Home Sejarah Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani, Ulama Palembang Penyebar Semangat Jihad Anti Penjajahan di...

Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani, Ulama Palembang Penyebar Semangat Jihad Anti Penjajahan di Nusantara (Bagian Ketiga)

0
Kitab Nashihatul Muslimin wa Tadzkirotul Mu'minin oleh Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani. Foto Ist
Dudy Oskandar.

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

SMB II Berkirim Surat ke Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani

SETELAH perahu siap dan kelengkapan berlayar cukup, maka berangkatlah Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani dari Palembang menuju Mekkah dengan beberapa orang muridnya. Selama di Mekkah, dia bergiat dalam pengajaran dan penulisan kitab-kitab dalam beberapa bidang pengetahuan keislaman, terutamanya tentang tasauf, fikah, usuluddin dan lain-lain.

Di Mekkah beliau bertemu dan bergaul dengan para pelajar/ulama lain dari berbagai pelosok Nusantara.
Teman seperguruan dia dalam menuntut ilmu yang berasal dari Nusantara, antara lain Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Abdul Wahhab Bugis, Abdul Rahman Al-Batawi, dan Daud Al-Fatani.

Bersama teman-temannya di Mekah, Al-Palimbani, selalu memberikan perhatian besar pada perkembangan sosial, politik, dan keagamaan di Nusantara. Sejak belajar di Mekkah, Al-Palimbani mengalami perubahan besar berkaitan dengan intelektualitas dan spiritualitas. Beliau mendapatkan pencerahan-pencerahan dari para gurunya.

Selama di Makkah, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani banyak belajar dari ulama-ulama berpengaruh di sana. Contohnya Muhammad Sa’id bin Muhammad Sunbul al-Syafi’I al-Makki.

Beliau adalah seorang ulama fikih dan muhaddits terkemuka di zamannya. Beliau termashur karena keahlianya dan dijuluki sebagai seorang Syafi’i kecil. Selanjutnya, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani juga berguru kepada Abu al-Fawz Ibrahim bin Muhammad al-Rais al-Zamzani al-Makki. Beliau adalah ulama yang termasyhur karena menguasai berbagai pengetahuan agama, dan salah satu keahliannya adalah ilmu al-falak (astronomi).

Selain dua nama itu, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani juga berguru kepada Abd al-Gani bin Muhammad al-Hilal, Muhammad bin Sulayman al-Kurdi (al-Syafi’i), Sulayman (bin Umar bin Mashur) ‘Ujayli, dan ‘Atha’ Allah bin Ahmad (al-Azhari al Mashri al-Makki.

Dari semua gurunya, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani selalu berupaya untuk memperoleh kelebihan masing-masing. Jika melihat silsilah intelektual atau sanad keilmuannya, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani tidak hanya mengikuti tradisi fikih yang umumnya berkembang di Haramayn (istilah penyebutan kota Makkah dan Madinah)

Terbukti, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani juga berguru kepada para ulama Makkah asal Palembang, yaitu Hasanuddin bin Ja’far al-Palimbani, Thalib bin Ja’far al-Palimbani dan Shalih bin Hasanuddin al-Palimbani.

Pada tahun 1767, ketika beliau berumur 30 tahun, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani sedikitnya tercatat telah menghasilkan tiga karya tulis: Zahrat al-Murid fi Bayan Kalimat al-Tawhid, Risalah fi Bayan AsbabMuharrama li an-Nikah dan Risalah Mi’raj. Selain aktif belajar dan mencari guru, pada kurun waktu ini Syaikh Abdul Shamad sudah menjadi guru.

Menurut Van Bruinessen (1995b: 63), Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani pernah mengajar ilmu fikih di Makkah, terutama kepada jamaah Jawi, dan dalam Faydh al-Ihsani juga disebutkan bahwa pada waktu tersebut Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani juga sudah menyelenggarakan sebuah madrasah.

Sebagai seorang ulama besar, ada beberapa hal yang umumnya belum diketahui orang mengenai Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani .

Pertama, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani sendiri bisa disebut sebagai jembatan pengetahuan antara Palembang dan Haramayn sekaligus Palembang dan Jeddah. Hal ini terbukti ketika Sultan Palembang pada tahun 1777 mengirimkan bantuan untuk mendirikan zawiyah (madrasah) tarekat Sammaniyah di Jeddah.

Zawiyah di Jeddah inilah yang pada akhirnya memperkuat jaringan Palembang—dan Nusantara pada umumnya—dengan Haramayn, karena digunakan pula sebagai tempat sementara (transit) bagi para pelajar dan jemaah haji Palembang—dan Nusantara pada umumnya—ketika menuju dan kembali dari Haramayn.

Kedua, menurut Faydh al-Ihsani, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani adalah tokoh perintis pertama “…yang berjalan pergi ke tempat mawlud al-Nabi, yakni tempat Nabi diperanakkan, dengan mengarak berapa bendera daripada beberapa sahabat Sayyidi al-Syaikh Muhammad Samman pada malam mawlid al-Nabi…”

Ketiga, selain menulis kitab tasawuf, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani juga menulis kitab jihad menurut Al-Qur’an dan Hadis yang menginspirasi penyusunan kitab perang Aceh (HPS)—yang terkenal itu—dalam melawan penjajah Belanda.

Selanjutnya, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani diakui sebagai penafsir tasawuf al-Ghazali terkemuka dan paling menonjol di Timur tengah dan dianggap melampaui ulama-ulama pendahulunya di abad ke-17. Terakhir,

Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani adalah salah satu ulama yang mengubah pandangan umum soal tarekat. Tarekat yang diperlihatkan oleh Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani juga menjadi alat perjuangan dalam melakukan jihad melawan penjajahan.

Hal ini terbukti ketika berlangsungnya perang Patani melawan Siam, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani ikut turun langsung dalam perang dan mengorganisir ratusan orang untuk melawan pendudukan Siam.

Jika ditelisik sekilas, sumbangsih serta kontribusi yang besar dari Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani dalam hal wacana keilmuan dan posisinya sebagai jembatan tradisi pengetahuan, tidak lain adalah hasil dari pengembaraan dan pengelanannya selama berpuluh-puluh tahun, serta tidak terlepas dari jaringan ulama-ulama Nusantara ketika itu.

Maka, jika melihat peranan dan pencapaian Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani, pada akhirnya, layak jika dikatakan Indonesia—yang dulunya Melayu-Nusantara—pernah menjadi kiblat pengetahuan dan melahirkan tokoh besar yang berpengaruh tidak hanya di tempat asalnya, tetapi juga mempunyai pengaruh kuat di Asia Tenggara sampai ke Timur Tengah.

Muncul Paham Tarikat Wujudiyah Mulhid (WM) di Palembang

Pada pertengahan abad ke-18 di Palembang menyebar paham atau tarikat Wujudiyah Mulhid (WM). Paham yang menyimpang dari Alquran dan Alhadits ini telah lebih dulu berkembang di Nangroe Aceh pada akhir abad ke-17.

Berkat usaha-usaha dakwah para ulama terutama Syaikh Nuruddin Al Raniri, umat Islam di Nangroe Aceh berhasil dibersihkan dari segala pengaruh wujudiyah mulhid.

Tak dinyana di belakang hari praktik WM ini telah pula ditemukan menyebar dan berkembang di Palembang. Al-Palimbani yang bermukim di Mekah mengetahui di kota kelahirannya telah berkembang paham WM.

Beberapa pelajar dan jemaah haji asal Palembang menemui beliau dan melaporkan perkara paham yang dapat menyesatkan umat Islam tersebut.

Penguasa Kesultanan Palembang Darussalam ketika itu berhasrat kuat memberantas paham WM sedini mungkin sebelum menyebar lebih luas.

Sultan yang memerintah pada saat itu diduga kuat adalah Sultan Mahmud Badaruddin II (1767-1862) mengirim surat kepada Al-Palimbani melalui jemaah haji.

Sultan meminta fatwa kepada Al-Palimbani selaku ulama tasawuf tentang perkara WM dan bagaimana ikhtiar umat Islam dalam mengatasinya.

Atas dasar tanggung sebagai ulama sekaligus berdasarkan permintaan sultan Palembang selaku umara, pada tahun 1188 H bertepatan dengan tahun 1774 M Al-Palimbani menyelesaikan penulisan kitab, berjudul Tuhfat al-Raghibin fi Bayan Ḥaqiqat Iman al-Mu’minin wa Ma Yufsiduhu fi Riddat al-Murtaddin.

Di dalam kitab ini Al-Palimbani menyampaikan hujjah dan targib kepada seluruh umat Islam agar tidak tersesat oleh berbagai paham yang menyimpang dari Islam seperti ajaran tarikat yang mengabaikan syariat, tradisi menyanggar (memberi sesajen), paham wujudiyah mulhid.

Di dalam kitab ini Al-Palimbani juga menyatakan penulisan kitab tersebut atas permintaan Sultan Palembang.

Di Palembang ketika itu sebenarnya terdapat beberapa ulama yang dalam bidang fiqh, asbab alnuzul, asbab al-wurud, qiyas, bayan, dan lain-lain boleh dibilang juga sangat mumpuni.

Para ulama itu, antara lain Syihabudin bin Abdullah Muhammad (menulis kitab Haqiqat Al-Bayan), Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin (mengarang Hikayat Syeikh Muhamad Saman), Kemas Fakhruddin (menulis Fath Al-Rahman), dan Muhammad Ma‘ruf bin Abdullah (khatib Palembang yang menulis Tariqah yang Dibangsakan kepada Qadariyah dan Nakshabandiyah).

Selain itu, faktor utama yang menjadi latar belakang kemunculan dan kemasyhuran al-Palembani di wilayah Palembang adalah karena wilayah Palembang pada saat itu sebagai pusat keilmuan Islam yang dibangun oleh Kesultanan Palembang Darussalam sehingga memungkinkan bahwa Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani dapat memajukan serta mengembangkan ilmu-ilmu keislaman di daerah tersebut. ***

Sumber :

1. Mal an abdullah, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani, Biografi dan warisan keilmuan, H Mal An Abdullah, Elex Media Komputindo, 2019
2. http://beritapagi.co.id/2019/09/05/spirit-nasionalisme-syekh-abdul-somad-al-palembani.
3. http://beritapagi.co.id/2019/09/02/syaikh-abdus-samad-al-palimbani-tokoh-sufi-dari-palembang
4. https://www.laduni.id/post/read/48786/biografi-syaikh-abdus-samad-al-palembani
5. Syamsul Noor Al-Sajidi, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani (1704-1789 M) Filsuf dan Ulama Tassawuf dari Palembang , Halaqah Melayu Sebangsa-Secita-Setuturan, 2015
6. https://islami.co/abdul-samad-al-palimbani-jembatan-pengetahuan-nusantara-dan-haramain

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here