Home Pilihan Redaksi CITA-CITA TERTINGGI

CITA-CITA TERTINGGI

0

Oleh: Ustaz Akhiruddin Lc
Guru Ma’had Zaadul Maad Palembang/Alumnus LIPIA Jakarta

KALAU kita bertanya kepada anak-anak, cita-citanya apa? Pasti kita akan mendengarkan jawabannya berbeda-beda. Mulai dari kepingin jadi dokter, profesor, pelaut, hingga jadi presiden. Banyak sekali cita-cita yang mereka sebutkan.

Karena mereka menganggap itulah cita-cita yang tertinggi. Karena kebiasaan mereka mendengar, mungkin di sekolah mereka, teman-teman mereka, ayah ibu mereka yaitu ungkapan gantungkan cita-citamu setinggi langit.

Pernahkah kita mengajarkan kepada anak-anak, cita-cita yang sangat tinggi, lebih tinggi dari itu bahkan lebih tinggi dari bintang Tsurayya, yaitu cita-cita yang tidak bisa ditandingi dengan cita-cita apapun. Cita-cita yang berkenaan dengan akhirat, cita-cita meraih surganya Allah.

Karena dunia, cita-cita yang disebutkan berkaitan dengan dunia, selama dia masih di dunia, qalil (sedikit). Allah katakan kenikmatan yang sangat sedikit, nikmat dunia sudah digabungkan tapi tetap masih sedikit.

Nabi Muhammad mengatakan, dua rakaat yang dikerjakan seseorang sebelum salat Subuh, itu lebih besar pahalanya, lebih baik buat dirinya daripada dunia beserta isinya. Dua rakaat sebelum Subuh apalagi salat subuhnya.

Allah katakana, sesungguhnya akhirat itu lebih bagus, lebih kekal. Bagaimana tidak. Bagus pasirnya saja dari mutiara. Surga itu kenikmatan yang sangat tinggi, cita-cita yang paling tingi yang harus ditanamkan kepada anak-anak kita.

Ada sebuah contoh. Dikisahkan, seorang sahabat sekaligus pembantu Nabi Muhammad, yang mencontohkan kepada kita bahwa cita-cita seperti ini walaupun keadaan kita yang mungkin miskin, mungkin keadaan kita hidup di emperan atau di masjid karena belum punya rumah. Dia mengajarkan kepada diri kita cita-cita seperti ini.

Jangan sampai anak-anak kita cita-citanya suatu yang rendahan, cita-cita itu harus tinggi, yang melebihi semuanya, mengalahkan semuanya. Sahabat dimaksud adalah Rabiah Bin Ka’ab. Diketahui Nabi Muhammad memiliki pembantu sekitar 15 sampai 16 orang di antaranya beliau. Dia ini pembantu yang rajin dan cerdas. Dia adalah pembantu yang senantiasa membantu menyiapkan air wudhu Nabi Muhammad.

Apa pun yang diinginkan Nabi Muhammad dia kerjakan. Pada suatu hari dia telah memberikan bantuan kepada Nabi Muhammad sampai siang, dari pagi sampai siang, terus dia ingin memberikan bantuan kepada Nabi Muhammad.

Dia senantiasa menanti Nabi Muhammad tiba waktu salat Isya, mungkin Nabi ada keperluan butuh sesuatu, dia tunggu sampai- sampai mengantuk. Demikianlah kecintaan dan ketaatan dia kepada Nabi Muhammad.

Di suatu kesempatan, Nabi Muhammad mendatangi dia, lalu dia terbangun. Ketika itu Nabi mengatakan kepadanya, “wahai Rabiah minta lah, pasti kuberi.”

Kalau kita ditanyakan pertanyaan seperti ini, pasti kita akan menjawab minta mobil, minta motor, atau uang dan emas. Tapi Rabiah bin Ka’ab ini bukan sembarang orang. Memang dia itu orang yang hidup di pelataran masjid tapi dia cerdas, dididik oleh Nabi Muhammad.
Lalu Rabiah mengatakan yang maknanya saya pikir-pikir dulu jawabannya, Masya Allah. Lalu dia pulang dulu ke rumahnya, dia pikirkan jawabannya. Besoknya dia datang lagi ke Nabi Muhammad.

“Wahai Rabiah apa yang kau ingin pinta? Apa yang kau pikirkan?,” tanya Nabi Muhammad. Lalu disampaikannya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, saya berpikir dunia ini akan sirna, dunia akan hancur, rizkiku telah dicatat oleh Allah dan dia akan datang sendiri kepadaku. Maka aku memikirkan permintaan tentang akhiratku. Aku ingin meminta kepada dirimu agar engkau nanti memberikan syafaat kepada diriku, agar aku tidak dimasukkan ke neraka, atau aku dimerdekakan Allah dari api neraka.”

Dalam riwayat yang lain kata Rabiah, “Wahai Rasulullah, aku meminta kepadaMu supaya aku bisa menemanimu di surga.” Sungguh cita-cita yang sangat tinggi.

Kata Nabi, “Ini aku akan mengerjakannya, aku akan melakukannya, kalau seperti itu permintaanmu. Maka kalau seperti itu permintaanmu, maka bantulah aku memperbanyak sujud, memperbanyak salat.”

Tingkatan yang paling tinggi di seluruh Nabi, dari seluruh manusia yang mendapatkan maqomam mahmudah, Nabi Muhammad, Rabiah mendapatkannya. Rabiah diberikan Nabi apa yang dia pinta, yaitu menemani Nabi di surga.

Inilah cita-cita yang tinggi yang setiap kita, anak-anak kita cucu kita, semuanya harus tahu yang seperti ini. Sehingga mereka tidak tertipu dengan hinanya dunia ini. Dunia yang tidak ada harganya di sisi Allah tentunya, ada di sisi kita berharga dunia tetapi di sisi Allah tidak ada harganya. Kenikmatan yang sedikit, kenikmatan yang menipu, banyak orang tertipu dengan dunia.

Umurnya sudah tua baru ingat, kenapa? karena dia tidak memiliki cita-cita, dia punya cita-cita tapi salah. Mungkin setelah menyimah tausiyah singkat ini kita bisa merubah cita-cita kita. Semua kaum muslimin harus bercita-cita seperti ini, seperti cita-citanya Rabiaah Bin Ka’ab ini yaitu meraih surganya Allah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang dimuliakan oleh Allah, mendapatkan, menginginkan cita-cita yang tinggi sehingga kita kelak nanti bersama Rasulullah di Surga Firdaus. (*)

Catatan: Tausiyah ini dapat anda saksikan dan simak secara lengkap di Youtube Channel Palpres Official.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here