Home Pilihan Redaksi Syarat Diterimanya Amal (bagian 1)

Syarat Diterimanya Amal (bagian 1)

0

Oleh: Ustaz Akhirudin Lc
Guru Ma’had Zaadul Maad Palembang/Alumnus LIPIA Jakarta

TUJUAN kita diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah ibadah. Memperbanyak amal saleh. Memperbanyak bekal sebelum kita bertemu dengan Allah Ta’ala. Karena pertemuan dengan Allah adalah pertemuan yang sangat besar, sampai-sampai Allah mengatakan, “Takutlah kalian, hari di mana kalian bertemu dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”
Oleh karena itu kita diperintahkan oleh Allah, memperbanyak bekal, memperbanyak bawaan, sebelum kita nanti bertemu dengan-Nya. Kata Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Berbekallah kalian, banyakkanlah bawaan, sebaiknya bekal adalah taqwa kepada Allah.

Karena orang-orang yang mereka banyak bekalnya, maka mereka insyaa Allah, dengan izin Allah, mereka akan mendapatkan maqam, tempat yang tinggi di sisi Allah, tinggi nanti derajatnya di surga.”

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Bagi setiap mereka derajat, tingkatan, yang tinggi dari apa yang telah mereka amal, dari apa yang mereka kerjakan di dunia.”
Jadi surga itu, tinggi sekali. Subhanallah. Disebutkan dalam hadis, surga itu tingginya 100 tingkat, setiap satu tingkat menuju tingkat berikutnya sama saja kita melihat langit, tinggi sekali. Subhanallah.

Sedangkan kita tahu tinggi langit itu sudah sangat tinggi dan ini ada seratus tingkat. Alangkah ruginya nanti, alangkah sedihnya nanti, tatkala orang-orang lain berada di tingkat yang tinggi, sedangkan kita berada di tingkat yang bawah.

Sekarang untuk meninggikan derajat kita di sisi Allah, kita harus memiliki cita-cita yang tinggi, mendapatkan surga yang paling tinggi yaitu surga Firdaus Al A’la.

Sebagimana kata Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, “Jika kalian meminta kepada Allah, meminta surga kepada Allah, mintalah surga yang paling tinggi yaitu surga Firdaus Al A’la.”

Jangan kita hanya minta yang penting masuk surga saja. Sebagaimana anjuran Nabi, “Ya Allah berikan aku surga Firdaus Al A’la.”

Oleh karena itu Nabi mengajarkan kita begitu, kalau meminta kepada Allah, mintalah surga 3 kali, minta lindungi dari neraka 3 kali, supaya dikabulkan oleh Allah. Kenapa kita tidak boleh, “Ya Allah, yang penting masuk surga.”

Ketahui, golongan yang terakhir keluar dari api neraka pun masuk surga. Bahkan dia pun mendapatkan kenikmatan surga, 10 kali lipat dunia. Bayangkan tingkat yang paling rendah itu yang paling akhir keluar dari neraka, apalagi derajat yang paling tinggi. Syurga Firdaus Al A’la. Subhanallah.

Jadi kita sebagai insan yang diciptakan oleh Allah, dalam rangka ibadah, bersemangat, hendaklah kita ini bergegas bersegera menuju surganya Allah. Bersegeralah kalian menuju surga Allah yang luasnya, seluas langit dan bumi.

Kita saja melihat langit yang pertama itu penuh dengan galaksi, planet. Subhanallah. Bayangkan dibagikan kepada kita satu-satu, alangkah luasnya kekuasaan kita nanti pada hari kiamat. Ini diberikan 10 kali lipat dunia, sungguh rugi mereka yang tidak memperbanyak bekal, tidak memperbanyak ibadah selama di dunia.

Tapi pertanyaan selanjutnya, apakah setiap ibadah kita diterima oleh Allah? Apakah ibadah kita, kalau kita beramal langsung diterima oleh Allah? Tentu jawabannya tidak, tidak semua yang kita kerjakan diterima oleh Allah. Berapa banyak orang beramal tapi yang dia dapatkan, tidaklah kecuali capek lelah saja. Kenapa? karena tidak memenuhi syarat-syarat diterima amal tersebut.

Insya Allah hari ini kita akan membahas dua syarat diterimanya amal ibadah kita. Syarat yang pertama diterimanya amal yaitu Al-Ikhlashu Lillah. mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah, bukan yang lain. Makna ikhlas, seorang yang salat, sedekah, hanya mengharapkan rida Allah, wajah Allah, mengharapkan rahmat Allah, bukan riya’, sum’a, minta dilihat orang.

Kalau ada orang, semangat sekali salatnya, rajin sedekahnya, baca Al Quran suaranya bagus tapi kalau tidak ada orang lain suaranya cempreng, tajwidnya blepotan, asal-asalan mengaji. Tapi kalau ada orang lain suaranya dibaguskan, ini sum’ah. Nah, ini tidak diterima oleh Allah amalnya, karena amal harus ikhlas.

Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran Surah Al Bayyinah yang artinya, “Tidaklah mereka diperintah, diperintahkan untuk ibadah, melainkan mengikhlaskan ibadah tersebut, hanya untuk Allah.” Karena Allah yang menciptakan kita, karena Allah memberikan rezeki kepada kita, maka hanya dia yang patut kita berikan ibadah kepada-Nya semata.

Hadis sahih diriwayatkan seorang tabi’in bernama Syufayya, datang dari negeri Isfahan menuju Madinah. Tiba di Madinah dia melihat di sisi Masjid Nabawi banyak kumpulan manusia. Lalu dia mendatangi tempat tersebut.

Dia melihat ternyata di situ ada seorang sahabat Nabi Muhammad yang bernama Abu Hurairah tengah menyampaikan ilmu di khalaqahnya. Setelah orang-orang pergi dari sisi Abu Hurairah. Setelah selesai mendapatkan ilmu kemudian dia mendatangi Abu Hurairah dan bertanya, “Wahai Abu Hurairah sampaikan sebuah hadis yang engkau dengar langsung, yang engkau hafal, yang kau pahami.”

Lalu Abu Hurairah mengatakan, “Aku akan menyampaikan kepadamu hadis tersebut.” Sembari menarik nafas panjang Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, lalu pingsanlah Abu Hurairah. Kemudian Abu Hurairah sadar, lalu saat dia mengatakan Rasulullah bersabda namun pingsan lagi.

Kemudian beliau sadar lagi dan ingin menyampaikan hadis, pingsan lagi, sampai kali yang keempat beliau pun pingsan lagi. Subhanallah.

Selanjutnya beliau sadar, lalu membawakan hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, sesungguhnya Allah nanti pada hari kiamat turun menuju hambaNya untuk menyelesaikan urusan- urusan hamba-Nya. Dan pada waktu itu, semua manusia bertekuk lutut di hadapan Allah.

Orang yang pertama kali dipanggil adalah orang yang hafal quran, dan kedua dipanggil adalah orang yang meninggal di medan perang, dan yang ketiga adalah seorang yang hartanya sangat banyak. Dipanggil Allah satu-satu.

Kepada yang hafal Alquran, dikatakan kepada dirinya apa yang dia telah amalkan dari ilmu yang telah Kami berikan, sungguh aku telah mengajarkan kepadamu apa itu Aku turunkan kepada Rasul. Lalu dia mengatakan, ya Allah aku telah amalkan, aku telah baca siang malam dan aku telah mengamalkan isinya. Kata Allah, engkau berdusta, Malaikat pun ikut berbicara, dia ini berdusta. Engkau itu baca Al-quran, hafal Al Quran, supaya engkau disebut qori’, lalu diseret dia ke neraka.

Lalu dikatakan yang kedua yaitu orang yang mati di medan perang. Allah katakan kepadanya, kenapa engkau mati di medan perang? Orang ini mengatakan, telah datang perintah kepadaku untuk berjihad, lalu aku berperang, dan aku mati di sana. Lalu kata Allah berdusta, malaikat mengatakan engkau juga pendusta.

Kemudian yang terakhir, yaitu seorang yang rajin sedekah, dikatakan kepadanya apa yang kau telah amalkan, yang engkau ketahui? lalu dia katakan dengan yang maknanya dia telah bersedekah sebanyak-banyaknya, setiap tempat yang Kau ridai melainkan dia sedekah di situ. Kata Allah, engkau banyak sedekah, engkau banyak melakukan itu, supaya dikatakan Dermawan.

Lantas kata Abu Hurairah, mereka ini, 3 orang ini pertama kali dinyalakan api neraka kepada mereka.

Dari sini, kita ketahui, begitu pentingnya ikhlas, sampai-sampai yang pertama kali dinyalakan api neraka itu, buat mereka. Padahal orang kafir ada, orang munafik ada, tapi kenapa yang pertama kali dinyalakan api itu justru mereka. Supaya kaum muslimin, benar-benar ikhlaskan ibadah hanya kepada Allah, tidak menyekutukan Allah karena ini adalah kesyirikan. Syirik kecil. Riya’ adalah dosa besar yang wajib dijauhi.

Hadis ini pernah disebutkan kepada Muawiyah sahabat Nabi Muhammad disampaikan kepada beliau, beliau menangis terisak-isak sampai tidak sadarkan diri. Inilah menunjukkan pentingnya ikhlas, pentingnya kita mempelajari ikhlas, jangan sampai kita beramal, tidak ikhlas kepada Allah, tidak mengharap wajah Allah, karena Allah mengatakan barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Allah maka hendaklah dia beramal saleh. Dan jangan menyekutukan Allah. (*)

Catatan: Tausiyah ini dapat anda saksikan dan simak secara lengkap di Youtube Channel Palpres Official.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here