full screen background image

Oknum Bindes Diduga “Mainkan” Klaim Asuransi

BATURAJA. PE -Dugaan modus memanfaatkan klaim layanan asuransi hanya untuk mendapatkan “keuntungan” semata oleh oknum petugas asuransi (agen asuransi, red), diduga terus terjadi termasuk di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).

Seperti disampaikan oleh seorang ibu rumah tangga (IRT), bernama Murniati (43), warga Transbatumarta Unit I, Kecamatan Lubukraja yang menyebutkan kalau dirinya diduga telah dimanfaatkan oleh seorang oknum bidan desa berinisial HD yang sekaligus berprofesi sebagai agen asuransi ternama.

Dimana, dari pengakuannya kepada awak media, diduga modus operandi yang dilakukan HD mengajak dan menawarkan Murniati untuk dibantu dan dimasukan kedalam polis asuransinya. Dengan iming-iming jika dirinya sakit, maka akan ditanggung semuanya oleh pihak asuransi yang diklaim melalui transfer rekening. HD pun menawarkan polis asuransi secara gratis kepada Murniati.

Karena merasa manfaat asuransi yang ditawarkan gratis dan dapat dimanfatkan dirinya nanti jika mengalami sakit. Lalu, menurut Murniati, dirinya pun menerima ajakan menjadi nasabah asuransi yang ditanggung oleh HD.

“Awalnya itu saya diajak jadi nasabah asuransi itu sekitaran Juli 2017 lalu. Dia menawarkan kepada saya untuk menjadi nasabah asuransi. Saat itu dia bilang (HD, red), nanti kalau saya sakit, semua biaya sakit akan ditanggung oleh pihak asuransi. Karena saya pikir bermanfaat bagi saya, saya pun setuju dan menerima ajakan dia untuk dimasukan menjadi nasabah,” terang Murniati, saat dibincangi awak media di rumahnya.

Namun pada kenyataannya, sambung Murniati pada sekitaran November 2017 lalu saat itu dirinya sedang santai di rumahnya. Lalu, dirinya ditelpon HD dan memintanya untuk berpura-pura sakit perut agar bisa dirawat inap di rumah sakit. Karena merasa tidak enak hati, sambung Murniati dirinya pun akhirnya menuruti permintaan HDA yang berpura-pura sakit.

“Dia (HD, red) tidak kesini tapi menghubungi saya melalui hp. Terus saya dan anak saya Sinta, disuruh ke rumahnya lalu langsung diajak ke sebuah Klinik di Baturaja. Sesampai di klinik saya dan anak saya diminta bilang saja sakit perut. Setelah diperiksa lalu kami disuruh rawat inap selama dua hari,” papar Murniati.

Setelah dirawat inap dua hari, lanjut Murniati dia dan anaknya setelah diperiksa dokter diperbolehkan pulang. Saat hendak pulang, Murniati mengaku diberikan uang oleh HDA sebesar Rp 1 juta yang disebut HDA sebagai uang saku. Setelah kejadian tersebut tambah Murniati, suaminya Dodo (51) langsung memarahi dirinya, karena suami saya tidak terima saya diminta berpura-pura sakit padahal saya memang tidak sakit alias sehat.

“Saya saat itu sama sekal tidak sakit. Ya, pada awalnya, saya menyangka kegunaan dia menawarkan jadi nasabah agar pada saat saya sakit dapat dibantu biaya berobatnya oleh asuransi. Tapi ini kan saya justru diminta pada saat sedang sehat,” sesalnya.

Sementara, bidan HD saat dikonfirmasi, Palembang Ekspres kemarin (8/2), soal ini langsung membantah dan menyangkal apa yang disampaikan Murniati kepada awak media. Bahkan menurut dia, dirinya pun merasa tidak terima atas apa yang disampaikan Murniati yang diduga menuduhnya hanya memanfaatkan Murniati.

“Itu premi asuransi saya yang bayar dia (Murniati) hanya terima gratis karena saya niatnya mau membantu dia. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, dia tidak terima kasih sudah dibantu,” sangkalnya.

Disinggung dirinya sengaja meminta Murniati berpura-pura sakit agar mendapatkan klaim asuransi, HD pun kembali menyangkal seraya mengatakan. Menurut dia, justru Murniati sendiri yang menelpon dirinya seraya mengaku mengeluh sakit perut sehingga dia menyarankan untuk dirawat dan memanfaatkan jasa asuransi.

“Justru dia nelpon saya ngakunya perutnya mules. Nah langsung saya bilang, tante (Murniati, red) kan ada asuransi, coba manfaatkan saja kebutulan sedang sakit,” ungkap HD.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan OKU, Suharmasto saat dimintai tanggapannya soal adanya dugaan bidan desa (HD) yang berstatus sebagai PNS di salah satu Poskesdes di OKU yang diduga meminta seorang warga berpura-pura sakit hanya untuk kepentingan pribadi, mengaku belum mengetahui soal ini. Menurutnya, jika memang hal tersebut terjadi, warga yang bersangkutan diminta sebaiknya melaporkan langsung ke UPTD Puskesmas Tanjung Baru.

“Karena kami ada perpanjangan tangan. Nanti dari laporan yang disampaikan ke UPTD kecamatan, pihak UPTD kecamatan akan memanggil bidan atau oknum yang bersangkutan apakah memang menyalahi atau melanggar kode etik,” ujar Masto.

Ditambahkan Masto, selaku Dinas yang membawahi UPTD Puakesmas termasuk Poskesdes, dirinya sangat berterima kasih jika ada laporan masyarakat yang mengawasi soal kinerja jajarannya. “Kalau soal asuransi itu saya no coment karena bukan urusan dinas. Nah kalau mengenai tindakan menyuruh orang sakit, itu kita lihat dulu sesuai kode etik menyalahi atau tidak,” tegasnya. YEN

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *