Home Pilihan Redaksi Antara Puasa dan Muroqobah

Antara Puasa dan Muroqobah

0

Oleh Ustaz Prio Handoko SSy
Guru Ma’had Zaadul Maad Palembang/Alumnus STDI Imam Syafii Jember

KETIKA seseorang berpuasa, dia menahan diri dari kebutuhan-kebutuhan yang urgent yaitu makanan dan minuman. Tapi dia rela menjalankan perintah Allah, untuk menahan keduanya. Maka bersyukurlah kepada Allah karena kita bisa merasakan hakikat kenikmatan dari makan dan minum tatkala berpuasa.

Ketika orang berpuasa, maka pada saat itu bertambahlah kualitas ketakwaannya, kualitas muraqabah, pengawasan diri kepada Allah Ta’ala. Dia sadar kalau Allah dan keilmuan-Nya, kehebatan-Nya, keagungan Allah selalu mengawasinya. Di manapun dia berada, di tempat yang tertutup, gelap ataupun terang, dia yakin bahwa Allah selalu memperhatikannya.

Rasulullah bersabda, ibadah yang kita lakukan apapun itu berlandaskan muraqabah. Ketika orang berpuasa, ketika orang salat, ketika orang zakat, dan yang lainnya.

Di dalam ibadah-ibadah tersebut terdapat unsur pengawasan diri dia kepada Allah. Kenapa dia mau untuk beribadah? Karena Allah, Allah melihat segala sesuatu yang dilakukan.

Ketika orang berpuasa, tidak ada satupun makhluk yang bisa mengetahui kalau dia betul-betul menahan dirinya dari apa-apa yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari.

Ketika dia dalam kesendiriannya, ketika dia di dalam kamar, ketika dia sedang berwudhu, kemungkinan besar mungkin dia akan menghirup sedikit atau setetes dari air yang keluar dari keran tersebut, untuk menghilangkan dahaganya setelah berpuasa.

Dan tidak ada satupun orang yang mengetahuinya ketika dia di kamar mandi, hanya dia dan Allah saja yang mengetahui apa yang dia lakukan. Kemungkinan besar, dia bisa melakukan hal tersebut, untuk minum air dari keran tersebut.

Ketika dia dalam kesendirian, tidak ada mata-mata manusia yang mengawasi dan melihatnya. Maka disitu ketika orang betul betul berpuasa, memaksimalkan dirinya untuk berpuasa, maka saat itulah dia semakin meningkat kualitas muraqabah kepada Allah. Orang yang melakukan sesuatu kemaksiatan, itu sebab bahwasanya melemah keimanannya kepada Allah. Kalau dia tidak yakin bahwasanya Allah melihatnya ataupun dia meyakini hal tersebut, akan tetapi dia begitu enaknya ketika bermaksiat mendahulukan hawa nafsunya daripada perintah Allah dan larangan-Nya.

Allah berfirman dalam Al Quran surat Ali Imron ayat 5, “Sesungguhnya Allah mengetahui segalanya walaupun yang tersembunyi tidak ada satupun yang tersembunyi di langit dan di muka bumi ini”.

Begitu juga Allah menegaskan dalam Al Quran surat An-Nisa ayat pertama, “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kita lakukan, mengawasi apa yang kalian lakukan”.

Kemudian di dalam Al Quran Surat Al Hadid ayat 4, Allah berfirman, “Di manapun kalian berada Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui apa-pa yang kalian lakukan”.

Begitu banyak dalil ayat atau hadis nabi yang menerangkan kepada kita semua, tatkala hamba beramal saleh, tatkala hamba bermaksiat, melakukan sesuatu keharaman, saat itu Allah mengetahui apa yang dia lakukan.

Tetapi ketika orang berpuasa dia mampu menahan apa-apa yang membatalkan puasanya mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari walaupun tidak di hadapan manusia.

Ketika dia sendirian di kamarnya di tempat-tempat yang tidak ada manusia, di situ dia sadar bahwa Allah melihat, dia mampu untuk menahan segala macam bentuk yang membatalkan puasanya. Ini adalah hikmah yang begitu besar yang diperoleh bagi orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadan. (*)

Catatan: Tausiyah ini dapat anda saksikan dan simak secara lengkap di Youtube Channel Palpres Official.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here