Home Pilihan Redaksi Pembatal Puasa (Bagian 2) Istimna’

Pembatal Puasa (Bagian 2) Istimna’

0

Oleh Ustaz Ibnu Hajar Lc
Guru Ma’had Zaadul Maad Talang Jambe Palembang/Pembina Yayasan Bekal Akhirat

INI pembatal puasa yang pertama adalah jima, hubungan suami istri di antara pembatal puasa dan dia pembatal yang paling berat sebagaimana kita sebutkan tadi, barangsiapa dengan sengaja dan dia tahu hukumnya masalah ini, terjadi pada siang Ramadan, puasanya rusak, dia berdosa.

Wajib dia menahan diri. Tidak boleh mentang-mentang sudah batal puasanya dan dia mengulang lagi, tidak boleh. Oh ya sudah batal diulang lagi tidak, tetapi ia wajib menahan dirinya sampai waktu magrib, waktu berbuka, kemudian setelah itu dia wajib mengqadha setelah Ramadan dan kaffarah yang telah kita sebutkan tadi.

Ini menunjukkan bahwa bahayanya hubungan suami istri pada siang hari Ramadan, termasuk pembatal puasa.
Yang kedua, dari pembatal puasa adalah mengeluarkan mani, mengeluarkan mani dengan sengaja. Misalnya dia sengaja mencium istrinya siang hari Ramadan. Ini pengantin baru bisa saja terjadi, sedang tegangan sangat tinggi, tak ada urusannya kalau puasa tidak puasa kalau sudah sangat kuat ini, akhirnya tidak bisa menahan seperti itu, keluarlah mani dengan sengaja karena itu dia batal puasanya.

Kalau ada pertanyaan, haruskah juga seperti orang yang berjima? Tidak. Dia batal puasanya, dia banyak beristighfar, bertaubat kepada Allah dan mengqadha puasanya pada hari berikutnya, tanpa kafarrat, karena kafarrat yang kita sebutkan tadi, membebaskan budak, puasa 2 bulan berturut-turut, memberi makan 60 fakir miskin itu hanya terjadi apabila mereka berjima pada siang hari Ramadan.

Jadi mengeluarkan mani dengan sengaja, mencium, mencumbu istrinya atau menyentuh pasangannya, menyentuh alat kelaminnya tiba-tiba tidak tahu, tidak kuat, keluar. Atau apa yang disembur dengan sengaja dan tidak dibolehkan, diharamkan oleh sebagian besar ulama, istimna mengeluarkan mani dengan tangannya.

Hal ini termasuk pembatal puasa dan dia berdosa di sini dan wajib dia mengqadha puasanya pada hari berikutnya, karena ini apa karena termasuk dalam syahwat yang disebutkan oleh Rasulullah dalam hadis qudsi. Kenapa Allah memberikan ganjaran besar bagi orang yang berpuasa di antaranya karena mereka meninggalkan makan, meninggalkan minum, dan syahwat.

Istimna termasuk syahwat dan dia termasuk di pembatal-pembatal apabila keluar mani. Masalah berikutnya apabila dia mencium istrinya, apakah boleh di siang hari ramadan? Ulama mengatakan aslinya boleh tapi kalau keluar mani, nah di situ yang masalah, selagi dia bisa menahan diri dan tidak keluar mani, maka puasanya sah, tidak membatalkan puasanya apabila tidak keluar mani, boleh.
Kata Ummu Salamah radhiallahu anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mencium istrinya, mencumbu istrinya dan dalam keadaan puasa, akan tetapi Rasulullah kuat menahan hawa nafsunya, bisa mengendalikan dirinya, sehingga tidak sampai keluar mani. Artinya, aslinya boleh seseorang mencium istrinya, tapi dengan catatan apabila tidak sampai merusak puasanya.

Dikhawatirkan karena keluar mani. sampai-sampai di antara mereka ada yang bertanya ya Rasulullah? Seseorang mencium istri di bulan Ramadan? Seakan-akan mengingkari, kata Rasulullah sungguh aku paling taqwa kepada Allah di antara kalian dan paling takut. Aku melakukannya tapi dengan catatan apabila bisa menahan diri. (BERSAMBUNG)

Catatan: Tausiyah ini dapat anda saksikan dan simak secara lengkap di Youtube Channel Palpres Official.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here