Home Entertainment Film Wajib Nonton, Film ‘Terbang’ Tayang 19 April

Wajib Nonton, Film ‘Terbang’ Tayang 19 April

3

Pemain dan Kru Film Kunjungi Palembang Ekspres

PALEMBANG, PE – Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan Indonesia menjadi latar belakang cerita tentang keberagamaan suku bangsa di Indonesia yang diangkat dalam film Terbang: Menembus Langit.

Film inspiratif dengan latar belakang tahun 80-90an ini bercerita tentang kegigihan seseorang dari keluarga tidak mampu yang berjuang tidak kenal lelah dalam mencapai keberhasilan.

Banyak pengalaman dan cerita yang dibagikan Laura Basuki saat didapuk memerankan tokoh Candra, istri Onggy di film Terbang: Menembus Langit.

Salah satunya keteladanan seorang istri yakni Candra yang tetap setia mendampingi sang suami dalam keadaan apapun baik suka dan duka.

Candra ini seorang istri yang patut diteladani karena dia setia dengan suaminya, dan dari film ini membuktikan jika kita percaya dengan pasangan maka apapun masalahnya akan bisa dilalui,” ungkap Laura kepada sejumlah wartawan saat berkunjung ke Graha Pena Palembang Ekspres, Sabtu (17/3).

Kendati ibu cantik ini harus rela berjauhan untuk sementara waktu dengan anak semata wayang yang masih membutuhkan ASI namun dia mampu menjalani setiap adegan secara professional.

Laura sendiri mengaku cukup tertantang dengan tokoh yang diperankannya. Pasalnya cerita ini diangkat dari kisah nyata sehingga dirinya melakukan observasi dengan mengobrol langsung dengan tokoh asli.

“Saya juga menggali informasi agar bisa memerankan tokoh yang saya perankan, salah satunya juga mengobrol dengan tokoh asli Onggy meskipun melalui telepon,” bebernya.

Perempuan kelahiran 9 Januari 1988 ini mengaku juga memiliki adegan yang disukainya yakni saat di salon. Di adegan ini diceritakan jika Candra bekerja di salon.

Laura yang sudah pernah beberapa kali datang ke Palembang ini mengaku Palembang menjadi salah satu kota favoritnya.

“Selalu senang bisa datang ke sini (Palembang) apalagi pempeknya juara, orang-orangnya juga ramah dan baik, jadi selalu menunggu kapan bisa datang lagi ke Palembang,” jelas dia.

Bahkan Palembang dinilainya mampu menjadi tuan rumah yang baik selama perhelatan Asian Games pada Agustus 2018, dan berharap event akbar tersebut bisa berjalan lancar.

Pemeran utama, Dion Wiyoko mengakui, dalam memerankan Onggy di film ini dirinya harus keluar dari zona nyamannya. Sukses tidaknya akting di film ini, Dion menyerahkan penilaiannya kepada penonton.

“Saya pribadi belum puas dari segi akting, saya masih butuh banyak belajar,” tutur dia.

Pihaknya mengharapkan film Terbang: Menebus Langit akan banyak ditonton oleh masyarakat Indonesia yang akan diputar perdana di 19 April mendatang.

Perankan Aling, keponakan Onggy, dara cantik berdarah asli Palembang, Dinda Hauw ikut adil dalam film Terbang: Menembus Langit yang akan tayang perdana di bioskop secara Nasional pada 19 April mendatang.

Menurut perempuan kelahiran Palembang, 14 November 1996 ini mengenai film yang dibintanginya tersebut merupakan film yang memberikan inspirasi kepada pasangan yang sudah berumah tangga.

Pasalnya film ini merupakan film inspiratif dengan latar Indonesia tahun 1980 hingga 1990-an, yang menceritakan tentang kegigihan seorang dari keluarga tidak mampu yang berjuang tidak kenal lelah dalam mencapai keberhasilan.

“Dalam film ini saya tidak terlalu banyak adegan tapi saya memberikan yang optimal dalam peran saya yang didapat,” ungkap Dinda yang mengawali kariernya tahun 2007.

Dia bersyukur tidak mengalami kesulitan selama proses syuting film berlangsung. Menurut Dinda, kerjasama tim yang lebih diutamakan menjadikan suasana syuting terasa menyenangkan.

Selain itu, yang membuat dirinya bangga lagi, film tersebut sangat ditunggu-tunggu di Palembang. Hal tersebut terlihat dari kunjungan pemain dan kru ke Palembang untuk nonton bareng film Terbang: Menebus Langit bersama warga Palembang.

“Saya sangat senang bisa pulang ke Palembang, apalagi film yang saya bintangi direspon posotif oleh warga Palembang, saya yakin film ini akan banyak warga Palembang akan menontonnya karena ada hal positif dan pesan yang disampaikan di dalam film tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Produser Terbang: Menembus Langit, Susanti Dewi menceritakan, film ini merupakan biopik dari sosok Onggy Hianata yang mengambil setting tahun 1980-an hingga akhir 1990-an.

Menurut Dewi, tantangan produksi film ini adalah merekonstruksi kondisi Kota Tarakan untuk digunakan sebagai tempat shooting.

“Tadinya harapan kita Kota Tarakan masih banyak gedung tua, tapi ternyata sudah banyak yang dipugar. Akhirnya kita bertanya ke pemerintah daerah setempat, gedung mana yang masih asli dan bisa dipakai. Soal alat transportasi jadul, kita minta bantuan ke polisi di Tarakan. Jadi sebelum shooting dilakukan, saya dan Fajar, sutradara serta beberapa kru harus dua kali bolak-balik ke Tarakan untuk mencari kebutuhan setting lokasi yang dibutuhkan,” jelas Dewi.

Dewi menerangkan, film ini mengambil tiga lokasi shooting yaitu Tarakan, Surabaya dan sangat sedikit scene di Jakarta. Diakuinya, dalam shooting film ini ada pengalaman baru yang dirasakan para pemain maupun kru dan rencananya film ini akan rilis di bioskop pada 19 April 2018.

Menurut dia, Kota Tarakan belum pernah ada shooting film apapun di sana. Sehingga, antusiasme masyarakatnya begitu besar.

“Demi Istri Production sudah sering shooting di beberapa daerah Indonesia bahkan luar negeri. Namun kali ini animo masyarakat begitu besar. Mereka ikuti update shooting setiap harinya di lokasi. Memang dalam proses shooting kita butuh hening, tidak ramai, tapi (antusiasme) masyarakat itu tidak bisa kita bendung,” akunya.

Di tempat yang sama, Sutradara, Fajar Nugros mengatakan, dibutuhkan waktu hingga 1 tahun mengerjakan film ini. Waktu yang paling lama adalah penulisan skenario yang digarap langsung Fajar yaitu 6 bulan. Sedangkan shooting selesai dalam waktu 2 bulan, dan 4 bulan untuk post production.

“Lama di penulisan skenario karena saya ingin membuat jalan cerita yang benar-benar kuat dan menginspirasi penonton. Selain itu, film ini kan periodik sehingga saya harus menggali lagi bahasa, gesture atau apapun yang hit sesuai timeline. Sebab penonton film di bioskop bukan ingin diceramahi tapi ingin hiburan. Makanya saya berusaha menyelipkan message yang ingin disampaikan dengan treatment-treatment khusus agar film ini tetap bisa jadi hiburan,” tuturnya.

Lanjut Fajar, dalam film ini mengangkat kisah nyata Onggy Hianata yaitu orang Indonesia keturunan Tionghoa di Kota Tarakan, Kalimantan Utara.

Fajar menggambarkan secara apik perjuangan hidup Onggy yang jatuh bangun dalam berusaha menafkahi keluarga hingga akhirnya meraih kesuksesan.

Tidak hanya itu, di balik kesuksesan Onggy, ada pula Candra, istri Onggy, yang selalu setia menemani sang suami di kala susah dan senang.

“Ini bisa cerita siapa saja. Indonesia butuh diingatkan lagi bahwa ini negeri impian. Kalau mau kerja keras, siapa saja bisa jadi apa yang mereka inginkan. Orang Indonesia butuh kisah nyata, dan ini contoh nyata orang Indonesia keturunan Tionghoa bisa sukses dengan kerja keras,” terangnya.

Bahkan film ini juga bisa menjadi film keluarga, orang tua bisa menceritakan kejadian nyata tersebut kepada anak-anak, Fajar berharap film ini mampu diterima baik oleh penonton. KUR/LA

 

loading...

3 COMMENTS

    • Patut untuk di tonton karena kota Tarakan tempat masa kecilku yg berbilang kaum aku bisa berbahasa Chungkokden, tidung dan dayak banyak teman2 yg sukses baik di Tarakan dan bahkan di kuar negri.

  1. Patut untuk di tonton karena kota Tarakan tempat masa kecilku yg berbilang kaum aku bisa berbahasa Chungkokden, tidung dan dayak banyak teman2 yg sukses baik di Tarakan dan bahkan di kuar negri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here