Home Palembang Kopi Sumsel Perlu Merek Pemersatu

Kopi Sumsel Perlu Merek Pemersatu

0

PALEMBANG, PE – Sumatera Selatan memiliki kebun kopi terluas di Indonesia dengan 250 ribu hektar di enam kabupaten. Namun mirisnya, kopi asal provinsi ini sama sekali tak dikenal publik lantaran banyaknya merek. Perlu ada merek pemersatu agar pasar tak bingung.

Hal itu dikatakan Ketua Dewan Kopi Sumsel Zain Ismed di sela acara Sriwijaya Coffee and Coolinary Fest di Halaman Museum Tekstil Kambang Iwak, Sabtu (26/10).

“Di kita ini ada Kopi Lahat, Kopi Pagaralam, Empatlawang, Semendo, dan OKU Selatan. Kopi Sumsel yang mana? Di Aceh, ada tiga kabupatennya yang penghasil kopi. Tapi nama mereknya cuma satu, Kopi Gayo. Kenapa kita tidak belajar dari situ,” ucapnya.

Dikatakan dia, kopi Sumsel ini hanya dikenal di level lokal saja. Itu pun tak banyak orang yang tahu.

“Orang hanya kenal Kopi Semendo, Kopi Pagaralam. Sebetulnya kebun terluas itu di OKU Selatan. Apa pernah Wong Sumsel mendengar Kopi OKU Selatan? Tidak kan. Itu karena tidak punya brand,” ucapnya.

Makanya, lanjut dia, masyarakat perlu disadarkan terkait branding ini. Terlebih konsumsi kopi di level nasional sangat menjanjikan.

“Di level Asia Tenggara, kita ini penikmat kopi terbesar. Besarannya sekitar 60 persen,” ujarnya.

Lantaran itulah, Dewan Kopi Sumsel menyarankan Pemerintah Provinsi untuk membuat merek pemersatu buat kopi Sumsel agar pasar tidak bingung.

“Persaingan global sekarang luar biasa. Pernah dengar kabar bahwa kopi Gayo mengandung pestisida. Itu isu yang diembuskan negara lain. Ternyata setelah isu itu berembus, kopi Vietnam masuk ke kita,” ucapnya.

Bicara soal persaingan bisnis di bidang kopi, menurut dia, negara penghasil kopi tidaklah banyak, yakni Brasil, Kolombia, Vietnam, dan Indonesia di posisi empat besar.

“Kita masih bisa mengejar Vietnam yang sekarang di posisi dua besar. Vietnam produktivitasnya tinggi. Kita cuma 0,6 ton pertahun per hektar. Vietnam sudah 3-4 ton. Karena mereka produktivitasnya tinggi bisa jual dengan harga lebih murah dari kita. Kalah sainglah kita,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, promosi kopi harus lebih digiatkan. Sebaiknya oleh-oleh Sumsel itu masukkan juga kopi, bukan hanya pempek dan turunannya.

“Setiap oleh-oleh seharusnya ada kopi lokal. Bukan kewajiban. Kita mengimbau pengusaha oleh-oleh,” tukasnya.

Ia mengatakan, kebingungan pasar lantaran banyaknya merek kopi Sumsel telah menggerus penjualan komoditas ini. Hal tersebut terlihat dari jumlah eskportir kopi yang terus mengalami penurunan. Dari 70 eksportir kopi, tinggal dua yang masih bertahan.

“Tahun lalu baru sekali aktivitas ekspor kopi Sumsel. Itu pun tidak banyak, hanya 21 ton. Dulu pasar kopi itu di Palembang. Sekarang beralih ke Lampung,” ucapnya.

Ia berharap makin banyak pengusaha di Sumsel yang berbisnis kopi lokal. Mata rantai kopi itu panjang. Mereka bisa berdagang di hulu dengan menjadi pengepul. Bisa pula di roasting (pemanggangan biji kopi mentah), atau bubuk kopi.

“Kita berharap makin banyak pengusaha bergerak di bidang kopi, terutama pengusaha kecil. Dengan begitu meningkatkan ekonomi daerah,” pungkasnya.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumsel, Aufa Syahrizal mengatakan, pihaknya akan menggelar lomba untuk merek dan logo kopi Sumsel.

“Kita akan lombakan ini, branded dan logo kopi Sumsel. Sehingga orang saat beli kopi langsung melekat di ingatannya ini kopi Sumsel,” ujarnya. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here