Home Sejarah Dunia Perminyakan Palembang Era Kolonial Belanda hingga Pendudukan Jepang

Dunia Perminyakan Palembang Era Kolonial Belanda hingga Pendudukan Jepang

0
Kilang pengisian bahan bakar di Pladjoe
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis, Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

DI tahun 1900 terdapat tiga perusahaan perminyakan beroperasi di Palembang, mereka adalah Perusahaan Minyak Sumatra-Palembang (Sumpal), Perusahaan Minyak Muara Enim milik Prancis, dan Perusahaan Minyak Musi Ilir.

Sumpal segera melebur ke dalam Royal Dutch, dan Muara Enim Co dan Musi Ilir Co juga melebur ke dalam Royal Dutch, masing-masing pada tahun 1904 dan 1906.

Berdasarkan peleburan ini, Royal Dutch dan Shell mendirikan Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), perusahaan yang mengoperasikan adalah Royal Dutch Shell dan membuka sebuah kilang minyak di Plaju, di tepi Sungai Musi di Palembang pada tahun 1907.

Sementara BPM adalah satu-satunya perusahaan yang beroperasi di daerah ini sampai 1910-an, perusahaan-perusahaan minyak Amerika meluncurkan bisnis mereka di wilayah Palembang dari tahun 1920-an. Standard Oil of New Jersey mendirikan anak perusahaan, American Petroleum Company.

Belanda sempat mengeluarkan aturan yang membatasi kegiatan perusahaan asing, akhirnya American Petroleum Company mendirikan anak perusahaannya sendiri, Netherlands Colonial Oil Company dengan perusahaan bernama Nederlandche Koloniale Petroleum Maatschapij, (NKPM).

NKPM mulai membangun sendiri di daerah Sungai Gerong pada awal tahun 1920, dan menyelesaikan pembangunan jaringan pipa untuk mengirim 3.500 barel per hari dari ladang minyak mereka ke kilang di Sungai Gerong.

Kedua kompleks kilang itu seperti daerah kantong, pusat kota yang terpisah dengan rumah, rumah sakit, dan fasilitas budaya lainnya yang dibangun oleh Belanda dan Amerika.

Pada tahun 1933, Standard Oil menggabungkan holding NKPM ke dalam Standar Vacuum Company, sebuah perusahaan patungan baru, yang diganti namanya menjadi Standard Vacuum Petroleum Maatschappij (SVPM).

Caltex (anak perusahaan dari Standard Oil California and Texas Company) memperoleh konsesi eksplorasi ekstensif di Sumatra Tengah (Jambi) pada tahun 1931. Pada tahun 1938, produksi minyak mentah di Hindia Belanda mencapai 7.398.000 metrik ton, dan pangsa BPM mencapai tujuh puluh dua persen, sedangkan pangsa NKPM (StandardVacuum) adalah dua puluh delapan persen.

Daerah yang paling produktif dalam produksi minyak mentah adalah Kalimantan Timur hingga akhir 1930-an, tetapi sejak itu Palembang dan Jambi mengambil alih posisi tersebut.

Semua produksi minyak mentah di Hindia Belanda diproses ditujuh kilang saat itu, terutama di tiga kilang ekspor besar: pengilangan NKPM di Sungai Gerong, kilang BPM di Plaju, dan satu lagi di Balikpapan. Dengan demikian Palembang menguasai dua dari tiga kilang minyak terbesar di nusantara.

Kawasan Minyak Plaju dan Sungai Gerong ini tanggal 13 Februari 1942 menjadi objek pertempuran antara Jepang dengan Sekutu.

Pertempuran ini adalah bagian dari pertempuran di kawasan Pasifik pada Perang Dunia II atau perang Asia Pasifik.

Pertempuran Palembang ini di fokuskan pada Kilang minyak Shell di dekat Plaju (atau Pladjoe) dan Sungai Gerong yang dikuasai pasukan Jepang.

Dengan persediaan bahan bakar dan lapangan udara yang banyak, Palembang merupakan basis militer yang potensial baik untuk sekutu maupun Jepang.

Pertempuran tersebut menandakan keseriusan Jepang dalam merebut sumber-sumber minyak di wilayah Indonesia.

Serangan-serangan tersebut tidak membuat sekutu berhasil menguasai Kilang minyak Shell di dekat Plaju (atau Pladjoe) dan Sungai Gerong, namun baru di tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyatakan jika sudah menyerah pada pasukan Sekutu sesudah dua kota industri yang ada di Jepang yakni Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh Amerika Serikat.

Selama Perang Dunia II, Angkatan Darat Jepang mengendalikan bekas kilang minyak Royal Dutch Shell di Sumatra termasuk Pangkalan Brandan dan Pladjoe (Pladju) dan kilang Stanvac di Sungei (Soengai) Gerong.

Minyak yang dimurnikan di kilang kecil Pangkalan Brandan di Sumatra utara diangkut ke fasilitas pelabuhan di Pangkalan Susu terdekat dan dari sana langsung ke Singapura, Malaysia, dan lokasi lain di wilayah tersebut.

Pusat produksi minyak di Sumatera Selatan berada di Prabumulih, 43 mil dari Palembang di Sumatra Selatan, Sumatera Selatan, adalah kota terbesar kedua di Sumatera, setelah Medan. Minyak mentah diangkut melalui pipa ke kilang Pladjoe besar, beberapa mil di utara Palembang.

Palembang, yang terletak sekitar 50 mil ke daratan dari Selat Bangka, memiliki lokasi dua kilang minyak yang dibangun sekitar 4 mil di sisi Sungai Moesi.

Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij (NKPM), adalah kilang minyak standar milik Amerika dibangun di tepi anak sungai yang dikenal sebagai Sungai Komering.

Kilang Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), yang dimiliki oleh Royal Dutch Shell Oil, dibangun di dua instalasi yang terpisah, satu di sisi barat Sungai Komering di seberang NKPM dan yang lainnya di tepi Sungai Moesi.

Pada tanggal 15 Februari 1942, Belanda sempat menghancurkan sekitar 80 persen kilang NKPM Standard Oil, tetapi Resimen Parasut ke-2 Jepang berhasil menguasai kilang BPM di Pladjoe, walaupun sempat terbakar.

Jepang kemudian menamai Pladjoe sebagai “Kilang No. 1” dan dikelola oleh Nihon Sekiyu. Kilang ini mampu memproduksi 45.000 barel minyak per hari untuk spesialisasi produksi bensin penerbangan oktan tinggi.

Sedangkan, Stanvac adalah perusahaan patungan antara Jersey Standard (Esso) dan Socony-Vacuum (Mobil), juga mengoperasikan beberapa ladang minyak dan mengangkut minyak mentahnya ke kilang Sungei Gerong, di sebelah timur Kota Palembang.

Setelah Jepang menguasai Sungei Gerong, mereka menamainya “Kilang No. 2”. Kilang itu mampu memurnikan 45.000 barel minyak per hari dan dikelola oleh Mitsubishi Sekiyu.

Bersama dua kilang minyak ini merupakan kilang minyak dengan prododuksi terbesar di Asia Tenggara dan memiliki kapasitas tahunan yang dilaporkan 20.460.000 barel minyak mentah, dan mampu menghasilkan 78 persen bensin penerbangan oktan tinggi untuk pesawat terbang Jepang dan 22 persen bahan bakar minyak.

Tentara Jepang menggunakan sebagian besar kapal tanker milik Inggris dan Belanda yang berhasil di kuasai untuk mengangkut bahan bakar melintasi Sungai Musi (Moesi).

Sungai Musi menyusuri Sungai Ogan dan Komering dekat Palembang dengan kapal laut yang jaraknya sekitar 50 mil ke utara memasuki Selat Bangka.

Permintaan bahan bakar Jepang pada masa perang begitu besar sehingga hampir setiap hari perjalanan diperlukan untuk mengangkut minyak dari Sumatera ke Singapura untuk pengiriman ke Kekaisaran Jepang dan tujuan jauh lainnya.

Bahan bakar juga diangkut baik dalam jumlah besar atau dalam bentuk kotak (kaleng) ke lokasi yang lebih kecil dan lebih terpencil di dan sekitar Malaya dan bekas wilayah Hindia Belanda.

Asiatic Petroleum sendiri adalah anak perusahaan Royal Dutch Shell Oil, sebelumnya memiliki pusat penyimpanan di Pulau Bukum dan Pulau Sebarok dekat Singapura. Produk minyak olahan dibawa dari Sumatra dan disimpan di pusat penyimpanan yang di dekat Singapura. Perjalanan pulang pergi dari Palembang ke Singapura dan kembali, termasuk pemuatan dan pemakaian bahan bakar, rata-rata sekitar satu minggu, tetapi banyak perjalanan memakan waktu lebih lama, menunjukkan kemungkinan kesulitan pemuatan dan pembongkaran dan / atau masalah mesin kapal dan mungkin pendaratan. ***

Sumber
1 .Beritapagi.co.id, Dunia Perminyakan Palembang di Tahun 1900
2. Wikipedia
3. Triposo
4. Bob Hackett di http://www.combinedfleet.com
5. Vostok Foxtrot @VostokFoxtrot

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here