Home Sumsel Muara Rupit Dibangun Tahun Lalu, Jembatan Rp 2,4 M Mulai Alami Kerusakan

Dibangun Tahun Lalu, Jembatan Rp 2,4 M Mulai Alami Kerusakan

0
Inilah Kondisi Jembatan yang dibangun tahun 2019, tetapi telah mengalami kerusakan

MURATARA,PE- Diduga dibangun asal-asalan dan tidak sesuai spesifikasi Rencana Anggaran Biaya (RAB), Jembatan Sungai Pancur Desa Sosokan Kecamatan Ulu Rawas Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), mulai alami kerusakan.

Diketahui dari pantauan Palembang Ekspres dilapangan, Senin (20/7/20), jembatan yang dibangun mengunakan dana APBD tahun 2019 sebesar Rp 2,4 Milyar tersebut, saat ini mulai mengalami kerusakan seperti kondisi besi jembatan yang menjalar keluar setinggi lebih satu meter, hingga beton yang berlubang. Ini menjadi keluhan bagi pengendara yang melintas.

Diungkapkan Adi, salah satu pengendara dan masyarakt Kecamatan Ulu Rawas, kondisi besi jembatan yang keluar ke jalan itu menurutnya sudah terjadi beberapa bulan terakhir. Entah karena apa, padahal jembatan itu baru tahun kemarin dibangun.

“Biasalah Pak, mungkin cara bangunan mau besar untung. Padahal baru tahun lalu dibangun, sudah seperti ini kondisinya. Besi sampai keluar ke jalan, itu bisa jadi karena cornya ketipisan,” keluhnya.

Sebagai masyarakat yang sering melintasi jalan itu, dia menyebutkan sudah banyak pengendara lainnya mengeluhkan hal itu. “Bukan hanya itu saja, termasuk juga kondisi kerusakan di jalan penghubung Kecamatan Ulu raways dan Kecamatan Rawas Ulu, hal itu sangat mengganggu masyarakat saat melintas,” sampainya.

Kepada Pemerintah Kabupaten Muratara melalui dinas terkait dan kontraktor, dia berharap agar semua proyek yang ada di seputaran Kecamatan Ulu Rawas bisa dikerjakan dengan baik, agar bertahan lama serta sesuai harapan masyarakat.

Sementara itu Sukari, salah satu masyarakat Rupit yang mengaku mengerti betul tentang spesifikasi dan teknis pembangunan saat dikonfirmasi terkait kerusakan jembatan itu mengungkapkan, penyebab yang utama beton jembatan itu tipis. Karena itu besi jembatan tersebut baru satu tahun, sudah keluar ke jalan.

Untuk itu dia menyarankan kepada semua kontraktor yang ada di Muratara, khususnya yang sering dapat tender di wilayah Rawas Ulu dan Ulu Rawas kiranya untuk mengunakan peralatan yang seharusnya sesuai tawaran saat lelang di LPSE atau ULP Kabupaten Muratara.

“Dalam penawaran itu semua kontraktor menyanggupi mengunakan peralatan yang seharusnya, seperti eskavator, mobil molen dan sebagainya. Jangan sampai di penawaran ada peralatan itu, tetapi pada saat pengerjaanya tidak seperti itu. Misalnya di penawaran mengunakan mobil molen, tetapi prakteknya mengunakan mesin molen biasa. Bahkan ada yang mengaduk semen dengan cara biasa, seperti masyarakat bangun rumah,” terangnya.

Terus dalam pengunaan beton untuk bangunan proyek,lanjutnya, jangan mengunakan semen biasa yang pakai karung sak, tetapi harus beli dari pabrik atau memang beton berkualitas untuk proyek yang diangkut dengan mobil molen. “Bukan sebaliknya diaduk dilokasi dengan semen biasa. Meskipun mengunakan mobil molen, itu jelas itu teknisnya salah dan tidak sesuai aturanya,” jelasnya.

Menurutnya, meskipun jarak tempuh lokasi proyek itu jauh, tetapi semua sudah ada dianalisa jarak angkut. Terus seperti mengunakan batu split kiranya gunakanlah seperti jenis itu, dan jangan gunakan koral biasa atau sirtu. Sehingga kalau memang dikerjakan dengan benar sesuai spesifikasinya, ujar dia, tidak mungkin rusak seperti itu. Karena umur bangunan itu minimal harus bertahan 5 tahun, usai dibangun.

“Dalam proyek juga ada tim tenaga teknis baik SKT, Juru Ukur, Juru Gambar, Juru Kualitas Harga, dan mereka kemana. Kadang saat kita cek ke lokasi mereke tidak ada, bahkan yang ada dilapangan cuma tukang sama kepala tukang saja. Padahal selaku tenaga teknis atau pengawas tugas, mereka itu harus dilokasi karena mereka itu digaji, bahkan nilainya setara UMR,” ungkapnya.

Mereka itu, lanjutnya, sebagai tenaga ahli telah menyanggupi pada saat kontrak ditandatangani. “Jadi bukan ijazah mereka saja dipakai untuk tender kontrak itu, tetapi kerjanya harus dilapangan. Dalam hal ini selain masyarakat disana yang merasakan, Kabupaten Muratara juga dirugikan karena mempunyai bangunan yang tidak berkualitas dan selaku konsultan pengawas harusnya ke lapangan agar tahu kondisi bangunan,” tukasnya. SON

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here