Home Sumsel Lahat Salak dan Kopi Organik Lahat dapat Sertifikat dari Kementan

Salak dan Kopi Organik Lahat dapat Sertifikat dari Kementan

0
Jajaran Dinas Pertanian Lahat saat hadir dalam Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF), di Jakarta Convention Center (JCC), 12-14 Maret 2020.

LAHAT, PE – Salak dari Desa Tertap, Kecamatan Jarai dan Kopi Organik Segayun, Kecamatan Gumay Ulu, mendapatkan sertifikat dari Kementerian Pertanian RI. Penghargaan diterima pada acara Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF), di Jakarta Convention Center (JCC), 12-14 Maret 2020.

Pada acara Asian Agriculture and Food Forum, Lahat sekaligus menampilkan hasil komoditi unggulannya, diantaranya Jeruk Gergah, Salak Organik (Tertap, Jarai), Alpukat Mentega dan Kopi Organik Sekayun (Gumay Ulu).

Demikian disampaikan, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lahat, Ir Otong Heriadi didampingi Koordinator Penyuluh, Kustanto SP.

“Memperkenalkan Lahat melalui komoditi pertanian yang sudah ada, dengan menyiapkan buah-buahan organik. Apalagi satu-satunya mewakili Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel),” terangnya, Sabtu (14/3).

Ia menuturkan, bahkan pihak stakeholder telah bekerjasama, untuk menanam Buah Naga seluas 100 hektar, direncanakan di Kecamatan Kota Agung.

“Mengetahui dulu kondisi struktur tanah, kandungan apa saja yang ditambahkan, semua buahan diarahkan organik dan mengurangi pestisida,” terang Kustanto.
Kustanto menambahkan, budidaya lahan tidak terkontaminasi dari bahan insektisida, termasuk aturan berapa radius dari budidaya umum yang menggunakan pestisida terakhir dipakai tahun berapa.

“Bahkan 2 baris dipinggir kebun salak, tidak masuk kategori buah organik. Sudah lulus Kopi dan Salak, dimana 2 tahun sekali sertifikat di upgrade kandungan,” ungkapnya.

Ditambahkan Otong, pupuk yang dipergunakan di Desa Tertap, kotoran ternak dicampur dengan bahan aktif pengurai bahan organik. Ada juga memelihara itik di kebun salak, satu minggu kurung, dipindah dan petani memperoleh hasil ganda yakni, telur terpenting tidak bau sebab langsung disemprot bahan organik.

“Untuk rasa, lebih manis, dan awet salak lebih dari satu minggu tidak busuk ujung buah, bahkan 10 hari panen kategori buah sudah tua,” terangnya. Sedangkan Kopi, sambung Kustanto, 99,9 persen petik merah, hal ini justru unggul diaroma dibuktikan dari penampilan dari Segayun hasilnya selalu menang.

“Tidak hanya meningkatkan produksi, paling penting segi kualitas, untuk produksi tidak terlalu. Harga kopi organik satu kilo saja Rp 250.000 yang bubuk, biji antara Rp 70.000-Rp 80.000, petik merah Rp 30.000-Rp 40.000,” bebernya.

Otong mengharapkan, kiranya petani yang masih menggunakan pestisida, untuk beralih ke organik, mengingat harga jualnya mahal maupun kualitas dan rasa.
“Mesti diteruskan, berangsur-angsur dialihkan ke sistem organik, sehingga hasil yang diperoleh begitu baik ketika panen,” pungkasnya. BRN

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here