Home Sumsel Pagaralam Jelang Ramadan, Pasar Masih Lesu

Jelang Ramadan, Pasar Masih Lesu

0

PAGARALAM. PE – Kian mendekati bulan suci Ramadan, pergerakan ekonomi di Kota Pagaralam masih terlihat lesu. Aktivitas sejumlah pasar di Pagaralam masih belum menampakkan gairah yang berarti.

Kartini, seorang pedagang sembako di Pasar Rakyat Nendagung mengakui meski bulan puasa sudah di depan mata pembeli sepertinya belum terlihat beraktivitas.

“Belum terlihat persiapan pembeli menyambut puasa. Pasar masih sepi saja. Selama belum musim (kopi,red) sepertinya kondisinya akan terus seperti ini,” ucapnya.

Tidak berbeda jauh dengan para pedagang di Pasar Dempo Permai, Kota Pagaralam. Para pedagang di sana bahkan ada yang istirahat terlebih dahulu berjualan.

“Istirahat dulu. Nanti kalau sudah masuk bulan puasa atau dekat lebaran baru akan buka lagi,” cetus Eli, pedagang pakaian.

Menurutnya, saat ini belum tepat berdagang pakaian, tetapi seperti kebiasaan tahun-tahun sebelumnya, pembeli akan mulai ramai memburu pakaian pada minggu ketiga puasa atau sekitar seminggu sebelum lebaran.

Pengamat Budaya Besemah, Tumenggung Citra Mirwan mengatakan kebiasaan orang-orang Besemah berbelanja besar-besaran biasanya pada saat musim panen kopi. Kalau saat menjelang lebaran panen kopi belum tiba, meskipun ada pembeli, para pedagang di pasar tidak akan terlalu mendapatkan keuntungan.

“Tapi kalau musim panen kopi bersamaan waktunya dengan bulan puasa dan lebaran. Para pedagang meraup keuntungan yang tidak sedikit,” ungkapnya.

Hal itu juga karena ada kebiasaan yang sudah membudaya dan susah dihilangkan yaitu belanja habis-habisan seusai panen tanpa memikirkan persiapan bulan-bulan berikutnya.

“Jor-joran istilah yang sering dipakai orang sekarang. Tetapi, setelah itu sepanjang tahun kehidupan akan sulit lagi. Begitulah yang terjadi berulang-ulang,” jelasnya.

Semenjak Pagaralam menjadi Kota otonom, memang ada sedikit perubahan pada aktivitas pasar. Pedagang tidak serta merta lagi tergantung pada panen kopi. Adanya pertumbuhan yang signifikan pada sejumlah sektor terutama pertambahan pegawai baik negeri maupun pegawai swasta serta pekerja musiman yang keluar masuk Pagaralam, pasar tetap bisa beraktivitas.

“Tetapi karena mayoritas warga Pagaralam adalah petani, pengaruh musim sepi dan musim panen tetap terasa di Pagaralam,” ucap dia pula.

Serupa dengan dikemukakan seorang aktivis Kota Pagaralam, Feriadi. Menurutnya, pola pikir petani yang hanya bisa menikmati paling lama tiga bulan dari masa panen kopi, masih saja terjadi.

“Itu juga karena saat ini kopi sudah tidak begitu banyak seperti dulu. Selain itu panen kopi hanya setahun sekali,” katanya. (Koe)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here