Home Pilihan Redaksi Syarat Diterimanya Amal (bagian 2)

Syarat Diterimanya Amal (bagian 2)

0

Oleh: Ustaz Akhirudin Lc
Guru Ma’had Zaadul Maad Palembang/Alumnus LIPIA Jakarta

SYARAT yang kedua, diterimanya amal seseorang. Kemarin sudah disampaikan syarat yang pertama yaitu mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Adapun yang kedua yaitu Al Mutaba’ah. Mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, mengikuti ajaran beliau dalam beragama. Mencontoh 100 persen ajaran dari Nabi Muhammad.

Dan ini sebenarnya hakikat makna Syahadat Rasul, Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah, yang maknanya adalah mentaati segala yang diperintahkan Nabi Muhammad, menjauhi segala apa yang Nabi Muhammad larang dan cegah. Kemudian tidak menyembah Allah kecuali dengan syariat yang beliau bawa.

Jadi syarat yang kedua adalah Al Mutaba’ah, beribadah hanya meniru yang Rasulullah contohkan. Karena agama kita ini sudah sempurna, karena agama kita tidak perlu tambahan, tidak perlu pengurangan, karena Rasul kita Muhammad adalah Rasul yang terakhir dari seluruh para Rasul yang menyempurnakan agamanya. Agama yang paling sempurna adalah agama kita yaitu agama Islam.

Sebagaimana firman Allah, “Pada hari ini yaitu Hari Arafah, sembilan Dzulhijjah, kami telah sempurnakan, aku telah sempurnakan agama kalian, dan aku telah sempurnakan juga rizki kalian, dan aku telah ridai agama Islam adalah agama kalian. Jadi agama kita adalah agama yang sempurna.

Sampai-sampai orang Yahudi tatkala mendengar ayat ini dia katakan kepada Umar, “Wahai Umar, kalau ayat ini turun ke kami, kami jadikan hari itu, hari raya kami.” Subhanallah.
Sepatutnya kita orang Islam bangga agama kita telah disempurnakan oleh Allah. Kita berbangga, semangat untuk mengamalkannya sehingga kita menjadi orang-orang yang bahagia, orang yang senang dengan mengamalkan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah.

Apa saja yang datang dari Nabi, kalian kerjakan. Dan apa yang dilarang Nabi, kalian tinggalkan. Dan di antara yang dilarang nabi yaitu mengada-ngada, membuat-buat ajaran yang tidak diajarkan Nabi. Zikir buat sendiri, Nabi mengajarkan zikir setelah salat 33 kali, dia bikin 35 kali, dan yang lainnya.

Agama kita sudah sempurna, tak perlu tambah-tambahan. Oleh karena itu Nabi kita, Muhammad mengatakan amalan orang-orang yang tidak mencontoh beliau, tertolak, tidak diterima oleh Allah.

Kata Nabi Muhammad, barangsiapa yang mengada-ada, dalam sebuah urusan kami, dalam masalah kami, yaitu agama Islam, maka tertolak. Dalam riwayat yang lain, barangsiapa mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada contoh dari kami, maka tertolak.

Jadi kita hendaklah mencukupkan, berpegang kepada apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Dan itu perintah beliau, sebenarnya jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikuti aku. Jadi orang yang mencintai Allah maka dia hendaklah mengikuti Nabi Muhammad.
Bohong sekali, orang-orang yang mereka mengaku cinta Nabi, tapi terhadap Sunnah Nabi, dia tidak kerjakan. Dia berbicara cinta Nabi, tapi ada orang yang berjanggut dikata-katain, cinta istri Nabi tapi orang yang bercadar dibilangi memakai ninja. Ini adalah cinta yang bohong, cinta tidak ada buktinya.

Kata para ulama ayat ini adalah ayat ujian bagi orang-orang yang mengaku cinta Nabi tapi tidak ada realisasinya. Mari kita berpegang teguh pada Sunnah Nabi.

Kata Nabi Muhammad, hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan juga sunnah-sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigit sunnahku, sunnah sahabat-sahabatku ini dengan gigi geraham kalian. Jangan dilepas, pertahankan Sunnah Nabi, walaupun sunah yang kita kerjakan ini, rasanya panas di tangan, dengan cemoohan, diejek, yang penting kita melakukan Sunnah Nabi Muhammad.

Karena orang yang berpegang teguh pada Sunnah Nabi, dia akan bahagia, yang kelak nanti akan dipanggil oleh Nabi Muhammad pada hari kiamat.

Tatkala kita mendatangi telaga (al-haudh), kita diperintahkan Nabi Muhammad meminum telaga milik beliau yaitu Telaga Al-Kautsar. Lalu nabi menutup hadis ini, berhati-hatilah kalian dari perkara perkara yang diada-adakan. Zaman sekarang banyak orang yang mengada-adakan amalan.

Buktinya, kalau ditanya ada hadisnya tidak? Kata siapa? Kata orang. Beramal saleh ini bukan kata orang, namun adalah meniru Rasulullah. Apa saja yang dianjurkan beliau maka kita kerjakan. Sebaliknya yang tidak dicontohkannya, tidak kita dikerjakan.

Ini adalah Islam yang sebenarnya. Kebanyakan orang sibuk menambah-nambah amal, padahal sunnah-sunnah yang diajarkan Nabi banyak sekali, tapi tidak dikerjakan.
Kita lihat ada kitab yang bernama Riyadush Sholihin, yang dikarang oleh Al Imam An Nawawi. Ribuan hadis ada di dalamnya. Baik itu sunah qouliyah, sunah fi’liyah, sunnah taqririyah, ada semua di sana. Ini malah datang mengerjakan sunnah-sunnah yang tidak diajarkan Nabi Muhammad.

Ada lagi kitab Bulughul Maram karangan Imam Ibnu Hajar. Di akhir kitab ini ada yang disebut Kitabul Jami’ yang menjelaskan adab akhlak Nabi Muhammad. Itu dibuka, dibaca, dikerjakan. Kalau kita kerjakan semua apa yang ada di dalam kitab tersebut, kita mati tidak selesai sunnah-sunnah itu.

Jadi, kita tidak perlu kita mengada-ngada karena mengada-ada ini, bukan hanya amal kita ditolak oleh Allah, tapi akan menyebabkan kita menjadi orang yang nanti merugi, terusir dari Telaga Rasulullah. (*)

Catatan: Tausiyah ini dapat anda saksikan dan simak secara lengkap di Youtube Channel Palpres Official.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here