Home Sejarah Palembang di Tahun 1783 (Bagian Terakhir)

Palembang di Tahun 1783 (Bagian Terakhir)

1
Sketsa wajah William Marsden.
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

Siapa William Marsden?

WILLIAM Marsden, dalam bukunya History of Sumatra (1783) menjelaskan gambaran umum ilmiah mengenai Sumatra sekitar tiga abad yang lalu.

Marsden adalah seorang administrator yang bekerja untuk kepentingan perusahaan dagang Inggris East India Company di Bengkulu pada sekitar penghujung abad ke18.

Tulisannya mengenai sejarah Sumatra yang sangat fenomenal menunjukkan bahwa ia bersungguh-sungguh mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk melakukan pendalaman hingga ke pelosok pedalaman pulau besar tersebut, sehingga iapun patut mendapat julukan sebagai “ilmuwan” dengan alasan sebagai berikut:

Marsden melakukan observasi langsung tanpa perantara dan seleksi dan penjabarannya tentang kajian Sumatra hanya pada bagian-bagian penting saja.

Kajiannya tersebut telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah dan pada bagian awal tulisannya, Marsden menyatakan kekagumannya terhadap Sumatra dengan mengungkapkan kekayaan alamnya yang begitu luar biasa dan masa kejayaannya selama berabad-abad.

Ia menuliskan sebanyak delapan bab tersendiri untuk menjabarkan sejarah alam pulau Sumatra.

Memasuki bagian pertama tulisannya tentang Sumatra, pembaca akan diajak untuk mendaki ketinggian pegunungan yang memanjang melintasi berbagai wilayah; menyelami air terjun, danau, laut dan sungai-sungainya yang berkelok-kelok seperti ular raksasa; merasakan kelembaban udara tropisnya yang segar, tanahnya yang merah dan subur, guntur dan kilat yang memekakkan telinga, hingga kekokohan karang lautnya yang tak lekang diterjang ombak pasang. Semua deskripsi alam tersebut benarbenar menggambarkan keaslian pulau Sumatra hingga awal abad ke-19.

Deskripsi mengenai topologi pulau Sumatra tersebut lengkap dan mendetail, bahkan, diungkap William Marsden, dalam bukunya History of Sumatra (Singapore-Malaysia: University of Malaya Press, 1986) 4 Op.cit, hlm. 10 Jurnal Seuneubok Lada, No.1, Vol.2 Juli – Desember 2014 41 ketinggian gunung, jarak antar pegunungan, dan tingkat kelembaban udara sudah menggunakan satuan ukur terstandar, namun suatu hal yang aneh jika Marsden masih belum mengetahui secara pasti luas pulau Sumatra.

Ia hanya memperkirakan bahwa pulau tersebut memiliki luas yang hampir sama dengan Britania Raya. Teknologi pemetaan yang masih terbatas hingga akhir abad ke-18 bisa jadi tidak mendukung pengetahuan Marsden mengenai luas dataran Sumatra secara pasti.

Keanekaragaman hayati dan kekayaan alam pulau eksotis tersebut terlampau banyaknya hingga Marsden perlu mengklasifikasikannya menjadi lima bagian yaitu:

Hasil alam untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari penduduk yang meliputi hasil pertanian, sawah, kacang-kacangan, tarum, kesumba, ubar dan lain-lain.

Lalu Varietas dunia flora yang meliputi buah-buahan, bunga, dan perdu.

Keanekaragaman dunia fauna yang meliputi hewan berkaki empat, binatang melata, penghuni habitat air, kelompok unggas, dan serangga.

Komoditas perdagangan dan hasil perkebunan yang meliputi lada, pala, cengkeh, kapur barus, kemenyan, kapas, pinang, kopi, damar, darah naga, gambir, kelembak, kayu gaharu, dan kelompok kayu bangunan.

Dan Kekayaan alam dan perdagangan impor yang meliputi emas, timah, tembaga, bijih besi, belerang, saltpeter, sarang burung, tripan, lemak lebah, embalau, gading, telur ikan dan lain-lain. Deskripsi Marsden tentang potensi alam Sumatra tersebut merupakan pemaparan yang sebenarnya tidak sanggup ia tuliskan dengan kata-kata untuk menjabarkan betapa pulau itu dianugerahi kemurahan alam begitu sempurna.

Kemampuan Marsden dalam mengenal aneka ragam tumbuh-tumbuhan tropis menunjukkan pengetahuannya yang mendalam mengenai ilmu botani, walaupun terkadang ia masih kebingungan dalam mengklasifikasikan beberapa spesies buah-buahan tertentu seperti membedakan antara buah langsat, rambeh dan duku serta menyamaratakan semua jenis beri-berian hutan kedalam kelompok tanaman anggur.

Dalam dunia hewan, pengetahuan Marsden terhadap zoology masih terbatas pada deskripsinya mengenai hewan-hewan yang lazim terlihat di pulau tersebut. Ia juga masih kesulitan dalam mengenali hewan-hewan reptile terutama membedakan antara kadal, tokek dan cicak.

Bahkan untuk hewan-hewan tertentu yang sekarang dilindungi seperti harimau, Marsden menyebutnya sebagai musuh manusia. Harimau pada waktu menjadi target perburuan perusahaan dagang Inggris, East India Company melalui sayembara.

Dalam hal ini, kolonisasi Inggris dapat dikatakan turut bertanggungjawab sebagai penyebab menurunnya populasi harimau Sumatra pada abad ke-18 dan 19.

Pada bagian lebih lanjut dari tulisannya, Marsden mulai mencoba mengenal siapa sesungguhnya manusia yang mendiami pulau terluas di kepulauan Nusantara tersebut. Keahlian orang Sumatra, bahasa dan abjad, sosiologi masyarakat, adat istiadat dan hukum adat, ritus perkawinan dan hiburan, tradisi hingga sejarah kerajaan-kerajaan di Sumatra mulai dari Lampung hingga Aceh.

Jurnal Seuneubok Lada, No.1, Vol.2 Juli – Desember 2014 42 Marsden memang tidak akan sanggup menuliskan seluruh sisi kehidupan seluruh pulau Sumatra secara sempurna dan objektif, oleh karena itu metode penelitian dengan klarifikasi dan generalisasi adalah cara yang biasa ditempuh oleh ilmuwan-ilmuwan barat untuk mendapatkan pengetahuan umum mengenai sebuah tema.

Metode klarifikasi dan generalisasi inilah yang akhirnya memunculkan apa yang disebut sebagai sejarah rekaan (conjectural history).

Dalam menjelaskan sosiologi masyarakat Sumatra, Marsden terlalu serampangan dalam menggunakan kedua metode tersebut. Ia menyebut status sosial orang Sumatra di mata dunia sebagai bangsa kelas empat dengan peradaban paling kuno setelah bangsa Yunani dan Romawi yang mewakili peradaban Barat, bangsa Asia Timur dan Persia, serta bangsa-bangsa Afrika dan Arab.

Tingkat peradaban suatu kelompok masyarakat pada dasarnya sangat sulit diukur menurut standar-standar baku karena peradaban tersebut terus mengalami perubahan dan pergeseraan. Upaya pengklasifikasian tingkat kebudayaan dan peradaban suatu bangsa/masyarakat hanya akan menciptakan sebuah bentuk rasialisme dalam dunia ilmu pengetahuan.

Kebudayaan adalah produk alamiah yang dihasilkan manusia dari berbagai macam latar belakang dan keadaan yang tidak sama antara satu dengan yang lainnya.

Metode generalisasi yang sangat subjektif juga ia gunakan untuk menggambarkan karakter orang Melayu yang biadab setelah melewati masa kejayaannya. Ia juga menyebutkan judi, sabung ayam, dan menghisap opium sebagai hiburan orang Sumatra, padahal ia tidak melakukan observasi di berbagai wilayah Sumatra lain yang mengkategorikan “bentuk-bentuk hiburan” tersebut sebagai tindakan kejahatan dalam masyarakat.

Penjelasan Marsden mengenai sistem pemerintahan di Pasemah, hukum adat Rejang dan Manna, serta ritus perkawinan Rejang dan Pasemah dianggap telah mewakili keadaan yang ada di seluruh pulau Sumatra secara umum.

Adat istiadat dan kebudayaan suku bangsa Rejang dan Pasemah seolah merupakan prototype dari adat istiadat dan kebudayan di seluruh pulau Sumatra. Ia menganggap bahwa suku Rejang dan Pasemah di Bengkulu sebagai suku bangsa di Sumatra yang masih original karena belum mendapat pengaruh kuat dari kepercayaan lain seperti masuknya Islam.

Kekhususan Minangkabau sebagai sebuah identitas budaya di Sumatra dianggap sudah tidak muni lagi sejak masuknya pengaruh Islam. Hal ini bisa jadi merupakan ‘perkiraan ilmiah” Marsden terhadap bentuk-bentuk kebudayaan masyarakat Sumatra yang digenelisir.

Observasi Marsden yang lebih terfokus pada suku bangsa Rejang dan Pasemah memang tidak terlepas dari hubungan politik-ekonomi antara pemerintahan EIC di Bengkulu dengan kepala-kepala adat di wilayah tersebut. Bengkulu adalah wilayah tempat beroperasinya perusahaan dagang Inggris tersebut selama lebih dari seratus tahun.

Dalam hal ini keterbatasan dalam melakukan observasi langsung secara menyeluruh ke berbagai wilayah untuk mendapatkan sebuah gambaran umum mengenai sebuah tema kajian ilmiah dapat diakui sebagai kelemahan metode generalisasi. ***

Sumber :

1. Historiografi Sumatera Dalam Literatur Legendaris Inggris Abad 19, Lailatusysyukriyah, M.A. Penulis adalah Staf Pengajar pada Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Samudra, Langsa [email protected]
2. Sejarah Sumatera, Wiliam Marsden, the third edition, 1811, Kuala Lumpur, Oxford University Press, 1996.
3. http://beritapagi.co.id/2017/12/16/palembang-dan-sekitarnya-di-tahun-1783.html
4. http://beritapagi.co.id/2018/07/26/kota-palembang-dari-kacamata-malthe-comrad-bruun-dan-marsden.html

loading...

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here