Home Headline News Kami Bangga Dia Rela Korbankan Nyawa untuk Tugas Negara

Kami Bangga Dia Rela Korbankan Nyawa untuk Tugas Negara

0
Prosesi pemakaman Praka Nasri di tanah kelahiran, Desa Kota Daro 1, Rantau Panjang, OI. Insert: Praka Nasri (semasa hidup) bersama istri tercinta

KEPERGIAN Nasri, anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) berpangkat Prajurit Kepala (Praka) untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan di El Geneina, Darfur, wilayah Sudan Barat, Selasa (3/7) lalu, meninggalkan duka mendalam bagi korps loreng-loreng, terutama keluarga besar yang ditinggalkan. Tak terkecuali istrinya yang tengah berbadan dua dan seorang anak balita, serta ibu tercinta.

M WIJDAN – Indralaya

Firasat kurang mengenakkan sempat menghantui orang tua mendiang Praka Nasri. Saat dibincangi di kediamannya usai upacara pemakaman Praka Nasri di tanah kelahirannya, Sabtu (14/7), sang ibu almarhum Nasri, Zarwiyah menuturkan, sebelum anaknya gugur dia juga mendapatkan mimpi seperti gigi geraham bagian atasnya patah sebelum musibah tersebut terjadi.

“Tidak lama dari mimpi itu, pada 3 Juli 2018 sekitar pukul 18.30 WIB, kami mendapatkan kabar dari istri Nasri bahwa Nasri telah meninggal saat pulang melakukan monitor di Sudan, Afrika menggunakan mobil jenis Amfibi,” tuturnya.

Praka Nasri sendiri adalah anggota Pasukan Penjaga Perdamaian Dunia PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) yang berasal dari Dusun 2, Desa Kota Daro 1, Kecamatan Rantau Panjang, Kabupaten Ogan Ilir (OI), gugur dalam menjalankan tugas negara di Sudan, Afrika.

Praka Nasri merupakan anak kelima dari lima saudara, dari pasangan suami istri, Bahri (60) dan Zarwiyah (58). Selain itu, dia juga meninggalkan seorang istri bernama Liliana Anggraini (30), Bidan di salah satu Puskesmas di OI yang kini masih hamil dengan usia kandungan baru 4 bulan dan seorang anak berusia 3 tahun.

Perjalanan Praka Nasri untuk menjadi anggota Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) tidaklah mudah. Dia harus menjalankan tahapan-tahapan untuk dapat terpilih menjadi Anggota Penjaga Perdamaian Dunia PBB. Nasri menjadi seorang TNI sudah 10 tahun dan pernah ditugaskan di Papua beberapa bulan dan barulah ditugaskan di Sudan, Afrika yang mana ditempatkan saat tengah mengalami konflik antar saudara.

“Iya, anak saya (Nasri) sempat menelepon saat menjelang lebaran sambil meminta maaf kepada saya seperti bahwa dia akan pergi untuk selama-lamanya,” ujar Zarwiyah tak mampu membendung air matanya.

Di sela isak tangis Zarwiyah, kakak pertama Nasri bernama Rizal (37) menyela. Dia mengungkapkan, mendiang adik bungsunya itu sempat mengunggah video terakhirnya di Akun Facebook pribadinya yang mana terlihat video berdurasi tidak kurang dari 2 menit ini saat Nasri bersama anak-anak Sudan tengah bermain dengan melambaikan tangan.

“Ya, dia (Nasri) sempat mengunggah video bersama anak-anak di sana di akun pribadinya dengan melambaikan tangan seolah-olah di sana seperti tidak ada konflik dan aman-aman saja,” tutur Rizal.

Masih kata Rizal dari kejadian tersebut bahwa Nasri gugur dikarenakan kecelakaan tunggal dari keterangan Kolenel Inf Adrian, bukan karena terkena bom. “Tetapi kami keluarga Nasri sangat bangga dengan adik kami ini rela mengorbankan nyawanya untuk tugas negara, artinya Nasri gugur dengan penuh kehormatan yang dia sandang sebagai prajurit TNI dalam menjaga kedamaian dunia ini,” ulasnya.

Lebih jauh dikatakannya, saat jenazah Nasri tiba di rumah mereka, komandan adiknya, Kolonel Adrian mengumumkan kenaikan pangkat Praka Nasri yang sebelumnya berpangkat Praka menjadi Kopral Kedua (Kopda) saat di pemakaman.

“Kolenel Adrian juga mengatakan kepada kami secara lisan kalau ada anak dari Nasri ini ingin menjadi TNI seperti ayahnya, silakan didaftarkan dan akan dibebaskan secara administrasi sampai dia jadi anggota TNI,” tukasnya. (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here