Home Palembang Balar Sumsel Keluarkan Tiga Rekomendasi Terkait Pengelolaan Bukit Siguntang

Balar Sumsel Keluarkan Tiga Rekomendasi Terkait Pengelolaan Bukit Siguntang

0
Arkeolog dari Balai Arkeologi (Balar) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. Retno Purwanti, Mhum.

PALEMBANG.PE – Arkeolog dari Balai Arkeologi (Balar) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. Retno Purwanti, Mhum, menjelaskan untuk pengembangan Bukit Siguntang ke depan dan supaya Bukit Siguntang tidak mudah dirusak, maka Balar Sumsel telah mengeluarkan tiga rekomendasi Bukit Siguntang.

Ketiga rekomendasi tersebut yakni Pertama, membuat master plan rencana pengelolaan, pengembangan dan pemanfaatan Bukit Siguntang. Kedua, dilarang menambah bangunan baru di zona inti Situs Bukit Siguntang, dan terakhir, pengembangan Bukit Siguntang dalam bentuk apapun harus seizin dan diawasi oleh arkeolog.

“Untuk semua pengelolaan situs ketiga poin’ itu wajib. Dalam kajian zonasi akan dibagi menjadi 4 zonasi. Zona inti dan zona penyangga itu tidak boleh ada penambahan bangunan apapun. Zona 3 pengembangan dan zona keempat pemanfaatan. Tapi, intinya di zona ke-3-4 itu baru diizinkan untuk mendirikan bangunan baru sesuai dengan prinsip-prinsip pelestarian cagar budaya,” kata dosen UIN Raden Fatah ini, Sabtu (25/7).

Tiga poin penting itu, menurutnya, selalu Balar Sumsel sampaikan dalam rapat-rapat dengan UPTD terkait .

Juga dalam webinar dengan tema: “Situs Bukit Siguntang: Permasalahan dan Jalan Keluarnya, sebagai Upaya Mempertahankan Nilai-Nilai Kebangsaan dan Nilai Ekonomi “yang di selenggarakan oleh Pendidikan IPS FKIP Universitas Sriwijaya Bekerjasama Masyarakat Sejarawan Indonesia, Jumat (24/7).

Dimana kegiatan yang diikuti ratusan partisipan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan Malaysia dan Brunei Darussalam, dibuka oleh Dekan FKIP Unsri Prof. Sofendi, M.A., Ph.D.

Webinar tersebut yang dipandu oleh Dr. Nyimas Umi Kalsum, M.Hum dari UIN Raden Fatah Palembang, menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Prof Dr Muhammad Bin Haji Salleh (USM Pulau Pinang Malaysia), Dr. Retno Purwanti, MHum (Balai Arkelologi Sumsel), Dr. Mohd. Afendi Daud (KUIM Melaka Malaysia), Dr. Farida R. Wargadalem (Ketua MSI Cabang Sumsel), dan Hj Zukiflee Hj Abd Latif (sejarawan Brunei Darussalam).

Retno Purwati menjelaskan catatan penting hasil uji lapangan SPSP Jambi di Bukit Siguntang tahun 1992 , mengingat Bukit Siguntang akan dijadikan sarana pendidikan sejarah/budaya (tertuang dalam Proposal Master Plan), maka penonjolan kehadiran makam Raja-raja Sriwijaya di sana sebagai asset utama nilai kesejarahan Bukit Siguntang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan akan berarti penyimpangan bagi tujuan di atas.

“Fakta atau data sejarah hendaknya tidak dicampur dengan dongeng, mitos dan legenda dalam masyarakat yang sulit dicari bukti kebenarannya. Selain itu, tahun 1992 pembangunan Taman Raja-Raja Sriwijaya, dampak terangkatnya bata-bata kuna dari matriksnya dengan tingkat kerusakan 80 % (SPSP Jambi, 1992),” jelasnya.

Lalu tahun 2016-2018, Revitalisasi Bukit Siguntang berdasarkan data arkeologi dengan arahan dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan dan Revitalisasi Bukit Siguntang berdasarkan data arkeologi dengan arahan dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan .

Selain itu makam-makam di Bukit Siguntang menurutnya, bukan makam-makam Raja Sriwijaya, makam-makam tersebut adalah makam Putri Kembang dadar, Putri Rambut Selako , Sigentar Alam, Panglima Batu Api , Bagus Kuning , Bagus Karang dan Panglima Tuan Junjungan.

“Waktu Sevenhoven di Bukit Sebuntang ada makam Raja Iskandar saja, lalu tim Arkeologi 1954 ada Makam Raja Iskandar dan Makam Putri Cina/Cempa, tahun 1985 ada 5 cungkup makam dan 1992 ada 7 makam,” katanya.

Retno menjelaskan makam-makam di Bukit Siguntang, terutama Raja-raja Sriwijaya tidak dimakamkan karena menganut agama Hindu-Buddha, tapi dibakar dan abunya ditaburkan di sungai atau di laut.

“Orientasi makam tidak semua makam sesuai dengan kaidah Islam (Utara-Selatan), ada yang orientasinya (Timur-Barat) lalu fakta sejarah: ada peningkatan kuantitas makam, dari satu makam menjadi 6 makam yang dikeramatkan,” katanya.

Selain itu, tokoh-tokoh yang dimakamkan tidak dikenal dalam sejarah—Kitab Sejarah Melayu bukan sumber sejarah, melainkan karya sastra sejarah. “Laporan uji lapangan oleh SPSP Jambi tahun 1992—makam-makam itu fiktif,” katanya.

Retno juga menjelaskan, dalam Kitab Sejarah Melayu yang ditulis pada tanggal 13 Mei 1612 Masehi menuliskan mengenai Bukit Siguntang. “Adapun negeri Palembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Maka di hulu Sungai Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu namanya; di dalam sungai itu ada sebuah bukit bernama Bukit Si Guntang; di hulu Gunung Maha Miru, di daratnya ada satu padang bernama Padang Penjaringan. Maka ada dua orang perempuan berladang, Wan Empo seorang namanya dan Wan Malini seorang namanya; dan keduanya itu berumah di Bukit Si Guntang itu, terlalu luas humanya, syahadan terlalu jadi padinya, tiada dapat terkatakan; telah hampir masak padi itu.”

Menurut Boedenani : Siguntang—guntang (kata kerjanya : nguntang) berarti mengapung, terapung-apung. Si guntang : yang terapung-apung. Faktanya, lanjut dia, Bukit Siguntang adalah puncak tertinggi di Palembang, lereng timurnya curam, kemudian ada dataran tinggi, yang akhirnya melandai ke arah laut. Lereng barat tidak curam, melainkan melandai ke arah Sungai Musi.

“Dalam perkembangannya Bukit Siguntang dijadikan diantaranya: 1800 an (Sultan Mahmud Badaruddin bin Suhunan Bahauddin)—tempat bersumpah para kepala suku di depan makam Raja Iskandar, 1920 : Westenenk—kepala arca Buddha—Batavia, 1923 : Westenenk– 2 fragmen bagian torso dan kaki arca Buddha, dan 1937 : Schnitger—arca Buddha Sakyamuni, fragmen prasasti, sisa bangunan bata, arca-arca Buddha dari logam, prasasti Siddhayatra, prasasti emas.

Di Bukit Siguntang menurutnya pernah ditemukan Arca Buddha Amaravati dengan kondisi saat ditemukan pecah menjadi 3 bagian. “Arca-arca di puncak Bukit Si Buntang diruntuhkan oleh Susuhunan Abdurachman (Akib, 1956) dan pada masa Sriwijaya diletakkan di puncak Bukit Siguntang,” katanya.

Selain itu di tahun 1954 tim Arkeolog-Geolog dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: kuburan-kuburan baru dan dua kuburan lama (Makam Ratu Sekendar Alam dengan orientasi Barat-Timur dan makam Tuan Puteri/Puteri Cina/Puteri Cempa dengan orientasi Utara-Selatan); bata-bata kuna bertebaran dimana-mana, yang di beberapa tempat ada yang masih berhubungan dengan tembok; di berbagai tempat ada bukit-bukit kecil yang mungkin sekali menandakan setumpukan sisa-sisa bangunan.

Lalu di tahun 1956 cungkup makam pekuburan Putri Kembang Dadar dan Makaman Bujut dan tahun 1974 LPPN & the University of Pennsylvania—pecahan keramik Yuan dan unidentified ceramic sherd.
Pada 1985 Sumarah Adhyatman—pecahan keramik Cina di lembah Bukit Siguntang dari masa Dinasti Tang (618-906 M). Pada 1985 Zahdi Yaim—tidak ada endapan sedimen laut di sekitar Bukit Siguntang, melainkan sedimen alluvial dari luapan banjir Sungai Musi. Bukit Siguntang berada pada undak ke-8 Sungai Purba. Dan 1992 SPSP Jambi—kajian teknis dalam rangka penanggulangan kerusakan situs atas pembangunan taman.

Selain itu sejak tahun 1992 sudah ada zonasi Bukit Siguntang oleh BPCB Jambi yaitu: Zona I : lahan inti seluas 12,5 hektar meliputi seluruh areal bukit yang dibatasi oleh jalan kampung. Zona II : lahan hijau seluas 7, 75 hektar meliputi daerah luar areal bukit. Zona III : lahan fasilitas seluas 11,25 hektar meliputi daerah di luar areal bukit sebelah utara.

“Bata kuno bukti Siguntang temuan tahun 1992 memiliki ciri bata berdenah segi empat panjang berukuran p=51,5 cm; l= 15 cm; tb= 12 cm. Bata berdenah lingkaran dengan diameter 20 cm dan tebal 7,5 cm. Bata berbentuk segitiga yang sisi-sisinya berukuran 11 cm. Bata-bata bagian dari profil/bingkai bangunan candi, “ paparnya.

Sedangkan penelitian yang dilakukan di Bukit Siguntang dimana tahun 2013 ada Penelitian field School melibatkan arkeolog, teknisi, staf dan karyawan Balai Arkeologi Palembang, serta dua staf Museum Sriwijaya Palembang. Penelitian melibatkan mahasiswa Jurusan Sejarah Kebudayaan Indonesia, Fakultas Adab, IAIN Raden Fatah Palembang.

Lalu 2014 ada penelitian arkeologis dilaksanakan oleh Balar Sumsel dgn dana hibah dari Pemerintah Provinsi Sumsel tahun 2014, melibatkan jurnalis dan guru-guru sekolah menengah umum dan sekolah menengah kejuruan di Palembang.

Kemudian 2015 ada penelitian dilakukan dari Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya (TWKS), dengan dana anggaran pendapatan dan belanja daerah tahun 2015

Di 2016 penelitian yang dilakukan Rumah peradaban Sriwijaya dengan kegiatan Field School di Bukit Siguntang, dan Sosialisasi Hasil Penelitian Sriwijaya, Forum Diskusi Group Spirit Sriwijaya, dan Pameran “Kadatuan Sriwijaya”.

“2018 sudah ada Zonasi Situs Kawasan Bukit Siguntang oleh BPCB Jambi, Balar Sumsel, Disbudpar Sumsel, Arkeologi Unhas dan BPCB Jatim,” katanya. Selain itu peran Bukit Siguntang dulu adalah tempat suci dan pusat keagamaan pada masa Kerajaan Sriwijaya .

“Selain itu Bukit Siguntang adalah tempat bangunan suci (stupa) dan vihara dengan puncak bukit berupa arca Buddha setinggi 277 cm, pada masa Islam menjadi tempat melakukan persumpahan—pada makam Raja Iskandar=Sigentar Alam=Iskandar Zulkarnaen dan menjadi tempat Religi, pendidikan, penelitian dan ekonomi,” katanya.

Sedangkan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Provinsi Sumsel Dr. Farida R. Wargadalem mengatakan, Bukit Siguntang memiliki hubungan sangat erat dengan Bangsa Singapura dan Malaysia. Penguasa Bukit Siguntang adalah Demang Lebar Daun. Memiliki lima orang anak. Terdiri dari empat perempuan dan satu laki-laki. Tiga putrinya diketahui bernama Wan Sundari, Wan Empuk, dan Wan Malini.

“Anak lelakinya adalah salah satu pendiri Kerajaan Jambi. Satu putrinya kemudian menikah dengan Raja Tanjung Jabung (Jambi). Wan Sundari menikah dengan Nila Utama, yang kelak menjadi pendiri Kerajaan Singapura 1299,” katanya.

Kemudian Wan Empuk, ia melanjutkan, menikah dengna Nila Pahlawan, yang merupakan penguasa Tanjung Pura (Kalimantan Barat), dan Wan Malini dinikahi oleh Krisyna Pandita dari Minangkabau.

“Dari penjelasan ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara Bukit Siguntang dengan Jambi, Singapura, yang berlanjut ke Malaka. Juga ada hubungannya dengan Kalbar, Tanjung Jabung, Jambi, serta Minangkabau,” katanya.

Maka wajar, kata dia, jika disebut Bukit Siguntang adalah leluhur Bangsa Melayu, yang menyebar tidak hanya di Sumatera dan Kalimantan, tapi hingga Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Menurutnya, orang-orang dari Bukit Siguntang pada zaman dahulu telah melakukan perjalanan ke banyak tempat. Mulai dari pedalaman Sumsel, Padang, Jambi, Aceh, Kuala Kampar, dan Bengkulu, Pontianak, hingga Singapura dan Malaka, Malaysia.

“Diketahui pula perjalanan Parameswara (raja terakhir Sriwijaya, yang berkedudukan di Bukit Siguntang), ke Bintan, Singapura, Malaka, dan Pulau Bintan,” katanya.

Dalam sejarah Kerajaan Sriwijaya, ia mengatakan, berdasarkan prasasti yang ada, memang terdapat hubungan antara Bukit Siguntang dengan Bangka. Di sana ada prasasti Kerajaan Sriwijaya, salah satunya Prasasti Kotakapur.

Kegiatan yang diikuti ratusan partisipan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan Malaysia dan Brunei Darussalam, dibuka oleh Dekan FKIP Unsri Prof. Sofendi, M.A., Ph.D.

Acara yang dipandu oleh Dr. Nyimas Umi Kalsum, M.Hum dari UIN Raden Fatah Palembang, menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Prof Dr Muhammad Bin Haji Salleh (USM Pulau Pinang Malaysia), Dr. Retno Purwanti, MHum (Balai Arkelologi Sumsel), Dr. Mohd. Afendi Daud (KUIM Melaka Malaysia), Dr. Farida R. Wargadalem (Ketua MSI Cabang Sumsel), dan Hj Zukiflee Hj Abd Latif (sejarawan Brunei Darussalam).

Prof Dr Muhammad Bin Haji Salleh dari Universiti Sains Malaysia Pulau Pinang, Malaysia dalam paparannya menjelaskan manuskrip Sejarah Melayu, yang tersimpan di London, Inggris. Manuskrip itu merupakan naskah Sulalatus Salatin (penurunan raja-raja), yang merupakan karya dalam Bahasa Melayu dan menggunakan abjad Jawi. Isinya berupa sajak yang menceritakan sejarah Melayu.

Dalam manuskrip itu disebutkan bahwa ada sebuah negeri di tanah Andalas, yang bernama Palembang. Rajanya bernama Demang Lebar Daun dan sungainya bernama Muara Tatan. “Di ulu Sungai Tatan itu ada sebuah bukit. Seguntang Mahameru, namanya. Itulah pertama kali Siguntang disebut,” katanya.

Sedangkan Hj Zukiflee Hj Abd Latif, Sejarawan Brunei Darussalam, mengatakan, ada hubungan antara Bukit Siguntang dengan Brunei. Ia mencontohkan nama Wan pada putri-putri Demang Lebar Daun. Nama itu juga ada di Brunei. “Saya sendiri juga dari keturunan Wan,” katanya.

Hubungan tersebut lebih kentara ketika perkawinan keturunan Sang Nila Utama, yang merupakan anak Sultan Johor, dengan Raja Brunei pada 1368. “Mereka memeluk Islam. Setelah perkawinan itu, Brunei mendapat lima pusaka dari Johor. Yakni, beberapa negeri di Borneo (Kalimantan), Serawak,” katanya.

Jadi, kata dia, Bukit Siguntang sangat penting bagi orang Brunei. Karena di sanalah asal usul Melayu. Bukit Siguntang merupakan tempat yang dianggap suci dan penuh kharisma sejak abad 14-17 Masehi. Di tempat ini terdapat makam para tokoh keturunan Kerajaan Srwijaya. Tidak heran jika kawasan Bukit Siguntang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah, terutama mengenai sejarah Kerajaan Sriwijaya yang pernah menjadi pusat kegiatan agama Buddha di nusantara.

Bukit yang berada pada ketinggian sekitar 27 meter di atas permukaan laut dengan luas sekitar 12,8 hektar ini berlokasi di Jalan Srijaya Negara, Keluruhan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang. Pada masa kolonial Belanda, Bukit Siguntang dianggap sebagai tempat yang paling indah di Palembang.

Di bukit ini terdapat makam keturunan Kerajaan Sriwijaya, antara lain Segentar Alam, Puteri Kembang Dadar, Puteri Kembang Selako, Panglima Bagus Kuning, Panglima Bagus karang, Panglima Tuan Junjungan, Pangeran Raja Batu Api, dan Panglima Jago Lawang.

Selain menjadi tempat pemakaman bagi para keturunan Kerajaan Sriwijaya, menurut catatan sejarah, Bukit Siguntang sejak abad ke-7 telah menjadi tempat ibadah penganut Buddha. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya arca Buddha dengan tinggi mencapai 2,77 meter yang terbuat dari batu granit. RIL

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here