Home Pilihan Redaksi Pembatal Puasa (bagian 4)

Pembatal Puasa (bagian 4)

0

Oleh Ustaz Ibnu Hajar Lc

Guru Ma’had Zaadul Maad Talang Jambe Palembang/Pembina Yayasan Bekal Akhirat

PEMBATAL puasa keenam adalah muntah dengan sengaja. Bukan karena hal yang lain yang disebabkan kondisi badannya atau perutnya. Tapi ini muntah yang disengaja, perbuatannya.

Apabila seseorang sengaja berupaya dengan sengaja mengeluarkan isi perutnya sampai keluar dari mulutnya maka ini yang disebut muntah dan merusak puasanya. Dia wajib mengqadha puasanya. Perbuatan ini dilarang dalam agama ketika kita sedang puasa.

Dalam satu hadis diriwayatkan oleh imam hadis yang lima, kecuali Imam An Nasa’i, dan Hakim mengatakan hadis ini hadis shahih. Rasulullah bersabda, barangsiapa yang muntah tanpa disengaja maka tidak wajib mengqadha puasanya. Artinya puasanya tidak batal.

Dan barangsiapa yang sengaja muntah maka dia wajib mengqadha puasanya. Memasukkan sesuatu kedalam mulutnya, tenggorokannya atau dia sengaja mencium bau yang tidak sedap, datang ke tong sampah yang banyak bangkai dan sebagainya, sehingga dia sengaja melihat sesuatu yang menjijikkan lalu dia tidak kuat menahan semua ini, maka dia wajib mengqadha puasanya pada hari-hari berikutnya.

Kemudian pembatal puasa terakhir adalah berkaitan khusus dengan wanita yaitu haid dan nifas. Seorang wanita, ketika dia puasa datang haid atau melahirkan otomatis di situ dia tidak boleh berpuasa.

Apabila dia puasa maka puasanya batal, sekalipun hanya tinggal berapa detik menjelang magrib datang haid maka puasanya batal. Karena di situ ada penghalang dia untuk meneruskan puasanya, yakni haid. Dan wajib baginya untuk mengqadha puasanya pada hari berikutnya.

Lalu nifas wanita yang melahirkan hukumnya sama dengan haid. Dia tidak boleh puasa. Apabila melahirkan di tengah Ramadan, puasanya batal.

Selama haid, dia tidak boleh untuk puasa. Apabila puasa maka dia sengaja untuk melanggar larangan Allah. Bukan pahala yang dia dapatkan justru dosa.

Dan di sini sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang masalah haid ini, Rasulullah bersabda, bukankah jika (seorang wanita) haid ia tidak boleh puasa dan salat. Untuk puasa dia wajib mengqadha di bulan berikutnya. Sementara salat tidak wajib qadha.

Dalam suatu riwayat Muslim dan Bukhari, datang seorang wanita kepada istri Rasullulah, Aisyahradiyallahu anha. Wanita itu bertanya, kenapa wanita kalau dia haid dia diperintahkan untuk mengqadha puasanya dan tidak diperintahkan untuk mengqadha salatnya.

Atas pertanyaan ini, Aisyah kontan menaruh curiga. Lantas dia balik bertanya, apakah engkau seorang khawarij? Karena pertanyaan ini seakan untuk mengakali agama, mencurigai agama.

Wanita itu menjawab, saya semata bertanya hanya untuk mengetahui hukumnya.

Barulah Aisyah melontarkan jawaban atas pertanyaan wanita tersebut. “Kami juga haid di zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kami diperintahkan oleh Rasulullah untuk mengqadha puasa dan tidak mengqadha salat.”

Karena dijelaskan, kalau salat juga diperintahkan untuk diqadha niscaya taklif, beban yang sangat berat, yang tidak mampu untuk dilakukan.

Bayangkan kalau seorang wanita yang haid 7-15 hari, setiap hari dia meninggalkan salat waktu, dikali 15 hari, sekian ratus kali dia harus mengqadha salat. Agama Allah ini tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya.

Adapun puasa tak terbatas waktu, qadhanya panjang dari awal Syawal sampai akhir Sya’ban. Boleh berurutan dan boleh juga secara terpisah. Karena waktunya panjang, dan ini rahmat Allah.

Perlu kita ketahui dan ini penting terkait pembatal-pembatal puasa agar kita tidak memberikan pemahaman yang keliru kepada orang di sekeliling kita, apalagi mereka memiliki pemahaman agamanya yang minim.

Tidak semua tujuh pembatal tadi otomatis membatalkan puasa seseorang dan wajib qadha.

Ulama mensyaratkan ada tiga syarat untuk tujuh pembatal puasa tadi.

Syarat yang pertama kata ulama, hendaklah dia memang mengerti, berilmu baik tentang hukum puasa, baik berkenaan dengan yang membatalkanya atau yang berkenaan dengan waktu.

Apabila seorang jahil (tidak tahu), jahil dengan hukum puasa atau jahil dengan waktu puasa maka dia berbuka. Makan misalnya. Karena jahil hukumnya, bahwa yang ini menurut dia tidak membatalkan puasa maka baginya tidak batal puasanya, sampai datang ilmunya.

Dikisahkan dalam hadis shahih, suatu hari salah seorang sahabat Nabi Muhammad, Adi bin Hatim menaruh 2 utas tali di bawah bantalnya. Lantas sambil makan dan minum, dia terus dilihatnya. Tali ini masih warna yang sama tidak ada beda, setelah membaca ayat Allah, “makan dan minumlah sampai kalian bisa membedakan antara tali hitam dan tali putih.”

Adi bin Hatim taruh ini dibawah bantalnya sampai dia makan dan dilihat masih berwarna hitam, makan lagi nah. Warnanya mulai terang karena dia berada di luar ruangan gelap, kemudian dia berhenti makan, lalu datang kepada Rasulullah pagi-pagi.

Kata Rasulullah, bukan seperti itu, yang dimaksud ayat Allah yakni “sampai jelas antara malam dan siang kata Rasulullah, bukan jelas warna hitam dan putih.”

Nah, di situ maknatabayyan, jelas. Artinya apabila ilmunya belum sampai sekalipun dia makan sudah waktu fajar tapi baginya belum masuk, menurut ilmunya puasanya sah.

Syarat kedua, zakiron(sadar). Dia makan dan minum atau melakukan pembatalan yang lain dan dalam keadaan sadar batal puasanya. Tapi kalau dia lupa berarti tidak batal puasanya. Kata Rasulullah dalam suatu hadis, “Barang siapa yang lupa, dia puasa tapi makan dan minum, dia sempurnakan puasanya. Karena itu rezeki dari Allah, Allah yang memberi makan dan minum.”

Dan syarat yang ketiga, apabila kita puasa melakukan pelanggaran hal-hal yang membatalkan puasa, apabila kita lakukan sesuai pilihan, bukan terpaksa. Namun apabila kita terpaksa, diancam, kamu harus makan, harus begini dengan suami istri di bulan Ramadan tanpa dia menginginkannya maka puasanya tidak batal dan tidak wajib mengqadha. (*)
Catatan: Tausiyah ini dapat anda saksikan dan simak secara lengkap di Youtube Channel Palpres Official.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here