Home Sejarah Dr AK Gani dan Roem-Roijen Statement (Bagian Pertama)

Dr AK Gani dan Roem-Roijen Statement (Bagian Pertama)

0
Adnan Kapau (AK) Gani bersama Amir Syarifuddin Harahap (Menteri Pertahanan RI); Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI) di Paleis Rijswijk (sekarang Istana Merdeka, Jakarta) 25 Maret 1947 tengah terlibat percakapan dengan berbagai pihak di hari penadatanganan perjanjian Linggarjati. (Fotografer: Cas Oorthuys/Sumber/Hak cipta: Fotoleren)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar (Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

MAYJEN TNI (Purn) dr AK Gani menyandang banyak titel, bintang film, aktivis pergerakan, dokter, menteri, hingga perwira militer. Perannya yang paling menonjol terjadi di era Revolusi.

Tanggal 19 Agustus 1945, dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, Kementerian Luar Negeri berdiri, bersamaan dengan dibentuknya Kabinet Presidensial, kabinet pertama setelah Indonesia merdeka.

Achmad Soebardjo, yang semasa era pergerakan nasional berpengalaman dalam urusan internasional bersama Hatta, ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri RI yang pertama. Namun, ia menempati jabatan ini hanya beberapa pekan saja sampai 14 November 1945, lalu digantikan Soetan Sjahrir. Kelak, Soebardjo kembali menjadi Menlu sejak 27 April 1951.

Bulan April 1946, untuk pertamakalinya pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, mengirimkan misi diplomatik pertamanya, yakni ke Belanda untuk berunding dengan pihak Sekutu. Agustus di tahun yang sama, Kemenlu berperan mengirimkan bantuan beras untuk rakyat India yang sedang diterpa wabah kelaparan.

Adapun misi diplomasi resmi pertama yang diteken Kemenlu RI adalah Perundingan Linggarjati pada 25 Maret 1947. Sjahrir bersama Soesanto Tirtoprodjo, Mohammad Roem.

AK Gani pun ikut maju ke meja perundingan, berhadapan dengan delegasi Belanda yang diisi oleh Wim Schermerhorn, H.J. van Mook, Maz van Poll, dan Lord Killearn. AK Gani aktip berhadapan dialog dengan Van Mook.

Namun dalam perjalanannya sejumlah poin yang disepakati dalam Perundingan Linggarjati, termasuk gencatan senjata, ternyata dilanggar oleh Belanda, dengan dalih perbedaan tafsir. Abdul Haris Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia (1991) mengungkapkan, Belanda berulah dan memicu bentrokan di beberapa daerah (hlm. 439). Akibatnya, terjadilah Agresi Belanda I sejak 21 Juli 1947.

Namun diperjanjian Renville tahun 1948 dan Roem-Roijen tahun 1949, dan Konfrensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949, A K Gani tidak berperan dan tidak ikut dalam pembahasan perjanjian-perjanjian tersebut.

Berkembang kabar AK Gani dia tidak menyetujui hasil perjanjian Roem-Roijen Statement tahun 1949 dan akan meneruskan perjuangan dengan cara sendiri.

Dalam wawancara dengan wartawan Antara tanggal 28 Agustus 1949, A.K. Gani yang kala itu berada di Palembang mengklarifikasi berita yang mengatakan, dia tidak menyetujui Roem-Roijen Statement tahun 1949 dan akan meneruskan perjuangan dengan cara sendiri. adalah tidak benar.

Pertanyaan: Bagaimanakah reaksi dari partai-partai yang berada di daerah Republik di Sumatra Selatan terhadap Roem-Roijen Statement? Tanya sang wartawan?

Dijawab AK Gani: “Pada mulanya terdapat juga keruwetan. Tetapi ini yang menjadi pokok, bukan Roem-Roijen Statement itu. Hanyalah Pemerintah mana yang harus dipatuhi: Bangka atau Daruratkah? Dan mana yang telah melahirkan Roem-Roijen Statement itu,” kata AK Gani.

Apalagi menurut AK Gani banyak berita yang mengatakan. bahwa Pemerintah Darurat tidak menyetujui Roem-Roijen Statement. Tetapi setelah ada penjelasan. segenap partai partai dan pemimpin-pemimpinnya pada umumnya taat pada Pemerimah Pusat.

Mengenai Konfrensi Meja Bundar (KMB) A.K. Gani menerangkan. bahwa pada dasarnya KMB tersebut adalah penerusan dari Linggarjati dan Renville. Soal soal yang harus dipecahkan adalah soal militer dan ekonomi.

Diterangkan AK Gani bahwa sekarang nampaknya kedua belah pihak sudah saling mengerti dalam hal hal ini. Soalnya sekarang: Berani menerima dan harus berani pula memberi. A.K. Gani menerangkan bahwa selain dari itu faktor luar negeri akan menekan pula supaya soal Indonesia lekas beres guna lapangan pasar bahan mentah Internasional.

Dengan KMB, menurut AK Gani perselisihan antara Indonesia dengan Belanda akan beres. Kalau tidak kekuatan militer yang akan menentukan. Tetapi A.K. Gani yakin. soalnya akan beres dengan perundingan.

Pertanyaan mengenal perundingan perundingan cease fire (gencatan senjata) yang telah dilakukannya dalam beberapa hari ini. dijawabnya dengan stetment: “No comment.“ RIL

Sumber :

1. Pramoedya Ananta Toer dkk, Kronik Revolusi Indonesia jilid V (1949), Jakarta , Agustus 2014, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
2. https://tirto.id/ak-gani-aktivis-pergerakan-dan-menteri-yang-jadi-bintang-film
3. https://tirto.id/aksi-diplomasi-kemenlu-ri-sejak-zaman-revolusi-
4. Wikipedia

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here