para pedagang membangun Tempat Pemotongan Unggas (TPU) ‎sebagai tempat legal pemotongan.

Sebelumnya, lokasi pasar Tanjung Enim banyak mendapat keluhan masyarakat karena menyebarkan limbah atau bau tak sedap di sungai akibat dampak‎ dari aktivitas pedagang ayam yang berjualan di pasar tersebut.

Sehingga Pemkab Muara Enim melalui Dinas Peternakan dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) mengajak perwakilan para pedagang ayam Pasar Tanjung Enim duduk bersama yang digelar di Ruang Rapat Serasan, Kamis (18/1).

Dalam pertemuan yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah Muara Enim, H Hasanudin menyimpulkan para pedagang ayam di Pasar Tanjung Enim diwajibkan memotong ayam di lokasi TPU yang mereka buat dan tidak lagi memotong sembarangan di Pasar.

“Kesimpulannya para pedagang sudah tidak boleh lagi memotong unggas sembarangan di pasar, dan diwajibkan melakukan pemotongan hanya di TPU ataupun di rumah potong unggas (RPU) sebagai tempat legal,”kata pihak Dinas Peternakan Kabupaten Muara Enim, Drh Tapip disela rapat.

Menurutnya, solusi agar dilakukan pemotongan di TPU merupakan keinginan pedagang. Sebelumnya, pihaknya menawarkan agar pedagang melakukan pemotongan hewan di Rumah Potong Unggas (RPU) yang telah dibangun diwilayah Kecamatan Lawang Kidul.

‎”Namun keberadaan RPU masih jarang dimanfaatkan pedagang. Mereka beralasan melakukan pemotongan di RPU sulit dilakukan pedagang kecil. Sebab jumlah ayam yang dipotong tak banyak paling 5 sampai 10 ekor, sehingga mereka banyak memilih memotong diluar,” katanya.

Padahal, dia menambahkan RPU diwilayang Lawang Kidul memiliki fasilitas cukup baik dengan kapasitas pemotongan 500-600 ekor perhari. Bahkan ditahun 2019 mendatang, lokasi RPU juga diusulkan ditambah ruang pendinginan (cold storage) untuk menyimpan atau menjaga kesegaran unggas yang dipotong.

Untuk itu, para pedagang lanjutnya, diminta supaya segera mengurus perizinan untuk membangun TPU di lokasi pasar tempat mereka berjualan masing-masing. Izin akan diperoleh bila TPU yang mereka bangun ‎sesuai dengan standar dan rekomendasi Dinas Peternakan.

‎”‎TPU harus memenuhi standar dan tak asal, seperti ada bak sampah untuk bulu unggas, bak untuk menampung darah bekas pemotongan dan sebagainya, perlu diingatkan juga darah bekas pemotongan wajib diendapkan dulu (beku) sebelumnya dibuang di tempat sampah disediakan,” katanya.

Sementara itu Kepala Disperindag Muara Enim, Syarfudin menambahkan, anjuran para pedagang ayam membuat TPU untuk pemotongan legal sesuai dengan konsep pasar sehat yang ramah bagi pedagang maupun pembeli.

‎‎”‎Maka diimbau para pedagang ayam agar tidak memotong dan membului ayam di dalam pasar dan wajib hanya dilakukan di TPU ataupu RPU,‎ Mengingat peran pasar tradisional dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sangat penting tentu kita tidak ingin pasar jadi sarang penyebaran dan penularan penyakit  yang ujung membuat para pedagang dan pembali tak nyaman bertransaksi di pasar,” tandasnya. AFU

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

diyarbakır escort mersin escort istanbul escort