Home Sejarah Perlawanan Radja Tiang Alam di Ampat Lawang (Bagian Kedua)

Perlawanan Radja Tiang Alam di Ampat Lawang (Bagian Kedua)

0
Pangeran Goetika (ada juga menyebutnya Radja Tiang Alam, Panglima Divisi Tanah Pasemah, dan Raden Abdurahman), salah satu pemimpin pemberontakan Pasoemah, saat berada dalam pengasingan di Palembang, 1867

Pangeran Goetika (ada juga menyebutnya Radja Tiang Alam ada menyebut Panglima Divisi Tanah Pasemah, Raden Abdurahman ), salah satu pemimpin pemberontakan Pasoemah, dalam pengasingan di Palembang 1867

Dudy Oskandar.

Oleh: Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

Ekspedisi Belanda ke Palembang (Gunung Merakso)

Tahun 1812-1889, Dilaporkan Ke Ratu Belanda

PERLAWANAN/ Perang Gunung Merakso sendiri dipimpin oleh Radja Tiang Alam (Masiun) bin Jemuddin bin Ali Hanafiah bin Zainuddin. yang mati matian berperang dengan belanda.

Cerita ini ditulis dalam laporan Expedisi Belanda ke Palembang (Gunung Merakso) 1812-1889, Laporan itu ditujukan kepada Ratu Belanda. Disitu dengan jelas dituliskan ada dua panglima perang yang hebat yang banyak menghabiskan tentara dan logistik Belanda, perang dalam menumpas Sultan Palembang dan perang dalam menumpas Radja Tiang Alam Gunung Meraksa.

Tahun 1856 Gunung meraksa ditaklukkan Belanda, Radja Tiang Alam ditangkap. dibawa ke Palembang lalu di adili di Batavia, dan Tahun 1858 Radja Tiang Alam diasingkan ke Salatiga, Jawa Tengah.

Radja Tiang Alam baru berhasil ditangkap pada tanggal 3 April 1856 lalu dibawa ke Palembang lalu di adili di Batavia, dan Tahun 1858 Radja Tiang Alam diasingkan ke Salatiga, Jawa Tengah. (lihat Leydse courant, 02-07-1856).

Radja Tiang Alam meninggal di Salatiga (lihat De locomotief: Samarangsch handelsen advertentie-blad, 08-10-1873).

Memang selama ini perlawanan Raja Tiang Alam ini tidak muncul dalam sejarah? Melawan Luitenan Colonel dan Majoor bukanlah perkara kecil apalagi perjuangan selama lima tahun (1851-1856) bukanlah waktu yang singkat.

Setelah diasingkannya Radja Tiang Alam, situasi dan kondisi keamanan di Residentie Palembang mulai dapat dipulihkan. Pertumbuhan dan perkembangan Kota Palembang mulai kondusif. Pemerintah kemudian memperluas pemerintahan dengan memasukkan wilayah baru yang meliputi wilayah Kerajaan Djambi yang berkedudukan di pelabuhan Moeara Kompeh (pada tahun 1858 telah dilakukan kontrak).

Pada tahun 1867 Residentie Palembang terdiri dari lima afdeeling. Jumlah penduduk pribumi pada tahun 1867 adalah sebanyak 530.107 jiwa (sudah termasuk 111.000 di Pasemah dan Djambi. Residen Palembang yang diangkat pada tahun 1867 adalah JAW van Ophuijsen.

Jumlah orang Eropa/Belanda sendiri sebanyak 153 orang (Tionghoa 3.090 orang dan Arab 1.911orang).

Orang-orang Eropa/Belanda biasanya berdiam di ibukota-ibukota. Ibukota Residentie di Palembang tempat dimana berkedudukan Residen. Dua asisten residen berkedudukan di Tebing Tinggi (Afdeeling Tebing Tinggi) dan Lahat (Afdeeling Lematang Oeloe en Ilir). Controelur berkedudukan di Moeara Bliti; Talang Padang; Kapahiang; Moeara Doea; Batoe Radja; Moera Enim; Moeara Roepit; Sekajoe; Tandjong Radja; Kartamoelia; Sirapoeloe Padang; dan Pangkalan Balei.

Controleur adalah kepala pemerintahan sipil terendah. Di wilayah Djambi belum terdapat pemerintah sipil, masih semi militer yang dipimpin oleh seorang Kapiten dan di Moera Kompeh seorang Luitenant.

Residentie Palembang pada tahun 1870 afdeeling baru yang meliputi wilayah Djambi telah dipisahkan tetapi di Residentie Palembang juga terjadi pemekaran sehingga keseluruhan menjadi sembilan afdeeling: (1) Hoofdplaats Pelembang; (2) Tebing Tinggi; (3) Lematang Oeloe; (4) Komerng Oeloe; (5) Rawas; (6) Moesi Ilir; (7) Ogan Ilir en Blidah; (8) Komering Ilir; (9) Haran en Banjoeasin.

Tiga afdeeling dibagi ke dalam beberapa onderfadeeling. Afdeeling Tebing Tinggi sendiri terdiri dari empat onderfadeeling: Moesi Oeloe; Kikim; Ampat Lawang; dan Redjang en Lebong.

Pada tahun 1870 secara keseluruhan di Residentie Palembang terdapat sebanyak 181 orang Eropa; China 2.413 orang; Arab 1.882 orang; penduduk pribumi 451.539 orang. Pada tahun 1870 residen masih dijabat oleh JAW van Ophuijsen.

Situasi pada tahun 1870 ini sudah jauh berubah jika dibandingkan situasi pada dua dasawarsa sebelumnya pada tahun 1847. Jumlah orang Eropa/Belanda di Palembang tahun 1847 sebanyak 24 orang (bandingkan dengan tahun 1836 baru sebanyak 12 orang).

Sementara itu , Menke de Groot menuliskan kisah mengenai ekspedisi ke Palembangs Bovenlanden (Pedalaman Palembang/Goenoeng Merakso ) merupakan ekspedisi hukuman dari Tentara Kerajaan Hindia Belanda ke Palembang di Sumatra (1851-1859) untuk menghilangkan gangguan di pedalaman Palembang, bahkan setelah ekspedisi ke

Palembang pada 1819 dan 1921 masih selalu ada ketegangan di pedalaman Palembang.

Salah satu kesalahan Pemerintah Hindia Belanda adalah pemerintah gagal menghormati otoritasnya, tetapi membiarkan penduduk yang cinta damai dirampok oleh kelompok –kelompok militan dari tempat lain, tanpa menghukum yang bersalah.

Hasilnya adalah bahwa penduduk tidak hanya kehilangan kepercayaan pada kekuatan pemerintah, tetapi juga ada penduduk yang bergabung dengan negara-negara perampok untuk mendapatkan bagian dari hasil curian dan perampokan.

Pada tahun 1828 Kranga Wira Lentika, kepala Lematang, telah dibalas dendam oleh para orang-orang Passum; orang-orang ini melintasi perbatasan dan bahkan mendekati kota Palembang.

Pada tahun 1830 sebuah pemberontakan pecah di Lobo-Poeding sebagai akibat dari peningkatan harga sewa tanah.

Pada 1835 pasukan Belanda mengepung di Kaban selama lebih dari 40 hari; berulang kali permusuhan terjadi di mana-mana di wilayah-wilayah ini; pada tahun 1841 dan pada tahun 1842 malah beberapa tentara Eropa dibunuh dan akhirnya pos Belanda diserang di Moeara-Klingie; namun tidak satu pun dari para pelaku gangguan ini dihukum sehingga tidak ada rasa hormat sedikit pun terhadap pemerintah dan tindakan orang jahat ini meningkat ketika pemerintah menunjukkan ketidakberdayaan yang lebih besar.

Hal ini memicu kerusuhan lebih jauh. Alih-alih Belanda bertindak dalam semangat pemerintah, penduduk semakin ditekan dengan pajak tanah menjadi beban penduduk, jauh lebih besar daripada pajak yang sebelumnya dikenakan oleh sultan.

Belanda tahu begitu banyak pengaruh sehingga bisa memicu pemberontak rakyat setiap saat, yang sangat membenci pemerintah sehingga perlu bertindak dengan paksa melalui pemerintah.

Populasi Ampat Lawang sendiri , bagian dari asisten residensi Tebing-Tinggi, residensi Palembang, berulang kali terjadi pemberontak dan semangat perlawanan telah menjadi begitu luas bahwa pada tahun 1850 .

Ketika Letnan Kolonel De Brauw akan menaikkan pajak tanah , akibatnya komandan divisi Goenong-Maraksa tersinggung dan lagi beberapa tentara tewas oleh penduduk Lintang-Kiri .

De Brauw melakukan upaya untuk menundukkan Tiang-Alam, tetapi penduduk telah memperkuat diri di Oedjong-Ali; komandan, di bawah komando Kapten C. Meijer, sekarang diperintahkan untuk maju ke Oedjong-Ali.

Sepanjang jalan ada pertempuran terus-menerus dengan para pemberontak dan dengan Goenong-Maraksa pasukan itu ditunggu oleh seribu musuh bersenjata berat. Walaupun berhasil melarikan diri dari musuh, tetapi karena kurangnya pasukan di daerah yang memberontak, mereka tidak dapat melakukan apa-apa kecuali mundur ke Tebing-Tinggi.

Sebuah ekspedisi harus dikirim ke Ampat-Lawang sekarang karena di sana juga dan di Lematang-Ulau ada pemberontakan; Gubernur sekarang dipecat dan dipindahkan ke Batavia, tetapi masih diperlukan ekspedisi baru.

Lematang Ulu bukan satu-satunya kabupaten yang memberontak, bahkan di Kikim, Moesie-Uluw dan Ampat-Lawang, dan tidak kurang dari 20 marga yang mengancam melakukan pemberontakan.

Sekarang ada pemberontakan terjadi : ketika Residen meninggalkan Brauw, Palembang, Tebing-Tinggi, Labat, dan Moeara-Klingie dikelilingi oleh musuh dan terputus dari hubungan luar oleh benturan komunikasi; 26 distrik mengalami pemberontakan total dan para pemberontak muncul di dekat ibu kota;

Setelah itu tindakan ofensif pemerintah, orang-orang telah maju sejauh ini sehingga kontak antara benteng-benteng telah saling dipulihkan, para pemberontak dipukul mundur ke mana-mana dan penduduk di Ampat-Lawang mulai kembali ke wilayahnya.

Sementara itu, di garnisun Tebing-Tinggi timbul penyakit menular menjadi wabah yang menelan korban 150 orang dan itu perlu untuk itu Belanda mengirim pasukan baru.

Pada awal 1852 ekspedisi ke Ampat-Lawang yang sebelum permulaan tahun 1853 semua pemberontak yang akan menjadi sasaran; di tahun-tahun berikutnya, pemberontakan kecil terus-menerus harus dibendung oleh Belanda, dan hingga 1859, pasukan harus dikirim beberapa kali untuk menekan pemberontakan yang membara di Ampat Lawang. ‘’’

Sumber:

1. Poestaha Depok, Sejarah Kota Palembang (2): Pembentukan Pemerintahan dan Tata Kota Palembang; Pribumi di Ilir, Cina Eropa di Ulu (1825)
2. http://beritapagi.co.id/2019/11/24/pangeran-goetika-fiktif-atau-nyata.html
3. http://beritapagi.co.id/2018/09/08/ekspedisi-pedalaman-palembang-goenoeng-merakso.html
4. Nederlandsekrijgsmacht.nl
5. kuris.wordpress.com
6. 1900. W.A. Terwogt. Het land van Jan Pieterszoon Coen. Geschiedenis van de Nederlanders in oost-Indië. P. Geerts. Hoorn
7. 1900. G. Kepper. Wapenfeiten van het Nederlands Indische Leger; 1816-1900. M.M. Cuvee, Den Haag.
8. 1876. A.J.A. Gerlach. Nederlandse heldenfeiten in Oost Indë. Drie delen. Gebroeders Belinfante, Den Haag.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here