Home Sejarah Pertempuran untuk Sumatera Selatan (Bagian Kedua)

Pertempuran untuk Sumatera Selatan (Bagian Kedua)

0
Beberapa tahanan perang yang dibebaskan dari sebuah kamp pengasingan Jepang di Palembang, Sumatera. 1945. Sumber Poto: https://id.pinterest.com
Dudi Oskandar.

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan

KNIL Tak Dipersiapkan Berperang dengan Musuh dari Luar

“MEMPERTAHANKAN suatu daerah kepulauan seluas Eropa dengan 350.000 orang serdadu bayaran … berarti suatu pekerjaan yang mustahil,” ungkap Bijkerk.

Hal itu disebutkannya dalam tulisan B.J. Bijkerk “Vaarwel, Tot Betere Tijden: Documentatie over de ondergang van Ned-Indie” pada tahun pada 1974.

Tulisannya juga sudah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Djambatan, dengan judul “Selamat Tinggal, Sampai Jumpa Pada Masa yang Lebih Baik”

Bijkerk berpendapat, bahwa kekuatan Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) pada masa itu dibentuk untuk menjaga keamanan dan kedamaian Hindia Belanda, tidak dipersiapkan untuk berperang dengan musuh dari luar.

“(Suasana Hindia Belanda seperti) orang yang menunggu hasil ujian tetapi mereka sebenarnya sudah tahu dengan pasti bahwa mereka tidak lulus,” tulisnya.

Dikatakannya, stasiun radio NIROM memperingatkan kepada warganya untuk membuang isi botol minuman beralkohol. Pikirnya, mereka tahu bahwa dalam pengaruh alkohol serdadu Jepang akan berlaku brutal.

“Semua botol-botol minuman kami buang isinya,” ungkap Bijkerk.

Namun, belakangan mereka baru paham bahwa tanpa pengaruh alkohol pun militer Jepang memang sudah terkenal dengan kebrutalannya.

Sementara para wanita dan anak-anak dari kediaman Benkoelen (Bengkulu), awalnya diinternir di sebuah benteng di ibukota dengan nama yang sama, tetapi tetap dari September 1943 hingga awal Oktober 1944 di sebuah gudang tua di kota Kepahiang, sekitar 40 kilometer ke pedalaman.

Penduduk kamp perempuan di Jambi dipindahkan ke Palembang pada bulan April 1944. Kebanyakan orang Indo-Eropa di antara para interniran di Teloek betoeng dan Tandjoengkarang dibebaskan pada bulan Juli 1942, tetapi kemudian berakhir di kamp pertanian keluarga terdekat Giesting.

Pada bulan Mei 1944, para wanita dan anak-anak Teluk Betung diangkut ke Palembang.

Dari akhir tahun 1943 semua orang sipil interniran dari Selatan, Tengah dan Sumatera Utara dibawa bersama di beberapa lokasi interniran baru di pedalaman.

Pertama giliran laki-laki dan anak laki-laki yang diinternir di Padang. Pada bulan Oktober 1943 mereka dipindahkan ke sebuah kamp dekat Bangkinang, sekitar 70 kilometer sebelah barat Pakanbaroe, di mana mereka ditempatkan di sebuah pabrik karet yang ditinggalkan.

Pada bulan Desember 1943, para wanita dan anak-anak Padang juga dipindahkan ke Bangkinang, di mana mereka ditempatkan di sebuah kamp sekitar 3 kilometer sebelah barat perkemahan pria. Setelah itu beberapa kelompok kecil dipindahkan ke Bangkinang, antara lain dari Pakanbaroe dan dari penjara Kempeitai di Padang.

Pada akhir tahun 1944, hampir 3.200 interniran tetap bersama di kedua kamp tersebut.

Di Sumatera Selatan, para pria, wanita dan anak-anak yang diinternir dipindahkan ke dua kamp penampungan besar di dan sekitar Muntok di Pulau Bangka pada tahun 1944 dan pada tahun 1944.

Orang-orang itu diinternir di penjara, wanita dan anak-anak di kamp barak di luar kota. Para lelaki khususnya mengalami masa-masa sulit di Bangka: hampir sepertiga dari semua interniran meninggal di penjara antara September 1943 dan Maret 1945.

Pada bulan Maret dan April 1945, kamp-kamp Muntok dievakuasi ke perusahaan karet terpencil Belalau di Loebuklinggau.

Hampir 30 interniran tewas selama perjalanan. Di Belalau, para wanita dan anak-anak ditempatkan di halaman perusahaan karet di Soengei Tjoeroep. Kamp pria itu lebih dari 2 kilometer lebih ke timur.

Mayoritas penduduk sipil dan anak-anak lelaki Sumatra Utara – sekitar 2.000 orang – dikumpulkan dari Oktober 1944 di kamp Si Rengorengo, yang terletak sekitar 8 kilometer sebelah barat Rantauprapat.

Sekitar 5.000 wanita dan anak-anak yang diinternir di Sumatera Utara terkonsentrasi di tiga kamp pada bulan April, Mei dan Juni 1945 di perusahaan karet Aek Pamienke, sekitar 30 kilometer sebelah utara Rantauprapat. Sekitar 160 orang Belanda “orang terkemuka”, Inggris dan Amerika ditempatkan di sebuah kamp pria terpisah dekat Padanghalaban, sekitar 12 kilometer sebelah tenggara Aek Pamienke. ***

Sumber :

1. indische kamparchieven.nl
2. http://beritapagi.co.id/2018/08/18/pertempuran-untuk-sumatra
3. Wikipedia
4. http://beritapagi.co.id/2018/10/19/jejak-jejak-berdarah-jepang-di-sumatera
5. https://notif.id/2020/12336/more/kamp-interniran-nasib-belanda-ditangan-jepang-dan-bangkitnya-perlawanan-bangsa-indonesia

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here