Home Pilihan Redaksi Pembatal Puasa (bagian 3)

Pembatal Puasa (bagian 3)

0

Oleh Ustaz Ibnu Hajar Lc
Guru Ma’had Zaadul Maad Talang Jambe Palembang/Pembina Yayasan Bekal Akhirat

PEMBATAL puasa selanjutnya adalah makan dan minum dan apa saja yang semakna dengan makan dan minum. Insyaa Allah kita sudah mengenal semua ini serta anak kecil pun sudah paham, bahwa makan dan minum adalah pembatal puasa.

Dan yang berikutnya yang semakna dengan makan dan minum. Apa saja yang termasuk semakna makan dan minum? Adapun dasar tentang ini dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 187, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, ”Makan dan minumlah kalian sampai jelas benang putih dan benang hitam.”

Maksudnya jelas batas antara malam dan siang. Apabila kita dibolehkan makan dan minum pada malam harinya, artinya apabila sudah masuk terbit fajar di situ mulai kita Al Imsak karena puasa maknanya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa kita, termasuk di dalamnya makan dan minum.

Makan dan minumlah pada malam harinya, apabila sudah masuk siang di situ kita tidak boleh lagi makan dan minum. Batasnya adalah terbit fajar kalau kita azan subuh.
Kemudian, apabila ada seseorang yang sengaja makan dan minum dan dia mengerti tentang hukumnya pada waktu semestinya dia puasa, maka puasanya batal, wajib dia pada hari berikutnya setelah Ramadan untuk mengqadha puasa sebanyak yang ditinggalkan.

Kemudian yang semakna makan dan minum, apa saja di antaranya yang semakna dengan minum? Misalnya al istinsyaq artinya memasukkan air ke hidung, ketika kita berwudhu. Rasulullah sendiri menganjurkan kita untuk bersungguh-sungguhlah di dalam istinsyaq.
Bahkan di antara ulama mengatakan wajib kita untuk memasukkan air ke hidung diikuti tarikan nafas, sungguh-sungguh sampai ke terasa di ubun-ubun kepala. Akan tetapi ketika seseorang sedang puasa, itu tidak boleh, cukup dia bersihkan bagian depan hidungnya, bilas air bersih, tanpa ditarik dengan nafas.

Lantaran dikhawatirkan ada air yang terhirup dan ini akan merusak puasanya. Apabila dengan sengaja ini yang bermakna minum.

Adapun yang semakna dengan makan tapi dia bukan makan, karena makan aslinya melalui dengan melalui mulut. Yang semakna dengan makan seperti orang yang dirawat di rumah sakit, yang dinamakan infus.
Infus ini semakna dengan makan, bahkan semakna dengan minum, karena dia bisa menahan diri seseorang dari lapar dan haus, tidak membahayakannya apabila ada infus ini walaupun dia tidak makan berhari-hari atau bahkan berpekan-pekan.

Ulama mengkiaskan infus ini dengan makan dan minum, apabila seorang diinfus maka puasanya batal. Karena itu apabila kita memang dalam keadaan puasa, memang masih bisa menahan diri untuk tidak diinfus, dan kita sayang dengan puasa kita, karena keutamaan Ramadan pahala yang berlipat ganda kalau kita puasa pada waktunya, maka kita sebaiknya tidak diinfus dan dibolehkan apabila darurat, apabila puasa kita batal dan kita mengqadha pada hari-hari berikutnya.

Pembatal puasa berikutnya adalah mengeluarkan darah dengan sengaja melalui hijamah bahasa kitanya bekam, mengeluarkan darah yang banyak, dengan cara berbekam. Ini jelas datang tuntunannya dari Nabi Muhammad, apabila seorang yang puasa kemudian minta berbekam karena kita melihat bahwa ini yang paling tepat untuk penyakit ini, yang tidak bisa ditunda sampai malamnya maka boleh kita berbekam.

Tapi kata Rasulullah, batal puasanya dan dia wajib mengqadha pada hari berikutnya setelah Ramadan. Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan juga Abu Daud dalam sunannya, batal puasanya orang yang berhijamah, orang yang minta dibekam.

Kemudian Imam Bukhari mengatakan ini hadis yang paling shahi tentang masalah ini artinya barangsiapa berbekam puasanya batal. Kenapa Imam Bukhari mengatakan seperti ini? Karena di sana ada pendapat ulama mengatakan berbekam tidak batal, apabila kita berbekam di bulan Ramadan dan kita mengetahui ilmunya, maka puasa kita batal dan wajib mengqadhanya.

Dia bisa juga dikiaskan, ulama mengkiaskan kepada bekam ini donor darah, sifatnya sama dengan bekam mengeluarkan darah yang banyak, menyebabkan badan yang lemah.
Sementara Allah tidak menginginkan kita celaka. Kenapa orang puasa sudah lemah tubuhnya, ditambah lagi diambil darahnya, maka akan menyebabkan suatu yang merusak, mencelakakannya. Maka Allah melarang kita untuk menjerumuskan diri kita dalam kecelakaan.

Rasulullah mengatakan, janganlah kalian mencelakan diri kalian dan menjadi sebab celaka orang lain. BERSAMBUNG

Catatan: Tausiyah ini dapat anda saksikan dan simak secara lengkap di Youtube Channel Palpres Official.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here