Home Pariwisata Museum Virtual, Arah Baru Rekreasi Wisata Edukasi Sejarah

Museum Virtual, Arah Baru Rekreasi Wisata Edukasi Sejarah

0

PALEMBANG, PE – Konsep physical distancing yang disarankan WHO untuk mencegah penularan selama pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) berpengaruh pada keberlangsungan sendi kehidupan, termasuk bidang permuseuman.

Namun, larangan berkerumun ini justru memberikan arah baru di bidang permuseuman, Museum Virtual. Museum berbasis digital dinilai menjadi salah satu metode paling efektif untuk tetap memberikan pelayanan edukasi kepada masyarakat terkait peninggalan sejarah dan budaya yang menjadi koleksi museum.

“Masa pandemi Covid-19 ini operasional museum terganggu. Lewat museum virtual, kita tetap bisa berkunjung ke museum tanpa harus berkerumun, masyarakat cukup menggunakan smartphone tapi sudah bisa melihat suasana di dalam museum, atau menggunakan media sosial,” terang CEO Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia, Danu Wibowo S, Pd dalam Diskusi Webinar Sejarah yang diselenggarakan Himpunan Pendidikan Sejarah (Himapes) Unsri via aplikasi Zoom, Sabtu (4/7).

Staf Edukasi dan Pengelola Data Museum Kebangkitan Nasional ini menambahkan, museum merupakan lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi sejarah dan mengkomunikasikannya dengan masyarakat. Oleh sebab itulah, revitalisasi museum menjadi upaya meningkatkan kualitas dalam melayani masyarakat sesuai dengan fungsinya, sehingga museum dapat menjadi tempat yang edukatif dan menyenangkan.

“Dengan membuat museum virtual kita bisa juga mendongkrak minat pariwisata, dan menjadi wisata rekreasi utama. Mari kita ubah paradigma dengan mengikuti perkembangan teknologi,” ajaknya.

Sementara itu, Praktisi Sejarah dan Permuseuman Digital, Kemas Gerby Novario, S. Pd menambahkan, museum bisa diartikan sebagai lembaga yang diperuntukkan bagi masyarakat yang berfungsi untuk mengumpulkan merawat menyajikan serta melestarikan warisan budaya masyarakat untuk tujuan penelitian kesenangan atau hiburan.

“Museum virtual mengkombinasikan visualisasi objek-objek pada media digital berbentuk tiga dimensi dan terlihat seperti aslinya,” katanya.

Dia menilai, kelebihan sistem virtual membuat pengguna dapat berinteraksi dengan sesuatu yang disimulasikan oleh komputer serta menyertakan tambahan informasi hasil penginderaan suara.

“Dalam museum virtual ini, speaker dan headphone itu sangat berperan penting karena selain pengunjung bisa memahami pesan-pesan yang disampaikan terkait koleksi museum,” terangnya.

Kelebihan lainnya, sambung Gerby, museum virtual dapat dikunjungi secara online dan dapat berulang kali. Metode ini dinilai cocok diterapkan selama masa pandemi Covid-19 karena selain bisa menjadi media pembelajaran juga bisa sebagai sarana hiburan jarak jauh.

“Lewat museum virtual ini juga bisa dibuat pekan festival museum, buat videonya kemudian diposting di media sosial. Orang akan lebih tertarik dengan museum,” sarannya. DVI

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here