Home Sejarah Pemuda-Pemuda Palembang Digaris Revolusi (Bagian Pertama)

Pemuda-Pemuda Palembang Digaris Revolusi (Bagian Pertama)

0
Sejumlah tentara TNI yang masih muda tengah berbicara dengan tentara Belanda dibatasi kawat berduri yang merupakan garis demarkasi, di tahun 1948 di Sungai Dua (sekarang Banyuasin).
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

“BERIKAN aku 1000 orang tua niscaya akan aku cabut Semeru dari akarnya, berikan aku 10 orang pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia,” – Bung Karno

Dalam perjalanan meraih kemerdekaan Indonesia, peran pemuda tidak bisa dipungkiri dalam upaya membangun kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejarah tentu tak akan lupa dengan tinta emas yang ditorehkan para pemuda. Pemuda adalah aktor terpenting dalam cerita panjang perjuangan kemerdekaan tanah air. Pemuda selalu menjadi garda terdepan dalam fakta sejarah termasuk di Palembang.

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, banyak juga organisasi yang terbentuk selain organisasi agama dan partai politik yaitu organisasi pemuda, baik yang pro Belanda dan organisasi pemuda yang menentang Pemerintahan Kolonial Belanda.

Organisai pemuda yang menentang Pemerintah Kolonial Belanda ini memiliki tujuan untuk meningkatkan rasa kebangsaan dan rasa cinta tanah air.

Di zaman Penjajahan Pemerintah Kolonial Belanda, sebagaimana keadaan di Pulau Jawa, maka di provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terutama di Kota Palembang pada waktu penjajahan telah tumbuh organisasi pemuda dan kepanduan yang berpusat di Jawa.

Organisasi Pemuda tersebut diantaranya:
1. Indonesia Muda.
2. Surya Wirawan.
3. Barisan Pelopor Gerindo.
4. Pemuda Muslimin Indonesia.
5. Ansor.
6. Pemuda Muhamadyah.

Organisasi dari Kepanduan tersebut diantaranya ialah :
1. Natipy (National Islamitische Padvindery).
2. S.I.A.P.
3. Kepanduan Bangsa Indonesia (K.B.I.).
4. Hizbul Wathon.
5.Nederlands Indise Padvinder Vereniging (NIPV).

Perjuangan organisasi pemuda ini, sesuai dengan keadaan diwaktu itu, dimana paham keorganisasian masih sangat tipis sekali, terutama pengertian akan kemerdekaan masih atau hanya dalam lingkungan terbatas sekali, maka kemajuan dalam kalangan politik dan ketatanegaraan dapat dikatakan hampir tidak ada.

Dapat dikatakan bahwa pada sebagian besar pemuda adanya organisasi itu tidak dirasakan. Apalagi tekanan yang diberikan oleh Pemerintah Hindia Belanda sangat terasa sekali.

Bagi pemuda yang bergabung dalam organisasi yang sedikit banyaknya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang bekerja pada Jawatan dan Maskapai Partikelir diberikan tekanan dengan perantaraan instansi dimana ia bekerja, sehingga bagi pemuda yang bekerja dan menjadi anggota organisasi tersebut mudah sekali untuk dikeluarkan dari pekerjaannya. Karena organisasi kepanduan jang bercorak nasional sangat pesat sekali, maka lapangan ini dijadikan tempat melatih untuk menyadari perjuangan kemerdekaan.

Umumnya pemuda yang sadar akan keadaan pada waktu itu, yang bercita-cita untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan terpaksa dengan jalan memasuki kepanduan dapat melaksanakan tujuannya.

Disamping itu terdapat pula kedudukan sebagai NIPV yang mendapat subsidi dari Pemerintah Belanda, sebagai badan untuk menyaingi kepanduan yang bersifat Nasional.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, umumnya pemuda bekas anggota organisasi pemuda yang bersifat nasional inilah (Indonesia Muda, Pemuda Muslimin, dll.) yang memimpin perjuangan pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan.

Pada masa pendudukan Jepang sebagai juga didaerah lain, semua organisasi Pemuda maupun jang berbentuk kepanduan tidak dibolehkan meneruskan usahanya.

Sebagai gantinya didirikanlah oleh Jepang organisasi pemuda yang bernama Seinendan (Pemuda) dan Djosi Seinendan (Pemuda Putri).

Badan yang berbentuk antara organisasi pemuda dan kepanduan ini, yang pimpinannya langsung berada ditangan orang Jepang, bertujuan untuk mempertahankan dan membangunkan “Asia Timur Raya” menurut konsepsi Jepang.

Usaha-usaha yang terlihat dari badan tersebut adalah usaha untuk memberikan hiburan, sandiwara dll, terhadap serdadu Jepang, Heiho dan Gyugun.

Didaerah dimana terdapat pemusatan orang Jepang, Kempei atau Pemerintah Sipil Jepang, organisasi tersebut didirikan. Disamping itu banyak pemuda yang memasuki lapangan ketenteraan sebagai Heiho dan Gyugun.

Ada diantaranya yang menjadi perwira (Gyu Sjoi dan lain-lain). Banyak diantara pemuda ini yang kemudian setelah proklamasi kemerdekaan membentuk badan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan dan seterusnya meneruskan perjuangan dalam lapangan ketenteraan sekarang ini. ***

 

Sumber:

1. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan , Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
2. https://www.kompas.com/skola/read/2020/02/04/150000069/nama-nama-organisasi-pemuda
3. https://nasional.okezone.com/read/2017/10/27/337/1803559/hari-sumpah-pemuda-mengenal-9-organisasi-pemuda-yang-ikut-ambil-bagian-dalam-kongres-pemuda
4. https://geotimes.co.id/opini/pemuda-diantara-garis-revolusi

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here