Home Headline News 10 Warga Sumsel Terdampar di Tanjung Kalian Babel

10 Warga Sumsel Terdampar di Tanjung Kalian Babel

0
Warga Sumsel yang terdampar di Pelabuhan Tanjung Kalian, Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Foto: Ist

Ada yang Hamil 3 Bulan

BABEL.PE – Setidaknya sekitar 10 warga Sumsel saat ini terdampar di Pelabuhan Tanjung Kalian, Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Mayoritas pekerja sektor informal yang menjadi korban PHK ini, terganjal kebijakan Gubernur Babel yang tidak membuka akses penyeberangan ke Sumatera.

Kepada Palpres.com, Des Kurniawan, SH, Kabid Gakkum Satpol PP Pemkab Bangka Barat, menjelaskan para warga Sumsel itu sudah terdampar di Tanjung Kalian selama satu minggu.

“Yang cukup memprihatinkan, diantara mereka ada 4 perempuan, yang satu diantaranya sedang hamil 3 bulan. Namanya Indri, warga 5 Ulu Palembang. Warga lainnya ada yang dari Aurstanding, Pemulutan, ” jelas Des, saat dihubungi via pesan singkat WhatsApp, Jumat (1/5).

Diakui Des, para warga Sumsel itu terganjal kebijakan Gubernur Babel yang selama wabah Covid-19 tidak membuka akses penyeberangan terhadap orang-orang tersebut.

“Padahal mereka semua korban PHK, dan tidak ada kerja lagi. Berkaca pada surat Gubernur Lampung dan pernyataan GM Pelabuhan Tanjung Kalian, sebetulnya mereka bisa dilepas jika ada rekomendasi kepala daerah setempat. Seperti sejumlah warga Lampung yang bisa menyeberang, setelah ada rekomendasi dari Gubernur Lampung,” papar alumni FH UNSRI ini.

Des berharap adanya rekomendasi juga dari pejabat di Sumsel agar warganya bisa juga diseberangkan. “Kasihan mereka. Hidup terkatung-katung disini. Tidur sembarang tempat, makanan tidak ada dan belum mendapat perhatian dari pemerintah setempat,” ungkap Des.

Sebelumnya, kata Des, juga ada satu keluarga warga Muratara yang sempat juga terkatung-katung di Tanjung Kalian. Warga itu bernama Sahirin, yang bermaksud membawa anak istrinya pulang ke kampung halaman di Musirawas Utara Provinsi Sumsel.

Sahirin bersama anak dan istrinya yang sedang hamil 8 bulan, pada 24 April 2020 lalu tiba di Pelabuhan Tanjung Kalian dan tidak diperbolehkan untuk menyeberang, sesuai dengan Edaran Kementerian Perhubungan RI.

“Karena faktor kemanusiaan, saya usahakan bagaiamana Bapak ini bisa menyeberang bersama anak istrinya. Saya akan bertanggungjawab, memang secara aturan tidak boleh, tapi ini adalah kemanusiaan, istrinya sedang hamil 8 bulan, jangan dibiarkan terlantar lagi,” ujar Des. SLS.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here