Home Sejarah P.S.I.I. Cabang Palembang, Melanjutkan Perjuangan Sarekat Islam Tahun 1933 (Bagian Kelima)

P.S.I.I. Cabang Palembang, Melanjutkan Perjuangan Sarekat Islam Tahun 1933 (Bagian Kelima)

0
Kampanye PSII di Pemilu Tahun 1955
Dudi Oskandar.

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

Struktur Organisasi dan Program Kerja

STRUKTUR Struktur pimpinan pusat Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dibagi menjadi dua, yaitu: (1) Dewan Partai, bertugas sebagai badan pembuat aturan, dan (2) Lajnah Tandfidziyah sebagai badan yang menjalankan penetapan-penetapan partai yang terdiri dari direktur departemen (Urusan Umum, Keuangan, Ibadat, Pengajar, Perburuhan, Pertanian, Pergerakan Wanita, dan Pergerakan Pemuda).

Sedangkan Program Jangka Panjang disebut sebagai “Program Tandhim” menggambarkan langkah-langkah operasional yang secara terus-menerus hendak dilaksanakan partai dalam rangka mencapai cita-cita kemasyarakatan sebagaimana yang tertuang di dalam Program Asas.

Program tersebut mencakup dua hal utama, yaitu sandaran atau landasan perjuangan partai dan kebijakan pokok mengenai berbagai usaha organisasi.

Landasan perjuangan terdiri dari tiga prinsip (Trilogi) yaitu berdasarkan pada ‘sebersih-bersih tauhid, setinggi-tinggi ilmu, dan sepandai-pandai siasah.

Program Asas dan Program Tandhim mencerminkan jawaban atas berbagai permasalahan yang dihadapi umat Islam pada permulaan abad ke-20. Sesudah Indonesia merdeka kedua program itu tetap dipertahankan tanpa perubahan, dan tetap berlaku sebagai program induk organisasi

Secara terperinci program dalam bidang agama termaktub dalam “Tafsir Program Tandhim” sebagai berikut: (1) Meluruskan prikehidupan umat Islam sesuai dengan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, (2) Meluruskan pemikiran yang salah tentang Islam, (3) Mencegah perpecahan sesama umat Islam dan perselisihan dalam masalah khilafiyah, (4) Menggiatkan amal salih dan ibadah, (5) Mencegah adanya intervensi orang lain (bukan orang Islam) dalam urusan agama Islam, dan (6) Memajukan sekolah-sekolah Islam.

Program Asas berisi pokok-pokok pikiran tentang ideologi perjuangan partai yang merupakan pedoman bagi aktivis PSII dalam melakukan gerakan organisasi. Program ini berintikan enam langkah, yaitu: (1) persatuan umat Islam, (2) kemerdekaan umat, (3) sifat negara dan pemerintahan, (4) penghidupan ekonomi, (5) keadaan derajat manusia didalam pergaulan hidup bersama dan di dalam hukum, (6) dan kemerdekaan yang sejati.

Anggaran Dasar Sarekat Islam (SI) sesudah menjadi PSII menetapkan ada tujuh sumber keuangan partai yang bisa digali. Ketujuh sumber itu adalah: (1) Uang pangkal atau biasa juga disebut uang antree; (2) Uang iuran dan kontribusi; (3) Infaq; (4) Sadaqah; (5) Zakat dan fitrah; (6) Wakaf dan lain-lain pemasukan yang sah dan halal; dan (7) PSII menerapkan sistem pungutan beras parelek (segenggam beras yang diambil dari jatah beras yang akan dimasak untuk keperluan makan sehari-hari).

Usaha yang dilakukan PSII dalam bidang ekonomi diantaranya mendirikan beberapa Departemen Ekonomi dan Perdagangan.

Melalui Departemen ini sekitar tahun 1929-1930 PSII membentuk koperasi dengan motto dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat.

PSII menganjurkan rakyat meningkatkan produksi pangan dan sandang dengan perluasan pertanian dan penanaman kapas demi kepentingan pertenunan. PSII banyak mengadakan rapat propaganda pada bulan Maret, dengan tema anti-imperialisme, melancarkan kritik pada pemerintah kolonial tentang banyaknya jumlah pengangguran, beratnya pajak dan lain-lain.

Partai juga menyusun program dalam bidang agraria pada tahun 1933. Program Agraria mengemukakan segala penderitaan yang disebabkan oleh penyewa tanah dan praktek agraria lain oleh pihak Belanda di Indonesia dengan mengorbankan kepentingan rakyat.

Terutama penolakan pemerintah terhadap permintaan rakyat untuk mengolah tanahtanah baru. Program tersebut menyarankan untuk mengatasi keadaan ekonomi yang memburuk dari rakyat dengan mengadakan tuntutan kepada pemerintah sebagai berikut:
(1) Membuka tanah-tanah baru kecuali bagian yang diperlukan untuk kepentingan hutan, (2) Penyetopan pemberian hak-hak konsesi tanah, dan (3) Distribusi tanah-tanah yang perjanjiannya tidak dipenuhi seluruhnya oleh si penyewa .

P.S.I.I. juga telah berhasil mendirikan banyak koperasi karet yang berpusat di Kota Palembang dengan nama: (C)entral (P)embelian Karet.

Demikian pula telah mendirikan apa yang dinamakannya “Darulmashrif” semacam bank dan “Chizanatullah” (semacam fonds atau dana ), untuk kepentingan para anggota. ***

Sumber:

1. Maya Yunita Alumni Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) Alian Sair, Hudaidah Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unsri , Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dalam menghadapi krisis malaise di Palembang tahun 1930-1940.
2. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
3. Kepialangan Politik dan Revolusi ; Palembang 1900-1950, Mestika Zed, LP3ES, Jakarta , April 2003
4. Sarekat Islam dan Pergerakan Politik di Palembang, Dra. Triana Wulandari, Muchtaruddin Ibrahim, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta , 2001
5. Pers Perlawanan, Politik Wacana Antikolonialisme Pertja Selatan, Basilius Triharyanto, September – 2009
6. http://www.konstituante.net/id/profile/PSII_pangku_bin_oemar›.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here