Home Pilihan Redaksi Pembatal Puasa (1) Ijma

Pembatal Puasa (1) Ijma

0

https://youtu.be/9FrNAzuFREc

Oleh Ustaz Ibnu Hajar
Guru Ma’had Zaadul Maad Talang Jambe Palembang/Pembina Yayasan Bekal Akhirat

RASULULLAH Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam Hadis Ibnu Umar berbunyi Islam itu dibangun di atas 5 tiang/penyangga. Kata Rasulullah, yang pertama ialah syahadat, ini pondasi yang paling utama. Syahadat persaksian bahwa yang berhak disembah hanya Allah dan Rasul kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, sebagai anutan, panutan kita dalam ibadah.

Kedua, kata Rasulullah, mendirikan salat. Ketiga, puasa pada Ramadan dan insyaa Allah yang akan kita bahas pada kesempatan ini. Keempat, zakat fitrah. Dan yang kelima, menunaikan ibadah Haji.

Di dalam pelaksanaan puasa di Ramadan, ada hal-hal yang wajib kita ketahui dari terbit matahari yakni sebagai pembatas antara siang dan malam. Di situ kita mulai wajib puasa, tidak boleh kita makan dan minum dan hal yang membatalkan puasa sampai terbenam matahari.

Oleh karena itu kita wajib mengetahui hal-hal yang bisa terjaganya puasa kita dari hal yang membatalkan puasa itu sendiri. Ini yang disebut oleh ulama hal-hal yang membatalkan puasa.

Secara ringkas ulama menyebutkan ada tujuh hal yang membatalkan puasa. Yakni yang wajib kita ketahui jangan sampai kita puasa melanggar ketentuan dari puasa kita batal sementara kita tidak tahu.

Kemudian inti dari tujuh hal yang membatalkan puasa tadi ada tiga seperti yang Allah sebutkan di dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 187 Allah mengatakan, sekarang boleh kalian mumpuni istri kalian, melakukan hubungan suami istri di malam hari. Artinya siang hari yang tidak boleh. Nanti bagian dari yang pertama tentang pembatal puasa adalah al jima’ (hubungan intim suami istri).

Kemudian yang kedua kata Allah, yakni pada malam hari makan dan minumlah. Makanlah, minumlah yaitu ada tiga yang pertama makan, yang kedua jima’ dan, yang ketiga minum. Ini pembatal-pembatal utama puasa yang disebutkan oleh Allah di dalam Alquran.

Pembatal-pembatal puasa lainnya akan kita sebutkan sehingga menjadi tujuh berdasarkan hadis-hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Bagian yang pertama hal yang membatalkan atau merusak puasa kita adalah al jima’, hubungan suami istri. Jima’ ini kata ulama pembatal yang paling besar, sehingga dinamakan al mugholadhoh, yang harus ada bayar, yang berat, bukan hanya dia mengqadha puasanya, yang insyaa Allah akan kita sebutkan.

Jadi jima’, salah satu pembatal puasa, hubungan suami istri di siang hari Ramadan, yang kedua-duanya puasa adalah akan yang pertama dia merusak puasanya. yang kedua dia berdosa, yang ketiga wajib dia mengqadha puasanya setelah Ramadan, dan yang keempat dia harus membayar kafarah.

Kafarah ini, disebutkan oleh Allah sama dengan kafarah zihar adalah pertama dia membebaskan budak bagi yang mampu dan ada. Dan alhamdulillah insyaa Allah perbudakan tidak ada lagi maka dengan otomatis seorang yang melakukan hubungan suami istri di siang hari dia beralih kepada hal yang kedua. Dia harus puasa 2 bulan berturut-turut tanpa berhenti, dia tidak boleh berhenti, apabila satu kali saja dia berhenti membatalkan puasanya tanpa uzur syar’i, maka dia wajib mengulangi puasanya dari awal adapun udzur syar’i yang boleh seorang menyenangi puasanya 2 bulan berturut-turut ini, bagi yang melakukan hubungan suami istri di siang hari Ramadan.

Misalnya karena dia safar atau dia sakit. Ini dibolehkan setelah dia pulang dari safar. Setelah sembuh dari sakitnya dia lanjutkan dari puasa yang diperintahkan oleh Allah dua bulan berturut-turut tadi. Ini menunjukkan bahwa jima adalah perkara yang sangat besar berkaitan dengan puasa kita.

Oleh karena itu wajib kaum muslimin untuk memahamkannya, suami kepada istri dan istri kepada suami, anak-anak diajari, lebih-lebih mereka yang sudah baligh, mereka yang sudah suami istri, untuk dipahamkan ini agar jangan sampai terjadi pelanggaran di dalam ibadah sementara dia tidak menyadari.

Diceritakan satu cerita yang menarik dalam Hadis Sahih Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah di dalam majelisnya, datang seorang laki-laki kemudian dia mengatakan, “Ya Rasulullah celakalah aku?”

Kemudian kata Rasulullah, “Apa yang mencelakakanmu?” Kemudian lelaki itu mengatakan, “Aku melakukan hubungan istri (jima) pada siang hari (Ramadan).” Dan Rasulullah membenarkan bahwa ini mencelakakan, rusak ibadahnya dan perkaranya di hadapan Allah sangat besar. Kemudian kata Rasulullah, “Apakah engkau mampu untuk membebaskan seorang budak?”

Lelaki itu berkata, “Tidak ya Rasulullah.” Kemudian kata Rasulullah, “Mampukah engkau puasa dua bulan berturut-turut untuk membayar kafarahmu karena perlakuanmu melakukan hubungan suami istri di siang hari (Ramadan)?” Lelaki itu menjawab, “Tidak Rasulullah.”

Bahkan dalam suatu riwayat mengatakan, “Tidaklah aku terjadi seperti ini, kecuali karena aku terjerumus, tidak mampu menahan diri untuk mendatangi istriku. Maka saya nggak kuat, sehingga saya melakukan pelanggaran ini.”

Kemudian Rasulullah kembali bertanya, “Apakah engkau mampu memberi 60 orang fakir miskin masing-masing setengah shaa’ ?”
Jadi kalau suami istri sama-sama menyadari melakukan hubungan suami istri, berarti dia harus membayar 30 shaa’ beras atau gandum atau kurma. Masing-masing setengah, setengah untuk istri dan setengah untuk suami.

Satu shaa’ di antara ulama mengatakan kadarnya kalau beras, lebih kurang antara 2,5 kilogram (Kg) sampai 3 Kg. Artinya masing-masing 1,5 Kg setiap pelanggaran ini dikalikan 1 orang miskin dikalikan 60, totalnya adalah 30 shaa’.

Oleh karena itu wajib kaum muslimin untuk memperhatikan ini agar jangan sampai terjadi pelanggaran dan dia tidak boleh pindah kepada yang lebih ringan di dalam kafarahnya. Wajib dia dulu berusaha untuk puasa 2 bulan berturut-turut sampai dia betul tidak mampu secara syar’i atau menurut keterangan dokter bahwa dia betul tidak mampu untuk berpuasa dua bulan, baru dia pindah memberi makan 60 orang fakir miskin, masing-masing setengah shaa’.

Kemudian ketika ditanya Rasulullah, “Kamu mampu memberi makan 60 orang fakir miskin?” Lelaki itu menjawab, “Tidak ya Rasulullah!”

Tidak berapa lama Rasulullah dibawakan segantang kurma. Di dalam hadis disebutkan 1 mi’tal itu lebih kurang 15 Kg. Kemudian Rasulullah berujar, “Mana yang tadi bertanya, mengeluh, mengatakan dia celaka?”.

Kemudian laki-laki tadi menuturkan, ”Saya Rasulullah!”.

Lantas Rasulullah mengucapkan, “Ambil ini bagikan kepada fakir miskin yang ada.” Hanya saja lelaki itu mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah terhadap orang yang paling fakir di antaraku? Saya yakin di seluruh Madinah barat timur selatan utara, tidak ada yang lebih miskin dari keluarga kami.”

Sampai diriwayatkan hadis, Rasulullah tertawa, datang dalam keadaan takut tiba-tiba dia berharap dari kurma yang ada, miskin. Kemudian, ambil ini bawa ke keluargamu kasih makan ke keluargamu. Inilah Islam.

Apabila kata ulama, apabila dia sempit dia luas. Allah tidak memberikan beban kepada hamba-Nya di luar kemampuannya. Kemudian Rasulullah berikan jalan dengan ini dia selesai tanggung jawabnya, karena nggak mampu. Kewajiban akan gugur apabila memang tidak mampu. (BERSAMBUNG)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here