Home Sejarah Api Perjuangan Rakyat Sumsel di Agresi Militer Belanda Ke II (Bagian...

Api Perjuangan Rakyat Sumsel di Agresi Militer Belanda Ke II (Bagian Pertama)

0
Markas Batalyon 28/STB pada waktu melakukan gerilya dalam agresi militer Belanda ke II, tempatnya di Gunung Bungkuk terletak antara Curup-Bengkulu. Dari sana pimpinan perlawanan terhadap Belanda di lancarkan. Sumber Foto: Republik Indonesia, Provinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar (Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

GAGAL menguasai secara penuh jajahannya, Belanda akhirnya menggelar Aksi Polisionil lanjutan, Politionele Actie II (atau agresi militer Belanda II ).
Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak (bahasa Belanda: Operatie Kraai) terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya.

Perintah melaksanakan Agresi Militer II Belanda dikirmkan oleh Menteri wilayah seberang lautan Belanda Maan Sassen kepada wakil tinggi Mahkota Belanda di Indonesia Dr. Beel, tanggal 18 Desember 1948 .

Sementara itu, Panglima Besar Jenderal Sudirman sebelum meninggalkan Yogyakarta mengeluarkan perintah kilat yang ditunjukan kepada semua pasukan TNI yang disampaikan oleh Kapten Suparjo melalui RRI yang berbunyi:

PERINTAH KILAT
No.I/PB/D/48

Kita diserang Belanda.
Pada tanggal 19 Desember 1948 angkatan perang Belanda menyerang Kota Yogyakarta dan lapangan terbang Maguwo.
Pemerintah Belanda telah membatalkan persetujuan gencatan senjata. Semua angkatan perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk menghadapi serangan Belanda

Dikeluarkan di: tempat
Tanggal: 19 Desember 1948 pukul: 08.00
Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia
Letnan Jenderal Sudirman

Dengan adanya perintah kilat tersebut, perjuangan rakyat Indonesia terutama TNI kembali kepada ketentuan-ketentuan yang sudah digariskan oleh pimpinan TNI melalui perintah siasat No.I tersebut yang dikeluarkan tanggal 9 November 1948.

Pokok-pokok perintah siasat No.I
1. TNI tidak melakukan pertahanan yang bersifat linier
2. Memperlambat setiap majunya serbuan musuh dan pengungsian total serta bumi hangus
3. Membentuk kantong-kantong di setiap onder distrik yang mempunyai kompleks di beberapa pegunungan
4. Pasukan yang berasal dari daerah federal menyusup kepada garis musuh Wingate dan membentuk katong-kantong gerilya (Sarjono dan Masaji, :1982:13-14)

Kemudian diperkuat dalam PP. no.30/1948 yang bunyinya: “Semua alat kekuasaan Negara dibawah pemerintahan militer dan semua badan serta jawaban penting dimiliterisasikan” (Lemhannas, 1996).

Adanya kedua perintah tersebut menjadi pegangan bagi pasukan TNI dalam melaksanakan tugasnya membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari serbuan Belanda pada masa Agresi Militer Belanda II.

Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara. Pada hari pertama Agresi Militer Belanda II, mereka menerjunkan pasukannya di Pangkalan Udara Maguwo dan dari sana menuju ke Ibu kota RI di Yogyakarta.
Kabinet mengadakan sidang kilat. Dalam sidang itu diambil keputusan bahwa pimpinan negara tetap tinggal dalam kota agar dekat dengan Komisi Tiga Negara (KTN) sehingga kontak-kontak diplomatik dapat diadakan.

Sementara itu Jenderal Spoor yang telah berbulan-bulan mempersiapkan rencana pemusnahan TNI memberikan instruksi kepada seluruh tentara Belanda di Jawa dan Sumatra untuk memulai penyerangan terhadap kubu Republik. Operasi tersebut dinamakan “Operasi Kraai” .

Sementara itu Sumatera Bagian Selatan juga ikut andil dalam mempertahankan kemerdekaan pada masa Agresi Militer II Belanda. Di Daerah Sumatera Bagian Selatan Agresi Militer Belanda ke II Belanda dilakukan pada akhir desember 1948.

Daerah pertama yang mendapat serangan adalah Jambi (28 Desember 1948), kemudian Sumatera Selatan (29 Desember 1948), Lampung (1 Januari 1949), dan Bengkulu (5 Januari 1949).

Kantung-kantung pertahanan dan strategi tempur dibangun untuk mempertahankan kemerdekaan RI, tak terhitung berapa nyawa, kerugian materil, hingga keluarga dalam usaha mempertahankan kemeredekaan RI.

Semua bagian mulai dari pemimpin, rakyat serta wilayah pertahanan Militer mengambil alih dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia

Dilatarbelakangi dengan terjadinya pelanggaran garis demarkasi oleh Belanda, tiga daerah yang menjadi sasaran Belanda yaitu Tebing tinggi, Pagaralam, dan Muara Dua yang berhadapan langsung dengan kekuatan pasukan Belanda.

Penyerangan dilakukan oleh Belanda di sektor Palembang Utara yaitu daerah Musi Banyuasin (Mangunjaya) dimulai pada 29 Desember 1948 sekitar pukul 07.00 dengan melakukan tembakan mortier dan Meriam Howitser ke arah pasukan TNI, dan terus maju diiringi oleh pasukan motor landing craftnya serta kapal terbang yang menembaki sasaran pertahan pasukan TNI.

Pasukan TNI menempati lubang pertahanan dipinggir Sungai Musi untuk menembak sasaran motor musuh. Dalam pertempuran ini Kapten Makmun Murod didampingi A. Karim Umar Hasan sebagai komandan dan pasukan.

Kapten Makmum Murod mengomandokan senapan mesin juki menembak sasaran motor landing craft Belanda yang bergerak maju yang akan melewati garis pertahanan pasukan. Pertempuran front Babat Toman jatuh ke tangan musuh.

Makmum Murod didampingi A. Karim Umar Hasan mundur ke Sungai Angit.

Penyerang Belanda terhadap Tebing Tinggi dilakukan melalui Sukarame pada tanggal 31 Desember 1948, di Sungai Empayang Dusun Saung Naga.

Dipimpin Letnan dua Sumaji, yang kemudian gugur. Sebelum komandan Batalion mengundurkan diri, TNI melakukan perusakan jembatan atau bangunan di daerah Tebing Tinggi. R.Z Abidin bergerilya di daerah pendudukan Belanda yaitu Bunga Mas.

Pasukan Karim Kadir dan Adnan Ibrahim masuk daerah Lintang antara Kota Lahat dan Pagarlam. Pasukan Faisol di daerah Lintang Empat Lawang. Sedangkan titik pertemuan dengan staff Batalion di Dusun Perangai.

Pasukan Belanda berhasil merebut markas Batalion XII, setelah terjadi perlawanan sengit dengan pasukan TNI.

Sebagian pasukan Belanda bergerak ke Lubuk Linggau dan menyerang daerah Muara Beliti.

Di Periuk dekat Lubuk Linggau, Belanda bertemu bagian dari pasukan TNI-Subkoss. Sersan M. Jazid Denin berserta Letnan dua Samsul Bahri meledakkan Jembatan Megang.

Selain itu Komandan STP (Sub Territorium Palembang) Letnan Kolonel Bambang Utoyo, memberikan instruksi agar pasukan TNI dan pejuang untuk menghancukan bangunan milik Belanda.

Bambang Utoyo memerintahkan Letnan Dua Muchtar Aman untuk meledakkan beberapa lokomotif kereta api yang ada di stasiun Lubuk Linggau.

Pada tanggal 29 Desember 1948 pukul 08.00 pagi Kota Lubuk Linggau kembali di serang dari udara oleh pasukan militer Belanda dengan menembaki markas Subkoss dan lain-lainnya dan jalan menghubungkan Tebing tinggi –Muara Beliti ke Lubuk Linggau. Hari Jumat, 31 Desember 1948, dipimpin oleh Inspektur satu Abdullah Kadir berangkat dari Lubuk Linggau.

Pada tanggal 1 Januari 1949 terjadi petempuran di dalam kota. Bersamaan dengan itu terjadi peledakkan kantor telepon. Daerah Pagaralam mulai diserang Belanda pada tanggal 30 Desember 1948.

Pasukan Belanda lewat Endikat mengalami pertempuran dengan dikomandoi pasukan Rasyid Nawawi dan kapten M,Yunus dari Batalion XVI. Para pejuang di daerah ini antara lain pasukan Simajuntak (Harimau Malaya). Pada tanggal 30 Desember 1948 Kota Pagaralam dapat diduduki Belanda.

Belanda melanjutkan serangan dari Pagaralam ke daerah Lintang Empat Lawang.

Belanda menyerang dari arah simpang Martapura, berhadapan dengan pasukan Letnan Satu Ryacudu dan Letnan Satu Hasbullah Bakri.

Pasukan Belanda menyerbu melalui Tanjung Langkayap dihadang laskar rakyat Muara Dua yang bertahan di front tersebut, dibawah pimpinan Patih Nawawi.

Menghambat masuknya tentara Belanda ke Curup, panglima Subkoss memberikan perintah kepada Komandan Batalion XXVIII M. Zen Ranni untuk seluruh Batalion maju ke arah Curup.

Kompi di bawah pimpinan Letnan Satu Z. Arifin Djamil mengambil posisi untuk menyerang dan bertahan di atas tebing depan Jembatan Teliu.

Pasukan mundur ke Beringin III untuk membuat pertahanan di Tebing Mojorejo, tetapi tidak bertahan lama karena Belanda menyerang dari darat dan udara.

Dalam gerak majunya pasukan Belanda ke Curup masih mendapat gangguan-gangguan, pada pukul 17.00 Belanda dapat menduduki Kota Curup. ***

Sumber:
1. Syafruddin Yusuf. Sejarah dan Peranan Subkoss Dalam Perjuangan Rakyat Sumbagsel (1945-1950). Palembang
2. http://id.wikipedia.com/agresi-militer-ii-belanda
3. https://aviahistoria.com/2018/12/19/70-tahun-agresi-militer-belanda-ii-operatie-kraai
4. https://tirto.id/resolusi-pbb-yang-menghentikan-agresi-militer-belanda
5. https://republika.co.id/berita/kolom/resonansi/o79xbd319/perundingan-roemroijen-1949
6. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here