Home Sejarah Janji Damai Semu di Pinggir Sungai Lematang, Lahat

Janji Damai Semu di Pinggir Sungai Lematang, Lahat

0
Pasca perjanjian Renville, terjadi pertemuan TNI dan militer Belanda di Lahat, 27 Januari 1948, tepatnya di pinggir Sungai Lematang. Pertemuan tersebut digelar dalam rangka menindaklanjuti perjanjian Reville. (Sumber foto: Het Nationaal Archief).
Dudy Oskandar.

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis, Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

PASCA perjanjian Renville, terjadi pertemuan TNI dan militer Belanda di Lahat, 27 Januari 1948, tepatnya di pinggir Sungai Lematang. Pertemuan tersebut digelar dalam rangka menindaklanjuti perjanjian Renville .

Dalam pertemuan tersebut hadir : (tampak foto)
– Kolonel F. Mollinger (Belanda, duduk di tengah)
– Kolonel Kasim Hassan (TNI, duduk di sebelah kanan)
– Kolonel Simbolon (TNI, duduk di sebelah kiri, merokok)
– Kapten J.A. Mac Naill (AS, pengawas, duduk di ujung kanan)
– Kapten Nursyirwan (TNI, berdiri ketiga dari kanan)
– Kapten Rasyidi (TNI, berdiri kedua dari kanan, brewok)
– Letnan Bangun (TNI, berdiri paling kanan)
– Kapten J. Rousset (Perancis, pengawas, duduk di ujung kiri bercelana pendek).

Dalam pertemuan tersebut perwakilan TNI dan militer Belanda menandatangani sebuah perjanjian, dengan diawasi pengamat militer dari AS dan Perancis.

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari hasil perundingan Renville terutama dalam bentuk penentuan garis demarkasi (garis Van Mook) status quo berbatasan, antara kekuasaan Belanda dan TNI yang masih berada dalam daerah pendudukan Belanda.

Pemerintah Republik Indonesia menyetujui bujukan KTN untuk menerima ‘’garis Van Mook’’ dan perjanjian gencatan senjata yang disetujui oleh Indonesia dan Belanda, ditandatangani di atas kapal ‘’Renville’’ pada tanggal 17 Januari 1948 (K.M.L Tobing, 1986:3).

Dengan adanya perjanjian Renville ini, Indonesia mengharapkan untuk mendapatkan solusi dari konflik dengan Belanda.

Sayangnya, perjanjian ini malah berbalik merugikan pihak Indonesia. Perjanjian Renville sah ditandatangani oleh pihak-pihak terkait pada 17 Januari tahun 1948.

Dampak perjanjian Renville yang harus ditanggung oleh Indonesia salah satunya adalah terjadinya perubahan bentuk negara Indonesia. Semula, Indonesia berdiri sebagai NKRI dan dipimpin oleh Presiden. Semenjak disahkan perjanjian Renville, Indonesia harus berpasrah mengubah diri menjadi RIS. Ini merupakan salah satu permintaan Belanda yang harus diikuti oleh Indonesia.

Selain bentuk negara, Indonesia lagi-lagi harus mengalah dengan mengubah bentuk konstitusinya. Bermula dari sistem Presidensial, Indonesia berubah menjadi sistem Parlementer. Posisi Perdana Menteri saat itu dipegang oleh Amir Syariffudin yang membentuk kabinet baru. Sayangnya, kabinet baru ini dianggap lebih memihak Belanda, dari pada rakyat Indonesia sendiri.

Kabinet yang baru berdiri itu menuai protes keras dari berbagai pihak. Pada akhir Januari 1948 Amir Syariffudin menyerahkan kekuasaan kembali pada Presiden Indonesia karena dianggap menyebabkan disintegrasi bangsa.

Seakan tidak cukup sampai di sana, Bangsa Indonesia juga harus mengalami pengurangan wilayah kekuasaan.

Belanda pun seakan tidak pernah puas dengan hasil yang telah didapatkan. Berbagai macam blokade dilancarkan oleh pihak Belanda termasuk pada bidang perekonomian. Menguasai wilayah Jawa Barat ternyata memberikan banyak keuntungan bagi Belanda. Blokade dilakukan agar rakyat Indonesia makin menderita di bawah kekuaasan Belanda.

Indonesia yang lelah berada di bawah tekanan Belanda, akhirnya menyusupkan pasukan ke wilayah kekuasaan Belanda. Sayangnya pergerakan tersebut diketahui oleh pihak Belanda, dan menganggap Indonesia mangkir dari hasil perundingan Renville. Akhirnya pecahlah perang antara Indonesia-Belanda yang disebut dengan Agresi Militer II.

“Kenapa penandatanganan dilakukan di Lahat, karena pemerintahan Indonesia tidak ada di Palembang, pemerintah mundur semua. Sesudah Agresi Militer I Belanda, Lahat dikuasai Belanda lalu dibuat garis demarkasi itu dari Lahat arah Tebing Tinggi, aku lupa nama sungainya,” kata Sejarawan Sumsel, Syafruddin Yusuf.

Namun perjanjian Renville ini, menurut Syafruddin, akhirnya dilanggar Belanda dengan melakukan Agresi Militer II.

Demikianlah penjelasan terkait perundingan Renville yang ternyata membawa kemunduruan bagi Bangsa Indonesia. Masa penjajahan Belanda memang menyisakan luka mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. ***

Sumber :
1. Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
2. Wikipedia
Beritapagi. co.id, Pertemuan TNI-Belanda Di Lahat Pasca Perjanjian Renville
3. https://indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here