Home Sejarah Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani, Ulama Palembang Penyebar Semangat Jihad Anti Penjajahan di...

Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani, Ulama Palembang Penyebar Semangat Jihad Anti Penjajahan di Nusantara (Bagian Keempat)

0
Kitab Hidaayah Al-Saalikiin fi Suluuki Maslak Al-Muttaqiin, karya Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani

 

Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan

Berjihad di Patani

ENSIKLOPEDI Islam yang beredar di Arab, Timur Tengah, dan Barat menempatkan kepopuleran Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani setara dengan Soekarno, Presiden ke-1 Republik Indonesia.

Nama Al-Palimbani di kalangan umat Islam di Arab dan Timur Tengah sangat dihormati dan disegani. Dalam data sejarah di Masjid Al-Haram, Mekkah tercatat nama Al-Palimbani sebagai satu-satunya ulama dari Nusantara yang mendapatkan kehormatan sebagai imam besar Masjid Al-Haram.

Beberapa peneliti sejarah ke-Islaman menduga kuat Al-Palimbani bersama saudaranya seayah, yaitu Wan Abdullah dan Wan Abdul Qadir telah mendapatkan gemblengan di pondok-pondok terkenal di Patani, seperti Pondok Bendang Gucil di Kerisik atau Pondok Kuala Bekah atau pun Pondok Semala.

Salah seorang guru Al-Palimbani di Patani yang dapat diketahui adalah Syaikh Abdur Rahman bin Abdul Mubin Pauh Bok. Para sesepuh Kampung Pauh Bok itu menuturkan perihal keutamaan Al Palimbani yang berasal dari Palembang sebagai murid dari Syaikh Abdur Rahman.

Penuturan itu sesuai dengan pernyataan yang tertulis dalam kitab terjemahan Al-‘Urwatul Wutsqa versi Syaikh Abdus Samad bin Qunbul Al-Pathani.

Menurut kitab itu Syaikh Abdur Rahman Pauh Bok menganjurkan/merekomendasikan Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani untuk melanjutkan pendidikan ke Mekah dan Madinah.

Data berkaitan dengan hal ini belum ditemukan pada sumber-sumber tertulis lain.

Beliau juga mempelajari ilmu sufi daripada Syaikh Muhammad bin Samman, selain mendalami kitab-kitab tasawuf karya Syaikh Abdul Rauf Singkel dan Samsuddin Al-Sumaterani (dua ulama ternama dari Nangroe Aceh).

Sejak kecil Al-Palimbani memang lebih banyak mempelajari tasawuf. Tidak mengherankan bila sejarah mencantumkan Al-Palimbani sebagai pemikir dan ulama yang memiliki kepakaran dan keistimewaan dalam tassawuf. Saat masih menuntut ilmu di Patani, di mata para guru, teman-temannya, dan masyarakat yang mengenalnya, Al-Palimbani dianggap alim. Dia mendapat amanat sebagai kepala thalaah (tutor) di pondoknya.

Beberapa kitab karangan Al-Palimbani sampai sekarang masih menjadi salah satu kitab pokok tentang tassawuf yang dipelajari di berbagai pesantren di Thailand bagian selatan (terutama Patani) dan Malaysia. Di Arab, Timur Tengah, Barat, dan Semenanjung Malaya ketenaran nama AlPalimbani sebagai ulama tassawuf boleh dianggap melampaui Hamzah Fansuri, Nuruddin Al-Raniri, Abdul Rauf Singkel, Yusuf Al-Maqassari, dan sebagainya.

Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani kali ini tidak kembali ke Palembang, tetapi ke Kedah. Saudara kandungnya Sheikh Wan Abdul Qadir bin Sheikh Abdul Jalil al-Mahdani ketika itu ialah Mufti Kerajaan Kedah. Seorang lagi saudaranya, Sheikh Wan Abdullah adalah pembesar Kedah dengan gelar Seri Maharaja Putera Dewa.

Meskipun Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani lama menetap di Mekah, namun hubungan antara mereka tidak pernah terputus. Sekurang-kurangnya mereka berkirim surat setahun sekali, yaitu melalui mereka yang pulang setelah melaksanakan ibadah haji.

Selain hubungan dia dengan adik-beradik di Kedah, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani turut membina hubungan dengan kaum Muslimin di seluruh Asia Tenggara.

Pada zaman itu hampir semua orang yang berhasrat mendalami ilmu tasawuf terutama Tarekat Sammaniyah, Tarekat Anfasiyah dan Tarekat Khalwatiyah menerima ilmu daripada dia.

Dia sentiasa mengikuti perkembangan di Tanah Jawi (dunia Melayu) dengan menanyakan kepada pendatang-pendatang dari Pattani, Semenanjung Tanah Melayu, dan negeri-negeri Nusantara yang di bawah penjajahan Belanda (pada zaman itu masih disebut Hindia Belanda).

Ini terbukti dengan pengiriman dua pucuk surat kepada Sultan Hamengkubuwono I, Sultan Mataram dan kepada Susuhunan Prabu Jaka atau Pangeran Singasari Putera Amengkurat IV. Surat-surat tersebut jatuh ke tangan Belanda di Semarang (tahun 1772 M).

Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani telah lama bercita-cita untuk ikut serta dalam salah satu peperangan/pemberontakan melawan penjajah. Namun setelah dipertimbangkan, dia lebih tertarik membantu umat Islam di Pattani dan Kedah melawan keganasan Siam yang beragama Buddha.

Sebelum perang itu terjadi, Sheikh Wan Abdul Qadir bin Sheikh Abdul Jalil al-Mahdani, Mufti Kedah mengirim sepucuk surat kepada Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani di Mekah. Surat itu membawa maksud agar diumumkan kepada kaum Muslimin yang berada di Mekah bahwa umat Islam Melayu Pattani dan Kedah sedang menghadapi jihad mempertahankan agama Islam dan watan (tanah air) mereka.

Dalam peperangan itu, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani memegang peranan penting dengan beberapa panglima Melayu lainnya. Ada catatan menarik mengatakan dia bukan berfungsi sebagai panglima sebenarnya, tetapi dia bertindak sebagai seorang ulama sufi yang sentiasa berwirid, bertasbih, bertahmid, bertakbir dan berselawat setiap siang dan malam.

Banyak orang menuduh bahawa orang sufi adalah orang-orang jumud yang tidak menghiraukan dunia. Tetapi jika kita kaji beberapa biografi ulama sufi, termasuk Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani yang diriwayat ini adalah orang-orang yang bertanggungjawab mempertahankan agama Islam dan tanah air dari hal-hal yang dapat merusakkan Islam itu.

Golongan ini adalah orang yang berani mati dalam menegakkan jihad fi sabililah. Mereka tidak terikat dengan sanak keluarga, material duniawi, pangkat dan kedudukan dan sebagainya, mereka semata-mata mencintai Allah dan Rasul dari segala apa pun juga.

Kepulangan Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani ke Kedah memang pada awalnya bertekad demi jihad, bukan karena mengajar masyarakat mengenai hukum-hukum keislaman walaupun dia pernah mengajar di Mekkah.

Akhirnya Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani dan rombongan pun berangkat menuju ke Pattani yang bergelar ‘Cermin Mekkah’.

Sayangnya kedatangan dia agak terlambat, pasukan Pattani telah hampir lemah dengan keganasan Siam.
Sementara itu, Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan pengikut-pengikutnya telah mengundurkan diri ke Pulau Duyung, Terengganu untuk menyusun semula langkah perjuangan. Pattani telah patah dan kekuatan lenyap dengan itu Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani mengatakan dia berkhalwat di Masjid Kerisik yang terkenal dengan ‘Pintu Gerbang Hang Tuah’ itu.

Para pengikut tasawuf percaya di sanalah dia menghilang diri, tetapi bagi kalangan bukan tasawuf, perkara ini adalah mustahil dan mereka lebih percaya bahawa dia telah mati dibunuh oleh musuh-musuh Islam. ***

Sumber :

1. Mal an abdullah, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani, Biografi dan warisan keilmuan, H Mal An Abdullah, Elex Media Komputindo, 2019
2. http://beritapagi.co.id/2019/09/05/spirit-nasionalisme-syekh-abdul-somad-al-palembani.
3. http://beritapagi.co.id/2019/09/02/syaikh-abdus-samad-al-palimbani-tokoh-sufi-dari-palembang
4. https://www.laduni.id/post/read/48786/biografi-syaikh-abdus-samad-al-palembani
5. Syamsul Noor Al-Sajidi, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani (1704-1789 M) Filsuf dan Ulama Tassawuf dari Palembang , Halaqah Melayu Sebangsa-Secita-Setuturan, 2015
6. https://islami.co/abdul-samad-al-palimbani-jembatan-pengetahuan-nusantara-dan-haramain

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here