Home Palembang Disbudpar Sumsel Minta Forwida Sumsel Rancang Masterplan Kembalikan Bukit Siguntang Jadi Kawasan...

Disbudpar Sumsel Minta Forwida Sumsel Rancang Masterplan Kembalikan Bukit Siguntang Jadi Kawasan Cagar Budaya

0
Kepala Disbudpar Sumsel Aufa Syahrizal (rompi coklat) didampingi Ketua Umum Forwida Sumsel Diah Kusuma Pratiwi bersama sejumlah arkeolog, sejarawan dan budayawan melakukan peninjauan lapangan sebagai dasar untuk membuat masterplan pengembangan Bukit Seguntang.

PALEMBANG, PE – Wajah baru Taman Bukit Siguntang hingga kini masih jadi bahan perdebatan para sejarawan dan budayawan. Guna mengembalikannya menjadi kawasan wisata menarik, tapi tidak merusak nilai sejarah dan budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan meminta Forum Pariwisata dan Budaya (Forwida) Sumsel untuk merancang masterplan pengembangan kawasan wisata religi tersebut.

Ketua Umum Forwida Sumsel, Dr. Ir. Diah Kusuma Pratiwi, MT mengatakan, pihaknya melakukan peninjauan lapangan sebagai dasar untuk membuat masterplan pengembangan Bukit Siguntang, Minggu (28/6).

“Memang banyak penyimpangan, seperti dikatakan para budayawan dan sejarawan. Tapi sebetulnya Bukit Siguntang masih bisa diperbaiki. Kita akan kembalikan marwahnya jadi tempat yang sakral,” katanya dibicangi di Taman Makam Bukit Siguntang, Minggu (28/6).

Dikatakannya, Forwida Sumsel sudah berkomitmen untuk mengembalikan kawasan wisata, yang terletak di Jalan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang itu, menjadi kawasan cagar budaya.

“Oleh karena itu, kita ingin bikin masterplan. Cukup panjang perjalanannya. Dimulai hari ini,” ujarnya.

Menurutnya, pemikiran untuk membuat masterplan muncul setelah pihaknya menggelar pertemuan virtual pada 8 Juni silam. Namun demikian, harus mengecek ke lapangan terlebih dahulu. Daerah peninggalan sejarah mana saja yang tidak boleh diinjak.

“Masterplan dibuat berdasarkan peta dari arkeolog. Karena itu kita adakan pertemuan dengan mengundang arkeolog dari Balai Arkeologi Sumsel dan Disbudpar,” tukasnya.

Adapun narasumber yang dihadirkan, Kepala Disbudpar Sumsel Aufa Syahrizal Sarkomi, Sondang Martini Siregar (arkeolog), Retno Purwanti (arkeolog), DR Hudaidah (dosen Sejarah Universitas Sriwijaya), Budi Wiyana (Kepala Balai Arkeolog Sumsel), dan Cahyo Sulistianingsih (Kabid Kebudayaan Disbudpar Sumsel).

Lebih lanjut ia mengatakan, zona inti Bukit Siguntang adalah zona yang tidak boleh dibangun. Sebab di tempat itu banyak peninggalan arkeologi. Dan tempat tersebut daerah wisata religi. Yakni area makam.

“Tapi saat ini di sana banyak bangunan yang dibangun pemerintah, seperti air mancur, kolam. Justru dibangun di puncak bukit. Mestinya tak boleh ada bangunan tersebut di sana,” ucapnya.

Untuk melakukan perbaikan, ia melanjutkan, harus ada dasar. Jangan mengulang kembali kesalahan yang sama. “Kita tidak melakukan pengrusakan peninggalan sejarah, melainkan memperbaiki,” ujarnya.

Forwida sebagai perkumpulan dari banyak orang dengan beragam profesi, seperti akademisi, budayawan, sejarawan, arkeolog, dan banyak lagi, menurutnya, telah diminta secara khusus oleh Kepala Disbudpar Sumsel, untuk merancang masterplan pengembangan Bukit Siguntang. Kebetulan, sekretariat organisasi ini ada di kawasan wisata tersebut.

“Pak Aufa meminta secara khusus di dalam grup Whatsapp, Forwida melakukan kajian perbaikan makam. Awalnya seperti itu. Tapi kemudian berkembang sekalian bikin masterplan dan kajian hukum. Nantinya ada produk hukum dari teman-teman, yang akan kita ajukan ke pemerintah untuk disahkan. Sehingga siapapun penguasa di masa depan, tidak akan lagi melakukan perubahan di Bukit Siguntang,” tuturnya.

Kepala Balai Arkeolog Sumsel Budi Wiyana mengatakan, bicara masterplan, harus ada leading sector yang menganggarkan. Dalam hal ini Disbudpar Sumsel.

“Sebaiknya ada semacam kerangka acuan tentang masterplan tersebut,” ujarnya.

Dikatakan, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi telah melakukan zonasi Bukit Siguntang pada 1992. Diketahui luasan kawasan ini 20 hektar. Namun terakhir zonasi pada 2018, areal makam menjadi 12,8 hektar. Ini daerah di dalam pagar.

“Sebetulnya areal di luar pagar masuk wilayah Taman Bukit Siguntang. Kalau kita bicara situs tidak berdiri sendiri. Yang masih terkait sekitar situs juga termasuk. Makanya masuk zona pengembangan. Tapi yang tahun 1992 itu zona inti semua. Zona pengembangan ini yang sekarang jadi pemukiman warga,” tuturnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, revitalisasi Taman Bukit Siguntang di era rezim sebelumnya, kemungkinan tanpa melibatkan pihak-pihak yang berkompeten. Makanya sekarang muncul saling menyalahkan.

“Kami mengusulkan adanya masterplan. Di sana dijelaskan rencana ke depannya apa. Lalu semua pihak yang bisa berperan harus dilibatkan. Jadi tidak mungkin akan saling menyalahkan di kemudian hari. Mereka nanti juga bisa berkontribusi di situ,” ucapnya.

Pengembangan Bukit Siguntang, ia mengatakan, harusnya tanpa merusak peninggalan sejarah. Tidak boleh ada bangunan yang permanen, utamanya di zona inti makam. Sebaiknya itu dibangun di zona pendukung dan pengembangan. Tapi dengan catatan, tidak sembarang bangun.

“Desain-desain bangunan yang tidak permanen atau yang bisa dipindah perlu dibuat. Misalkan makam nanti akan dikembangkan jadi objek wisata yang bagus, tapi bangunannya tidak permanen. Pakai tiang, agar bisa dipindah. Jadi prinsipnya tidak merusak,” tukasnya.

Mendirikan bangunan di zona inti makam, seperti yang terjadi saat ini, menurutnya, sudah merusak makam. Mestinya tidak boleh ada bangunan tersebut.

“Tapi ini lantaran sudah terjadi, ya sudah. Sekarang kita bicara ke depan. Bikin forum diskusi, melibatkan semua pihak terkait. Perlukah dibongkar atau tidak bangunan yang sudah terlanjur ada ini,” ujarnya.
Menurutnya, perlu dilibatkan semua pemangku kepentingan untuk urun rembuk sebelum pemerintah mengambil keputusan. Jadi kalau di kemudian hari ada yang protes, semua harus bertanggung jawab.

Kepala Disbudpar Sumsel Aufa Syahrizal Sarkomi mengatakan, pemerintah mengharapkan masukan dari semua pihak terkait apa yang harus dilakukan, untuk menjadikan Taman Bukit Siguntang jadi kawasan wisata yang menarik bagi wisatawan dan melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya yang ada di dalamnya.

“Tempat ini harus jadi kawasan wisata yang menarik untuk dikunjungi wisatawan, baik untuk mereka yang sekadar mencari relaksasi, ziarah, atau yang ingin mengetahui sejarah kawasan ini,” ucapnya.

Forwida dinilainya organisasi yang tepat untuk membahas masterplan pengembangan Bukit Siguntang. Semua pemangku kepentingan ada di organisasi ini. Mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas peduli sejarah, tokoh masyarakat, media, dan banyak lagi.

“Pentaheliks sudah ada di Forwida Sumsel. Maka dari itu, saya rasa wajar, organisasi ini jadi tempat saya mengadu. Tolong bantu saya menyelesaikan pekerjaan rumah yang sampai saat ini belum juga selesai, yakni membenahi Taman Bukit Siguntang,” katanya.

Dikatakan, dirinya mendapat banyak protes, baik dari sejarawan, budayawan, dan wisatawan tentang kerusakan di makam Taman Bukit Siguntang.

“Saya tidak punya kemampuan untuk menjawabnya. Saya bukan arkeolog, sejarawan. Jadi saya minta masukan dari teman-teman semua, yang sifatnya konstruktif dan kongkrit. Kita tidak perlu berdebat tentang masa lalu. Itu hanya bagian dari referensi. Sekarang apa yang harus kita perbuat,” ia mengatakan.

Ia tidak sependapat dengan anggapan bahwa bangunan baru di kawasan situs Bukit Siguntang adalah bangunan sampah. Harus bisa dimanfaatkan bangunan-bangunan tersebut. “Mari kita kelola bangunan-bangunan yang sudah ada ini,” ucapnya.

Menurutnya, Pemerintah akan mencoba mengubah, mengganti, hingga menambah bangunan yang ada kaitan dengan sejarah. Jadi membangun tapi tidak melepaskan sejarah dan budaya. Apakah itu sejarah dan budaya tentang Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, atau lainnya.

“Kita harus akomodir semua kepentingan. Kawasan ini masih dipakai untuk ritual Agama Budha. Itu semua kita akomodir. Kawasan ini milik semua orang. Tinggal bagaimana konspepnya. Apakah ini jadi kawasan religi, sejarah, budaya, atau kawasan umum,” tukasnya.

Ia yakin, orang datang ke sini motivasi utamanya tidak hanya untuk belajar sejarah. Bisa jadi hanya untuk relaksasi bersama keluarga.

“Saya ingin kawasan ini multifungsi. Tidak hanya untuk sejarah dan budaya, tapi juga jadi tempat wisata yang menarik,” tukasnya.

Untuk itu, ia memohon bantuan dari Forwida Sumsel untuk memberikan rekomendasi kepada dirinya dalam mengambangkan Bukit Siguntang.

“Jadi kalau ada bangunan yang dibongkar, pemerintah punya referensi dari kacamata budaya, sejarah, teknologi, dan kacamata perkembangan dunia,” ucapnya.

Ia juga mengutarakan idenya untuk menaruh replika arca di Bukit Siguntang. Ini semata-mata untuk keamanan barang peninggalan sejarah.

“Kita tidak membohongi orang. Kita jelaskan bahwa itu replika. Yang aslinya ada di museum. Terpenting menjelaskan sejarah bahwa di situ ada arca yang bentuknya seperti ini,” ujarnya.

Ia mengajak semua pihak untuk mengembalikan marwah Bukit Siguntang menjadi tempat wisata yang menarik. Jadi nanti ketika sudah dibangun pemerintah, tidak ada lagi pihak yang protes.

“Kita harus mengakomodir semua kepentingan, bukan hanya kepentingan pribadi,” pungkasnya.

Bukit Siguntang atau kadang disebut juga Bukit Seguntang adalah sebuah bukit seluas 16 hektar di ketinggian 29-30 meter dari permukaan laut, terletak sekitar 3 kilometer dari tepian utara Sungai Musi.

Di area situs Siguntang ditemukan beberapa benda purbakala bersifat Buddhis masa Kerajaan Sriwijaya (abad ke-6-13 Masehi) dan makam leluhur orang Palembang. Dari benda-benda purbakala yang ditemukan, menunjukkan bahwa Bukit Siguntang adalah salah satu kawasan pemujaan dan keagamaan kerajaan.

Hal ini terlihat dari arca Buddha bergaya Amarawati (abad ke-2-5 Masehi) yang ditemukan pada 1920-an. Arca berbahan granit setinggi 277 senti meter tersebut disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Di sana juga ditemukan fragmen arca Bodhisatwa, stupa, fragmen prasasti beraksara Pallawa, arca Kuweda, dan arca Buddha Wairocana. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here