Home Sejarah Kisah Tujuh Pasukan Belanda yang Tewas di Pedalaman Palembang (Bagian Kedua)

Kisah Tujuh Pasukan Belanda yang Tewas di Pedalaman Palembang (Bagian Kedua)

0
Leonard Kuijpers semasa hidup. Sumber Poto: http://www.archiefvantranen.nl

 

Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

PATROLI Belanda tersebut diserahkan kepada Krio (= tertua) dari Sendjagon, orang Shamsuddin. Di halaman rumah Sjamsoeddin ini mereka sempat disajikan buah-buahan dan kopi.

Setelah minum kopi, makan nasi di dalam ruangan. Tentara Belanda yang ditangkap ini juga dihadirkan tanpa membawa senjata dimana senjata mereka ditinggalkan dalam perahu.

Setelah makan, 7 tentara Belanda yang tidak bersenjata tersebut pergi dengan seorang komandan TNI bernama Simandjoentak ke Kangkoeng. Pria ini adalah seorang Batakker atau orang Batak dan berbicara bahasa Belanda.

Di Kangkoeng mereka sempat makan lagi di pasar, setelah itu tentara Belanda yang ditangkap oleh Simandjoentak diminta menyerahkan semua harta milik mereka.

Tidak ada tembakan, karena pasukan Belanda ini sudah pasrah. Tak satu pun dari mereka yang terluka.

Setelah makan malam, tentara Belanda itu dipanggil satu per satu atas perintah Simandjoentak, setelah itu mereka ditutup matanya dan tangan mereka diikat oleh anggota TNI oleh Hassan bin Sang Ratie, Toeah bin Djalan dan Dja’ʹpar bin Singa Depati.

Kemudian tentara Belanda dibawa ke Pasar Kangkoeng. Sepanjang perjalanan mereka jadi nontonan warga.

Di pasar di Kangkoeng, para tentara Belanda itu dibunuh dengan pisau dan potongan kayu oleh Simandjoentak dan saudaranya Liberty, setelah itu mayat-mayat dibuang ke Sungai Komering.

Setelah patroli Kopral Jonker tidak pernah kembali pada malam hari tanggal 16 Desember 1947, komandan detasemen memerintahkan penyelidikan pada hari berikutnya, pada 17 Desember 1947.

Pada 18 Desember, penyelidikan yang hampir mustahil dilakukan dimulai, pencarian intensif dan sistematis dilakukan di daerah berbahaya dan berawa antara Sungai Ogan dan Komering.

Pencarian dari Moeara Koeang berlangsung hingga 21 Desember, tetapi tujuh orang tentara Belanda tersebut tidak ditemukan.

Investigasi juga sedang dilakukan dari bagian lain di Sumatera Selatan terus dilakukan, tetapi patroli Belanda tersebut masih juga gagal. Mereka hanya menemukan rawa yang tidak bisa dilewati dan pencarian tidak membuahkan hasil.

Pada 22 Desember 1947 diputuskan untuk menghentikan pencarian tujuh orang tentara Belanda yang melakukan patroli tersebut.

Di pos terdepan di Kampung Goenoeng Batoe yang ada sejak 17 Desember 1947 terlihat sepi. Sudah sejak hari pertama sejumlah petugas jaga terus bersiaga.

Saat itu mereka berada di api unggun. Ketika malam tiba, mereka sudah mendengar bahwa patroli Belanda pimpin Kopral Jonker telah hilang. Sersan Mayor Van de Zande (4.7. RI) yang memimpin pos jaga sempat terkejut .

Pada hari Sabtu 20 Desember pukul 11.00 pagi, sebuah alarm berbunyi dari jembatan di atas Sungai Komering, sesosok jenazah mengambang di sungai.

Perahu bergerak cepat. Tubuh seorang pria kulit putih terlihat dan langsung dievakuasi. Terlihat luka di tubuhnya menunjukkan penganiayaan serius dan kepalanya dipenggal.

Pukul 1 siang ada alarm kembali berbunyi, mayat kedua mengambang menyusuri sungai ditemukan. Jenaszah pria ini terlihat kepalanya belum dipenggal, tetapi lebih buruk lagi, tangannya terikat di punggungnya.

Sersan Mayor Van de Zande mengatakan, “Bau busuk datang dari tubuh jenasah. Lalu kami mengambil tikar dan buru buru-buru membungkus jenazah dan di sana kami menaruh jenazah. Kami lalu menggali kuburan untuk menguburkan jenazah, tetapi tanah di sana sangat berawa, jadi ada air di kuburan itu. Kami harus mendorong mayat itu ke bawah lebih dalam karena kalau tidak, mayat-mayat itu akan muncul lagi karena tanahnya berawa. Kami menguburkannya di sebelah meja tempat saya duduk, di sebelah sebuah rumah kampung. Dan membuat salib dengan tanggal di atasnya. Saat itu tanggal 20 Desember. ***

Sumber:

1. Kerajaan Belanda dalam Perang Dunia Kedua: Hindia Belanda, oleh Dr. med. L. de Jong
2. Depot Arsip Pusat, Kementerian Pertahanan Rijswijk
3. Institut Sejarah Militer, Den Haag
4. Kuburan Perang Belanda Stichting-‘s-Gravenhage
5. Percakapan dengan mantan tentara 4,7. RI dari Tentara Kerajaan Belanda. Diskusi dengan mantan tentara Tentara Kerajaan Belanda-India
6. Percakapan dengan mantan tentara Intelijen Teritorial dan Keamanan di Sumatera Selatan
7. http://www.archiefvantranen.nl

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here