Home Ekonomi Ajak Perusahaan Keluarga dan BUMD ‘Go Public’

Ajak Perusahaan Keluarga dan BUMD ‘Go Public’

0
Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Kantor Regional 7 Sumatera Bagian Selatan Sabil memberikan paparan pada pada acara Go Public Workshop bertajuk ‘Go Public Solusi Masa Depan Perusahaan Keluarga dan BUMD’ di Hotel Exelton, Jalan Demang Lebar Daun, Selasa (26/11).

PALEMBANG.PE- Perusahaan keluarga dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Sumatera Selatan, ternyata banyak yang enggan mendaftarkan usahanya di pasar modal alias go public. Ini sangat disayangkan, mengingat hal itu perlu dilakukan untuk menjaga kesinambungan usaha.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Sumatera Selatan Sumarjono Saragih mengatakan, sangat minim perusahaan yang berdomisili di Sumsel, yang menjadi perusahaan terbuka (Tbk).

“Perusahaan yang kantornya di Sumsel yang jadi perusahaan terbuka baru satu. Ini ada Pak Jimi Hidayat, pimpinan PT Ginting Jaya Energi, Tbk, perusahan pertama yang berdomisili di Sumsel, yang sudah go public,” kata Sumarjono pada acara Go Public Workshop bertajuk ‘Go Public Solusi Masa Depan Perusahaan Keluarga dan BUMD’ di Hotel Exelton, Jalan Demang Lebar Daun, Selasa (26/11).

Kegiatan ini dihadiri Kepala Biro Ekonomi Pemprov Sumsel Aprian Joni yang mewakili Wakil Gubernur Sumatera Selatan H Mawardi Yahya, sekaligus yang membuka acara. Lalu hadir pula Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Kantor Regional 7 Sumatera Bagian Selatan Sabil, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2 PT Bursa Efek Indonesia Vera Florida, Kepala Divisi Jasa Penyedia Infrastruktur dan Investasi PT Kastudian Sentral Efek Indonesia Darma Setiadi, Direktur Investment Banking PT Bina Artha Sekuritas Julius Sihombing, Direktur Utama PT Ginting Jaya Energi, Tbk Jimmi Hidayat, serta puluhan peserta, yang merupakan pimpinan perusahaan di Sumsel.

Dikatakan Sumarjono, perusahaan harus go public, karena ada sejumlah alasan. Ia mengambil contoh satu perusahaan yang berkeinginan jadi perusahaan terbuka, tapi kemudian tidak jadi.

“Pemilik dan keluarga tidak sepakat atau ada masalah lain. Tanpa diduga, si pendiri ini meninggal. Apa yang terjadi? Perusahaan itu bangkrut,” ucapnya.

Oleh karena itu ia berharap, para hadirin jangan sampai mengambil keputusan yang salah terkait masa depan perusahaannya.

Menurutnya, banyak peluang untuk masuk pasar modal. Dan manfaat yang didapat pun banyak, yakni tambahan modal dan talenta. “Kita berebut talenta-talenta terbaik dari publik untuk masuk ke bisnis kita,” ujarnya.

Tapi, kata dia, investor akan menarik diri apabila perusahaan yang dituju itu perusahaan keluarga yang tertutup. Imbasnya, talenta yang seharusnya jadi modal pemilik mengembangkan usahanya, tidak bisa didapatkan.

“Kita tidak mau generasi berikutnya, meratapi kenapa kakek saya tidak melakukan sesuatu untuk membangun pondasi bisnis yang dia warisi. Kita mau, generasi kita bangga bahwa para pendiri perusahaan telah mengambil keputusan yang benar. Dan hari ini menentukan keputusan itu. Go public, salah satunya, untuk menjamin keberlangsungan perusahaan,” tuturnya.

Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Kantor Regional 7 Sumatera Bagian Selatan, Sabil, mengatakan, secara nasional baru ada 662 perusahaan yang go public.

“Kalau dilihat tren pertumbuhan, ada sedikit tumbuh sebesar 6,94 persen. Di tahun 2019 ada 619. Tumbuh 70 perusahaan IPO (Initial Public Offering/penawaran saham perdana). Termasuk PT Ginting Jaya Energi, yang jadi satu-satunya perusahaan terbuka di Sumsel,” tukasnya.

Dengan seringnya kegiatan seperti ini, ia berharap semakin banyak perusahaan yang tertarik melakukan IPO. Sebab ada beberapa manfaat suatu perusahaan tercatat di bursa efek.

“Penerapan good corporate governance itu akan jalan. Karena peraturan pasar modal itu mewajibkan seluruh perusahaan yang telah go public untuk melakukan tata kelola perusahaan yang terstandar internasional,” tukasnya. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here