Home Palembang Disbudpar Sumsel Pasang Garis Penanda pada Lokasi Penggalian Terakhir di Bukit...

Disbudpar Sumsel Pasang Garis Penanda pada Lokasi Penggalian Terakhir di Bukit Seguntang

0
Pemasangan garis penanda di bekas penggalian arkeologi di Bukit Seguntang, Rabu (5/8).

PALEMBANG.PE – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Aufa Syahrizal Sarkomi, mengakui kalau pihaknya telah memberikan garis penanda semacam police line di bekas galian terakhir dari Balai Arkeologi (Balar) Sumsel, yang di gali beberapa tahun lalu.

“Galian itu sendiri belum selesai, artinya barang-barang itu menurut ibu Retno (Balar Sumsel) masih ada. Supaya tidak diganggu, makanya kita pasang garis itu. Kebetulan bangunan di sebelah dipakai adik-adik Pramuka, jadi posko mereka. Aku takut mereka tidak tahu, dikiranya galian lubang biasa, nanti dijadikan tempat buang sampah segala macam lalu rusak. Jadi kita minta tolong itu jangan diganggu, biar seperti itu di pasang garis penanda, artinya orang tidak boleh masuk di situ,” katanya, Kamis (6/8).

Sedangkan untuk melanjutkan penggalian arkeologi di Bukit Seguntang, menurut mantan Kadisbudpar OKU ini, tergantung pihak Balar Sumsel.

“Artinya kalau menurut Ibu Retno itu masih ada, khan itu ditemukan bata-bata seperti candi. Kalau diteruskan bisa ditemukan candi. Tapi tidak tahu sebatas mana, karena itu bagian orang arkeolog yang lebih tahu. Misalnya ada rencana penelitian lanjutan dan ada biaya mungkin dilanjutkan, saya juga ingin melihat dulu perkiraan jika diteruskan. Biasanya mereka punya asumsi, kalau ditemukan ini kemungkinan akan bentuknya begini, kalau memang jelas, kita carikan dananya. Tidak dana APBD, pakai dana APBN,” katanya.

Namun pihaknya belum berpikir kearah melanjutkan penggalian arkeologi di Bukit Seguntang, karena ada skala prioritas yang akan dilakukan di Bukit Seguntang yaitu ingin menghidupkan Bukit Seguntang supaya banyak aktivitas. Kalau banyak aktivitas, akan banyak orang datang termasuk wisatawan datang.

“Kemudian hasil rapat kita kemarin yang harus kita benahi di Bukit Seguntang, kita benahi, mana zona tidak boleh di ganggu. Tujuan utama saya bagaimana mengembalikan marwah Bukit Seguntang. Setelah Seguntang mulai eksis, ramai dikunjungi orang dengan berbagai latar belakang, dan Seguntang hidup kembali, setelah itu baru itu kita berpikir kedepan. Ada temuan galian arkeolog kita terus, ada temuan apalagi kita teruskan seperti itu, jadi setiap hari Seguntang itu ada aktivitas, tujuan aku kesana,” katanya.

Sedangkan Kepala Balai Arkeologi (Balar) Provinsi Sumsel, Budi Wiyana mengatakan, lokasi yang diberikan seperti garis penanda oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel yakni lokasi penggalian arkeologi terakhir Balar Sumsel antara tahun 2016/2017 di Bukit Seguntang. Lokasinya persisnya di dekat jalan.

“Itu penggalian yang didanai oleh dinas, dan itu yang terakhir tahun 2016 atau 2017 kalau tidak salah. Itu dua kali, Balar satu kali dari dinas dananya,” katanya. Dia juga mendukung upaya Disbudpar Sumsel, mengamankan lokasi bekas penggalian arkeologi di Bukit Seguntang.

“Seharusnya dari dulu, dan dulu ada cungkup terus cungkupnya sudah rapuh roboh. woaktu kita sarankan jangan di tampakkan ditimbun lagi saja, itu lebih aman, itu kalau dicungkup tetap panas dan kelembabannya sudah beda, “ katanya.

Dia menanggapi ide Disbudpar, yang akan membuat pagar di bekas lokasi penggalian arkeologi di Bukit Seguntang

“Meskipun dipagar, ditutup dan diatapi, dan begitu batanya ditampakkan, suhu di tanah kan beda, lebih baik ditimbul saja, kita sudah sarankan seperti itu,” katanya.

Dan menurutnya, hanya satu lokasi di Bukit Seguntang yang lokasinya bekas penelitian arkeologi dari Balar Sumsel yang masih terbuka dan belum di tutup tanah. “Lokasinya dekat jalan itulah,” katanya.

Dia setuju kalau dari hasil kajian penggalian arkelologi di Bukit Seguntang dilanjutkan, walaupun dananya bukan dari Balar Sumsel.

“Paling tidak nanti strukturnya tahu dimana saja bisa kita plot dan bisa ketahuan itu apa. Tapi sayangnya dari beberapa kali penggalian kita tidak banyak menemukan, lapisannya banyak strukturnya, paling dua sampai tiga lapis. Karena tahun 1950 an, 90 an sudah banyak dirusak , sudah diambil penduduk,” katanya.

Sedangkan Ketua Forum Pariwisata dan Budaya (Forwida) Sumsel, Dr. Ir. Diah Kusuma Pratiwi, MT mengaku setuju kalau lokasi bekas penelitian arkeologi Balar Sumsel di Bukit Seguntang diamankan dengan diberi garis penanda.

“Setuju saja kita, tidak apa-apa, daripada di acak-acak orang, sementara saja itu kan, rencananya itu mau di pagar sebagai bukti penggalian,” katanya.

Mengenai kelanjutan penggalian dan penelitian di Bukit Seguntang, menurutnya harus dibicarakan dahulu dan harus ada pertimbangan sama-sama karena menyangkut sudut pandang dan kepentingan.

“Kalau hasil diskusi FGD kita layak dilanjutkan penggalian tersebut, ya boleh kalau relevan. Tapi kalau langsung digali tidak bisa, karena kita dari muatan banyak pihak,” katanya.

Pihaknya terus mendorong pelestarian budaya di Bukit Seguntang, dan bagaimana Bukit Seguntang bisa bermanfaat bagi orang banyak dan bisa menjadi bahan penelitian pembelajaran bagi masyarakat dan lain-lain. DUD

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here