Home Palembang Rawat Koleksi Museum Dengan Cara Tradisional

Rawat Koleksi Museum Dengan Cara Tradisional

0
Tim konservasi dari Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa melakukan konservasi koleksi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Kamis (6/8).

PALEMBANG, PE – Museum Sultan Mahmud Badaruddin II melaksanakan konservasi (perawatan) koleksi museum jelang pembukaan kembali untuk umum, Kamis (6/8). Kegiatan ini melibatkan tim konservasi, dari Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa.

Nyimas Ulfa Ariyani, pengelola Museum SMB II Palembang, mengatakan, pihaknya mendapatkan bantuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupa bantuan operasional penyelenggaraan museum dan taman budaya 2020.

Dana tersebut salah satunya digunakan untuk konservasi koleksi museum. Jenis koleksi museum yang dikonservasi ada tiga. Yakni koleksi kain, kuningan, dan peninggalan arkeologi.

“Kami dibantu oleh teman-teman dari Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan sebagai tenaga konsevator. Karena Museum SMB II belum memiliki SDM-nya,” ujarnya ditemui di sela kegiatan konservasi koleksi Museum SMB II Palembang.

Dikatakan, selama pandemi Covid-19, museum ditutup untuk umum. Selama penutupan tersebut, pihaknya menggelar konservasi koleksi museum dan pembersihan secara berkala.

“Insha Allah saat museum dibuka kembali pada September, pengujung akan merasa nyaman. Kami akan terapkan protokol kesehatan,” tukasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, perawatan sarana dan prasana rutin digelarnya. Hanya saja untuk konservasi koleksi museum, pihaknya meminta bantuan kepada Museum Balaputra Dewa, yang lebih berpengalaman.

“Itu kan butuh keahlian dan teknik khusus. Rencananya kegiatan konservasi ini berlangsung 15 hari kerja,” ucapnya.

Menurutnya, koleksi museum yang dikonservasi untuk saat ini yakni kain songket dan kain lainnya. Setelah itu berlanjut koleksi kuningan, serta peninggalan arkeologi.

“Kami juga mempunyai koleksi arca-arca dari masa Kerajaan Sriwijaya. Totalnya ada 709 koleksi. Paling banyak koleksi etnografika, seperti daur hidup. Yakni perkawinan, kelahiran, akikah,” tuturnya.

Menurutnya, pihaknya telah mengumpulkan data terkait tradisi kematian Palembang. Nantinya akan dipamerkan. “Jadi pas daur hidupnya dari kelahiran sampai kematian,” ucapnya.

Menurutnya, saat Museum SMB II dibuka kembali untuk umum September mendatang, pihaknya akan menerapkan protokol kesehatan.

“Pengunjung akan dibatasi. Jadi tidak bisa seperti dulu. Kami akan membuat SOP bagaimana menerima kunjungan. Kami pun telah menyiapkan fasilitas seperti thermo gun, agar pengunjung nyaman. Kami berharap jangan sampai museum jadi klaster baru penyebaran,” tukasnya.

Sementara itu Adie Citra Sandy, konsevator Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa, mengatakan, pengerjaan konservasi ini dilakukan selama 15 hari kerja, dengan menggunakan cara tradisional.

“Kita gunakan cara tradisional dan pakai bahan kimia. Untuk koleksi tekstil, kita bersihkan dengan vakum, brushing (penyikatan), dan sabun cair. Sedangkan koleksi dari logam, kita bersihkan pakai soda kue yang dicampur perasan jeruk,” terangnya.

Adapun bahan kimia yang digunakan, ia melanjutkan, yakni acicitric yang dilarutkan dalam alkohol.

“Sementara koleksi berbahan batu kita tidak gunakan bahan kimia. Kalau ada, hanya untuk arca yang sudah kecoklatan. Kita gunakan AC 322,” ucapnya.

Menurutnya, konservasi koleksi dari batu harus lebih teliti. Sebab kalau digunakan bahan kimia, dikhawatirkan bisa merusak koleksi.

“Jadi kita terapkan teknik mekanik saja. Menggunakan air lalu disikat. Kalau ternyata masih ada jamur di batu, kita akan gunakan bahan kimia AC 322. Kita oleskan di batu, lalu dibungkus plastik dan didiamkan selama 1 kali 24 jam. Biasanya jamur akan hilang,” tandasnya. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here