Home Palembang Nenek Rodemah Serahkan 2 Lonceng Peninggalan Sriwijaya ke Museum Negeri Sumsel Balaputra...

Nenek Rodemah Serahkan 2 Lonceng Peninggalan Sriwijaya ke Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa

0
Hj Siti Rodemah didampingi putranya, Hamdani saat menyerahkan dua buah lonceng diduga peninggalan Kerajaan Sriwijaya kepada Kepala UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa H Chandra Amprayadi, Jumat (13/3). Foto Alhadi/Palpres.

PALEMBANG, PE – Sebuah tindakan mulia dilakukan Hj Siti Rodemah (77), warga Tanahmas, Palembang. Di usia senjanya, wanita ini menyerahkan dua buah lonceng diduga peninggalan Kerajaan Sriwijaya kepada Museum Negeri Sumatera Selatan (Sumsel) Balaputra Dewa, Jumat (13/3).

Didampingi putranya, Hamdani (49), Rodemah menyerahkan benda cagar budaya tersebut kepada Kepala UPTD Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa H Chandra Amprayadi. Penyerahan tersebut turut disaksikan Kepala Seksi Koleksi Museum Balaputra Dewa Samsudin, dan Pemimpin Redaksi Palembang Ekspres Muhammad Iqbal.

Ada dua lonceng yang diserahkan. Lonceng ini terbuat dari bahan kuningan. Satu tanpa gagang, sedangkan yang satu lagi ada gagangnya tapi patah. Lonceng yang dengan gagang, tingginya 15,5 cm dengan berat 0,4 kg. Diameter bawah 9 cm, diameter atas 5,5 cm, keliling bawah 28,29 cm, keliling atas 17,29 cm.

Sedangkan lonceng yang tanpa gagang, tingginya 8cm, diameter bawah 8,5 cm, keliling bawah 26,21 cm, diameter atas 5,5 cm, keliling atas 17,29cm, dan berat 0,265 kg.

“Saya menemukan benda ini sekitar 1987-an. Selama 33 tahun saya simpan. Sampai akhirnya saya serahkan kepada museum,” ucap Nenek Rodemah.

Dia kemudian menceritakan ihwal penemuan lonceng tersebut. Kala itu sedang musim kemarau di Sukajadi, Banyuasin, tempatnya tinggal dulu sebelum pindah ke Tanahmas.

“Saat mengambil air di Sungai Gasing, terlihat ada benda warna kuning keluar sedikit. Kupanggil lah ibuku, Nurhinah. Kami gali setengah meter pakai parang. Dapat dua lonceng ini,” kenangnya.

Kedua lonceng itu kemudian dibawa pulang, dibersihkan, dan disimpan. “Waktu ditemukan, banyak pasirnya. Kemudian saya bersihkan pakai asam untuk menghilangkan karatnya. Hari ini saya serahkan ke museum,” ujarnya.

Frusdiantara, teman Hamdani, yang turut mendampingi Nenek Rodemah mengatakan, kedua lonceng itu sempat dibawa ke Balai Arkeologi (Balar) Sumsel untuk diteliti.

“Tiga bulan lalu saya bawa ke Balar. Diteliti oleh Ibu Sondang. Ini unik kata dia. Ini harus diselamatkan. Beri tahu Pak Chandra. Maka saya pun menelepon Pak Chandra. Dibawalah benda ini ke sini,” tukasnya.

Dikatakannya, sang Arkeolog tidak menyebutkan tahun berapa lonceng ini dibuat. Namun, diperkirakan pada zaman Kerajaan Sriwijaya.

Kepala Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa H Chandra Amprayadi mengucapkan terima kasih atas kesadaran Nenek Rodemah menyelamatkan benda cagar budaya tersebut, dengan menyerahkannya ke Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa.

“Ini adalah peninggalan masa lalu, yang akan dilihat oleh anak cucu kita. Ketika Ibu sudah tidak ada, cucu dan cicit ibu yang main ke museum, dia akan lihat benda ini. Oh ini, lonceng yang ditemukan nenek kami. Tentunya hal ini akan jadi sebuah kebanggaan,” kata Chandra.

Menurutnya, banyak warga yang menyadari arti penting benda bersejarah. Mereka dengan kesadaran sendiri menyerahkannya kepada museum.

“Barang ini berharga bagi kami tapi belum tentu bagi kolektor. Berharga bagi kolektor, belum tentu berharga bagi museum. Karena itu kami berterima kasih kepada Ibu Rodemah, yang telah menyelamatkan barang cagar budaya ini,” imbuhnya.

Chandra menilai apa yang dilakukan Rodemah sudah tepat. Memang sepatutnya kalau menemukan benda-benda bernilai sejarah, menyerahkannya ke museum terdekat. “Bukan dijual ke kolektor, apalagi dibuang,” tukasnya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumsel, Aufa Syahrizal Sarkomi mengatakan, dirinya mendapat laporan dari Kepala UPTD Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa H Chandra Amprayadi, bahwa beberapa waktu lalu ditemukan lonceng zaman Kerajaan Sriwijaya yang disimpan masyarakat.

“Benda ini lantas diinformasikan kepada Kepala Museum Balaputra Dewa. Untuk meyakinkan bahwa barang tersebut peninggalan sejarah yang usianya mungkin sudah ribuan tahun, Pak Chandra menyarankan kepada penemunya untuk diteliti di Balai Arkeologi,” katanya.

Setelah diteliti dan Balai Arkeologi Sumatera Selatan memberi rekomendasi bahwa benar barang tersebut barang bersejarah, ia mengatakan, Kepala Museum atas izin dirinya sebagai Kepala Dinas, segera menyelamatkan lonceng tersebut.

“Kita temui si pemilik. Dengan sedikit tali kisah kita sebagai penghargaan, benda itu bisa kita selamatkan. Sekarang sudah disimpan di museum,” ucapnya.

Ia mengimbau masyarakat apabila menemukan benda-benda bersejarah untuk menyerahkannya kepada museum sebagai koleksi. “Paling tidak masyarakat ikut menyelamatkan benda bersejarah yang ada di Sumatera Selatan. Apalagi yang berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya,” cetusnya.

Terlebih ada keraguan di masyarakat bahwa Kerajaan Sriwijaya fiktif. Temuan ini untuk menegaskan, bahwa kerajaan besar itu memang ada dan tidak fiktif.

“Dengan adanya benda-benda ini, kita bisa meyakinkan masyarakat nasional dan internasional bahwa betul Kerajaan Sriwijaya ada di Sumsel,” ujarnya.

Ia mengharapkan keikhlasan masyarakat untuk menyerahkan benda bersejarah ke museum tanpa menuntut pamrih. Namun begitu, tentu ada pemberian dari pemerintah sebagai ucapan terima kasih.

“Ada penghargaan kita kepada mereka. Tapi bukan jual beli. Kita imbau keikhlasan masyarakat untuk menyerahkan benda-benda itu untuk disimpan. Dan itu pun akan kita tulis siapa yang menemukannya. Sehingga sang penemu nanti akan masuk sejarah dalam cerita di museum itu,” pungkasnya. BETHA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here