Home Sejarah Kisah Para Interniran di Kamp Palembang Tahun 1942-1945 (Bagian Kelima)

Kisah Para Interniran di Kamp Palembang Tahun 1942-1945 (Bagian Kelima)

0
Suasana warga negara Belanda dan penduduk setempat berkumpul di dua rumah di Palembang sebelum pendudukan Sumatra oleh pasukan Jepang pada tahun 1942, melihat atraksi keliling oleh warga setempat. Rumah bernomor 6 dan 7, adalah dua dari sepuluh rumah yang kemudian diambil alih oleh Jepang untuk membentuk bagian akomodasi dari Irenelaan tahanan kamp perang. Tahanan dan layanan perawatan Tentara Australia dipindahkan ke kamp pada 1 April 1942. Mereka menghabiskan 17 bulan berikutnya tinggal di rumah-rumah ini, dengan sekitar 300 wanita dan anak-anak. Foto: www.awm.gov.au
Dudy Oskandar.

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

PADA 7 Mei 1945, jatuhnya kekuatan Nazi Jerman di Eropa oleh Angkatan Darat Soviet di bawah pimpinan Georgy Zhukov dan Ivan Konev yang menyerang Berlin dari timur. Menjadi awal dari berakhirnya PD II di kawasan Eropa.

Pertempuran tersebut berlangsung di akhir April 1945 sampai awal Mei 1945. Sebelum pertempuran usai, Adolf Hitler bunuh diri, lalu Jerman menyerah setelah lima hari pertempuran berakhir.

Pertempuran diakhiri dengan keputusan Nazi Jerman menyerah tanpa syarat kepada Sekutu di Eropa.

Setelah runtuhnya kekuatan Nazi Jerman di Eropa. Kaisar Jepang, Hirohito memerintahkan Dewan Penasihat Militer untuk melakukan negosiasi kepada pihak sekutu dalam Deklarasi Potsdam, pada 26 Juli 1945.

Dalam Deklarasi, Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman, Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill dan Ketua Tiongkok, Chiang Kai-shek menguraikan ketentuan penyerahan diri bagi Kekaisaran Jepang.

Sebagaimana disepakati pada Konferensi Potsdam. Isi ultimatum itu menegaskan, jika Jepang tidak mau menyerah kepada pihak Sekutu, maka akan dipastikan menghadapi “kehancuran yang cepat dan total.”

Walaupun keinginan untuk melawan hingga titik penghabisan dinyatakan secara terbuka oleh Jepang. Sementara, invasi Sekutu ke Jepang hanya tinggal menunggu waktu.

Pemimpin Jepang dari Dewan Penasihat Militer Jepang secara pribadi memohon Uni Soviet untuk berperan sebagai mediator dalam perjanjian damai, dengan syarat-syarat yang menguntungkan Jepang.

Sementara itu, pihak Uni Soviet telah membelot terhadap Jepang, yang turut mempersiapkan serangan dalam usaha memenuhi janji kepada Amerika Serikat dan Inggris di Konferensi Yalta.

Dianggap tak menggubris ultimatum Sekutu, pada akhirnya Kota Hiroshima dan Nagasaki dibombardir oleh Amerika Serikat, pada 6 Agustus dan 9 Agustus.

Pada waktu yang sama, Uni Soviet pun melancarkan serbuan mendadak ke koloni Jepang di Manchuria (Manchukuo) yang melanggar Pakta Netralitas Soviet–Jepang.

Mendapatkan tekanan dari berbagai pihak serta kudeta yang gagal. Kaisar Hirohito menyampaikan pidato radio di hadapan rakyat pada 15 Agustus 1945.

Dalam pidatonya yang disebut Gyokuon-hōsō (Siaran Suara Kaisar), Kaisar Hirohito membacakan Perintah Kekaisaran tentang kapitulasi, sekaligus mengumumkan kepada rakyat bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu.

Disaksikan Jenderal Richard K. Sutherland, Menteri Luar Negeri Jepang, Mamoru Shigemitsu menandatangani Dokumen Kapitulasi Jepang di atas kapal USS Missouri, pada 2 September 1945.

Dokumen Kapitulasi yang ditandatangani Jepang secara resmi mengakhiri Perang Dunia II. Penduduk sipil dan anggota militer di negara-negara Sekutu pun merayakan Hari Kemenangan atas Jepang dengan sebutan V-J Day.

Dengan perjanjian Kapitulasi Jepang, kedudukan Jepang di Hindia Belanda hampir selama 3,5 turut jatuh dan merupakan pertanda berakhirnya masa PD II di kawasan Asia Pasifik.

Walaupun pihak militer Jepang pada waktu itu masih bungkam atas fakta kekalahannya. Namun, kabar tersebut telah didengar oleh para tahanan Belanda dan keturunannya yang disambut dengan gembira, termasuk di Palembang.

Kegembiraan mereka tak berlangsung lama, pasalnya rakyat Indonesia segera bangkit dan memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Proklamasi kemerdekaan diserukan oleh Presiden pertama Indonesia, yakni Ir Soekarno dan Wakilnya, Moh. Hatta.

Pada masa Revolusi Indonesia, semua persenjataan Jepang pun dilucuti oleh para pemuda. Sementara para tahanan Jepang yang terdiri dari orang-orang Belanda serta keturunannya, masih harus mendekam dalam penahanan mereka.

Perihal proklamasi kemerdekaan Indonesia masih belum terdengar oleh para tawanan Jepang. Namun, memang dirasakan tidak adanya penjagaan tentara jepang dan pembagian beras extra bagi para tawanan.

Pada tanggal 23 Agustus, masih diadakan upacara ekumenis untuk mengucap syukur atas kemenangan sekutu terhadap Jepang. Disusul dengan misa besar dengan dihadiri oleh Moneseigneur.

Barulah pada tanggal 25 Agustus terdengar desas-desus kabar bahwa kemerdekaan Republik Indonesia telah diproklamasikan.

Mendengar hal tersebut tentu membuat kaget para tawanan dan Pemerintah Belanda. karena sama sekali tidak pernah terbayang akan terjadinya revolusi besar-besaran di Hindia Belanda.

Mendengar hal itu, pihak Belanda masih tetap bersikukuh bahwa Indonesia masih merupakan bagian dari wilayah jajahannya. Hal tersebut ditunjukkan oleh Belanda setelah melancarkan agresi militer I dari 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947.

Pihak Belanda beserta sekutunya Netherlands Indies Civil Administration (NICA) melancarkan serangan di Jawa dan Sumatra. Operasi militer ini merupakan bagian dari Aksi Polisionil atau juga dikenal dengan sebutan Agresi Militer Belanda.

Imperium Belanda pun melanggar sahnya kedaulatan Indonesia yang ditandatangani dalam perundingan Lingggarjati, di Linggarjati, Jawa Barat.

Hasil perundingan ditandatangani pada 15 November 1946 di Istana Merdeka, Jakarta dan ditandatangani secara sah oleh kedua negara pada 25 Maret 1947. ***

Sumber :

1. Dedi Arsa, Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Fak. Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, IAIN Bukittinggi, Sudut Pandang Indonesia atas Periode Kamp, 1942-194, Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-ilmu Sosial, Mukadimah Volume 1 Nomor 2
2. Wikipedia
3. http://beritapagi.co.id/2018/07/30/catatan-para-interniran-di-kamp-palembang
4. The Palembang and Muntok Internees of WW2
5. www.awm.gov.au
6. https://notif.id/2020/12336/more/kamp-interniran-nasib-belanda-ditangan-jepang-dan-bangkitnya-perlawanan-bangsa-indonesia/

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here