Home Sejarah SMB II, Raffles, dan Peristiwa “Palembang Massacre”

SMB II, Raffles, dan Peristiwa “Palembang Massacre”

0
Sketsa peristiwa loji Sungai Aur.
Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II

Oleh Dudy Oskandar
Jurnalis dan Pemerhati Sejarah

KETIKA Inggris menduduki Pulau Jawa pada tahun 1811, Thomas Stanford Raffles mengadakan pendekatan kepada raja-raja di Nusantara yang dianggapnya sangat berpengaruh di wilayah Nusantara. Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II dari Kesultanan Palembang Darussalam, salah satunya.

SMB II menurut Raffles dapat diandalkan dalam mempercepat jatuhnya Belanda sebelum serbuan besar Inggris terhadap pemerintahan Belanda-Prancis di Pulau Jawa.

Namun hubungan SMB II dan Raffles memburuk pasca kejadian yang terkenal di Eropa dengan istilah “Palembang Massacre”, Raffles akhirnya dipersalahkan atas kejadian tersebut.

Berita mengenai peristiwa “Palembang Massacre” tersebut membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sampai ke Batavia.

Jika Raffles mengalami kepanikan yang menciutkan keberanian ketika dia mendengar bahwa hal buruk terjadi di Palembang, dan dengan kalut mencari di antara tumpukan korespondensi lamanya, mencoba keras untuk mengingat apa sesungguhnya yang dia telah tulis kepada Sultan Badaruddin dari Malaka pada bulan-bulan yang lalu, dia tidak menunjukkan itu dalam Surat pertamanya kepada Minto (Gilbert Elliot-Murray-Kynynmound, 1st Earl of Minto atau Lord Minto (lahir di Edinburgh, 23 April 1751 – meninggal di Stevenage, Hertfordshire, 21 Juni 1814 pada umur 63 tahun).

Thomas Stanford Raffles

Lord Minto adalah seorang politikus dan diplomat Inggris. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur-Jenderal India dari tahun 1806 – 1813) mengenai permasalahan tersebut.

Sebelumnya Sultan Mahmud Badaruddin II khawatir akan diserang pasukan Inggris karena adanya orang Belanda dan orang asing lainnya di Palembang. Orang-orang Belanda kemudian dipindah lokasikan ke daerah lain yang belum tahu dimana lokasinya.

Dibawalah pasukan dan pegawai Belanda dan Prancis menggunakan perahu-perahu rombongan utusan Sultan dari Loji Sungai Aur.

Sesampai ditengah perjalanan di hilir Sungai Musi tepat pada tanggal 14 September 1811 rombongan perahu yang membawa sebanyak 87 orang rombongan Belanda dan Prancis berhenti, orang-orang Belanda kemudian melakukan perlawanan, dan terjadilah peristiwa penyembelihan massal terhadap orang-orang Belanda kemudian perahunya ditenggelamkan di hilir Sungai Musi atau tepatnya di Muara Sungsang yang kemudian dikenal dengan peristiwa “Palembang Massacre”.

Seminggu setelah peristiwa Palembang Massacre, Loji Sungai Aur di bumihanguskan dan diratakan dengan tanah.

Loji Sungai Aur lalu diratakan dengan tanah, bagian atas loji tersebut kemudian ditimbun dan ditanami dengan rerumputan dan tumbuhan lainnya, agar lokasi dan peristiwa tersebut tidak diketahui oleh Inggris dan Belanda.

Pada 13 Januari 1812, Raffles menulis mengenai berita yang dia dapat di tengah pejalanan pulang dari Yogyakarta:

“Tampak bahwa Sultan [Palembang], sebagaimana diharapkan, memperkenankan pabrik Belanda [pos dagang] untuk tetap ada hingga dia mendengar jatuhnya Jawa, dan seperti seorang penjahat (secara tak terduga) memerintahkan mereka pergi. Satu laporan, yang aku khawatirkan sangat benar, mengatakan bahwa dia [memperkenankan] mereka diculik dan dibunuh karena mereka tidak pernah mencapai pelabuhan Eropa.”

Kata “secara tak terduga” di dalam kurung itu merupakan usaha kecil yang dilakukan Raffles untuk melindungi dirinya. Tidak ada yang tak terduga mengenai penghuni permukiman

Orang Belanda yang diperintahkan pergi’ atau bahkan dibunuh, dua belas tahun lebih awal merupakan isi surat Raffles sendiri yang ditulis di Malaka yang telah berusaha keras membujuk Sultan Badaruddin untuk ‘mengusir Belanda dari Palembang.

Selama bulan-bulan yang sibuk di Malaka pada tahun sebelumnya, Raffles mempekerjakan sepasang agen pribumi untuk membawa pesan hilir mudik melewati Sungai Musi. Nama mereka Tunku Raden Sharif Mohamed dan Sayyid Abubakar Rumi,13 dan pada 10 Desember 1810, Raffles memulai korespondensi menghasut dengan usaha sengaja menakuti Sultan Badaruddin:

“Aku telah mendengar dengan sangat cemas tentang tibanya angkatan perang Belanda di muara Sungai Palembang, dan aku segera mengirimkan surat ini untuk melindungi Anda dari niat buruk Belanda, suatu bangsa yang berhasrat memperkaya diri dengan harta benda Yang Mulia, karena Belanda sudah melakukan hal tersebut dengan setiap Pangeran Timur yang memiliki hubungan dengannya .

Aku ingin menyarankan Yang Mulia untuk segera mengeluarkan mereka dari wilayah Anda, namun jika Yang Mulia memiliki alasan untuk tidak melakukannya dan berkeinginan bersahabat dan membantu Inggris aku menguasai banyak kapal perang, dan jika aku rasa perlu melakukannya, aku bisa menyingkirkan Belanda meski mereka berjumlah 10.000 “

Raffles mungkin tidak menghasut terjadi pembantaian yang disebut “Palembang Massacre” tersebut pada tahap itu, namun dia jelas menghasut kebencian.

Surat berikutnya yang Raffles kirim kepada Badaruddin menyatakan bahwa Belanda adalah “bangsa yang buruk”, dan bertanya-tanya mengapa Sultan masih memperkenankan mereka “menetap di Palembang”. Kemudian dia menyebut Belanda sebagai bangsa dengan “watak jahat, tidak setia, berjiwa tamak yang suka merampok”.

Balasan dari Sumatra Selatan tidak pernah seteratur atau seberlebihan surat-surat yang dikirim dari Malaka.

Mula-mula, Sultan Badaruddin tampaknya sedikit curiga akan status utusan Raffles (dan benar, Radén Mohamed dan Sayyid kemudian dituduh sebagai petualang yang tidak bisa dipercaya). Mereka jelas bukan wakil kerajaan yang resmi, dan meski Raffles membuat tentang kekuasaannya untuk mengenyahkan 10.000 orang, hanya ada sedikit bukti nyata kekuatan Inggris.

Sangat masuk akal bagi Palembang untuk membatasi pertaruhannya saat itu daripada mengambil risiko menghadapi kemurkaan Belanda seandainya janji Inggris terbukti tidak dipenuhi.

Namun selama bulan-bulan mendatang, ketika tahun 1810 berganti 1811 dan persiapan armada sedang dilakukan di India, surat-surat terus dikirim antara Malaka dan Palembang. Badaruddin menegaskan persahabatannya dengan Inggris dan ketidaksukaannya terhadap Belanda, namun Badaruddin masih cenderung mengulur-ulur waktu.

Badaruddin tampaknya juga menunjukkan percikan hati nurani yang merasa bersalah: Belanda dibiarkan masuk ke dalam kerajaan dengan ketentuan yang layak oleh leluhurnya, dan mereka membawa keuntungan tertentu untuk istana selama bertahun-tahun.

Namun, Raffles semakin giat dalam usahanya untuk membuat sejumlah rencana pasti dan menyingkirkan Belanda dari Palembang.

Pada Maret Raffles mengirimkan perjanjian sesungguhnya menyebrang Selat Malaka untuk ditandatangani Badaruddin.

Perjanjian tersebut penuh dengan kata-kata lebih kasar bagi Belanda, menyatakan bahwa sesudah penandatanganan perjanjian istana Palembang akan membatalkan seluruh perjanjian dan kesepakatan dengan Belanda, mendeklarasikan kemerdekaan total, dan kemudian menyetujui “Tidak akan pernah menerima kembali kedatangan Residen semacam itu. atau agen kekuasaan asing apa pun kecuali lnggris, yang akan memiliki kebebasan untuk mendirikan pabrik sebagaimana selanjutnya.”

”Isinya yang paling mendesak adalah klausul kedua yang menyatakan bahwa ‘Yang Mulia Sultan dengan ini menyetujui mengeluarkan dari wilayahnya Residen Belanda yang sekarang dan seluruh orang yang bertindak di bawah wewenang Pemerintah Belanda.”

Para ahli sejarah Belanda yang patriotik dan marah sudah sering membahas bagaimana frase ‘mengeluarkan dari wilayah“ disampaikan dalam versi Bahasa Melayu setempat yang dikirimkan kepadn Sultan Badaruddin.

Versi aslinya telah hilang, namun dalam salinan kasar yang kelak muncul kata-kata seperti “buang habiskan sekali-kali“. Terjadi debat yang tidak perlu akan bagaimana sesungguhnya menterjemahkan frase sangat sederhana itu yang sebagaian besar penutur bahasa Melayu atau Indonesia jelaskan hampir seperti ‘buang” [secara harfiah] dam “habiskan hingga tuntas” jelas mengancam, namun masih ambigu sebagai instruksi,

Para ahli sejarah penutur bahasa lnggris dari tim Raffles kemudian menganggap salinan kasar terjemahan perjanjian itu: tidak bisa di percaya meski di frase yang sangat serupa~penuh dengan “throwing out” (buang) dan ‘striking’ (serang)-muncul dalam naskah asli surat-surat Raffles berbahasa Melayu lain ke Palembang yang masih ada.

Semua itu adalah masalah yang cukup sederhana, dan bahkan jika bahasa Melayu Raffles tidak sebaik yang sering diklaim beberapa orang, dia masih mengert; intisarinya, dan tentu kesimpulannya, ketika terjemahan dari tulisan bahasa Inggrisnya dibacakan kepadanya.

Raffles juga melampirkan penjelasan isi perjanjiannya untuk Sultan Badaruddin, memberitahu Sultan bahwa kalau dia menghargai kemerdekaannya, dia harus mengenyahkan beban penjajah Belanda yang menekannya, tidak peduli seberapa ringannya-sebelum Inggris merampas Jawa. Bagaimana pun keadaan sebenarnya, orang Eropa menganggap Palembang sebagai jajahan Belanda Jawa; kalau Batavia jatuh, Palembang menjadi milik Inggris dan tidak akan ada ruang untuk negosiasi kembali dengan tuan yang baru.

Selain itu dari beberapa sumber jurnal asing mengatakan bahwa awal dari peristiwa ini merupakan provokasi Raffles, akan tetapi Raffles sendiri tidak mengakui dan sangat tidak menginginkan peristiwa Palembang Massacre 14 September 1811 tersebut terjadi.

Namun Raffles tetap terpojok dengan peristiwa loji Sungai Aur, tetapi masih berharap dapat berunding dengan SMB II dan mendapatkan Bangka sebagai kompensasi kepada Inggris.

Namun Harapan Raffles ini tentu saja ditolak SMB II. Akibatnya, Inggris mengirimkan armada perangnya di bawah pimpinan Gillespie dengan alasan menghukum SMB II.

Dalam sebuah pertempuran singkat, Palembang berhasil dikuasai dan SMB II menyingkir ke Muara Rawas, jauh di hulu Sungai Musi.

Setelah berhasil menduduki Palembang, Inggris merasa perlu mengangkat penguasa boneka yang baru. Setelah menandatangani perjanjian dengan syarat-syarat yang menguntungkan Inggris, tanggal 14 Mei 1812 Pangeran Adipati (adik kandung SMB II) diangkat menjadi sultan dengan gelar Ahmad Najamuddin II atau Husin Diauddin. Pulau Bangka berhasil dikuasai dan namanya diganti menjadi Duke of York’s Island.

Di Mentok, yang kemudian dinamakan Minto, ditempatkan Kapten Robert Meares dari kesatuan 17th Native Infantry of East India Company sebagai residen.

Meares berambisi menangkap SMB II yang telah membuat kubu di Muara Rawas. Pada 28 Agustus 1812 ia membawa pasukan dan persenjataan yang diangkut dengan perahu untuk menyerbu Muara Rawas. Dalam sebuah pertempuran di Bailangu, Meares tertembak dan akhirnya tewas setelah dibawa kembali ke Bangka. Kedudukannya digantikan oleh Mayor Robison.

Belajar dari pengalaman Meares, Robison mau berdamai dengan SMB II. Melalui serangkaian perundingan, SMB II kembali ke Palembang dan naik takhta kembali pada 13 Juli 1813 hingga dilengserkan kembali pada Agustus 1813. Sementara itu, Robison dipecat dan ditahan Raffles karena mandat yang diberikannya tidak sesuai.

Konvensi London 13 Agustus 1814 akhirnya membuat Inggris menyerahkan kembali kepada Belanda semua koloninya di seberang lautan sejak Januari 1803.

Kebijakan ini tidak menyenangkan Raffles karena harus menyerahkan Palembang kepada Belanda. Serah terima terjadi pada 19 Agustus 1816 setelah tertunda dua tahun, itu pun setelah Raffles digantikan oleh John Fendall. ***

Sumber :

1. Tim Hannigan 2012” Raffles And
British Invasion Of Java”

2. Pendidikansejarahunsri.blogspot.co.id

3. https://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Mahmud_Badaruddin_II

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here