Home Nasional Wakaf Penyulingan Cengkih Berdayakan Masyarakat Sangihe, Sulut

Wakaf Penyulingan Cengkih Berdayakan Masyarakat Sangihe, Sulut

0
Pabrik penyulingan Cengkih di Desa Berdaya Beha, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, yang diinisiasi Rumah Zakat.

SANGIHE.PE – Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi utara adalah wilayah terluar bagian ujung utara Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebuah daerah kepulauan beribukota Tahuna dengan luas wilayah 736,98 Km dan jumlah penduduk sebanyak 131.136 jiwa yang tersebar di 105 pulau dengan 79 pulau tidak berpenghuni dan 26 pulau yang berpenghuni. Daerah dengan kekayaan laut yang melimpah dan merupakan daerah perkebunan kelapa, cengkeh dan pala.

Sejak Desember 2018, Rumah Zakat telah menginisiasi berdirinya pabrik penyulingan Cengkih di Desa Berdaya Beha, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Pabrik penyulingan Cengkih ini merupakan implementasi program wakaf produktif di Desa Berdaya untuk mengoptimalkan melimpahnya limbah Cengkih, pala dan kelapa di sana.

“Limbah daun Cengkih, sabut dan batok kelapa sangat banyak dan belum dioptimalkan. Padahal, misalnya daun Cengkih bisa diolah untuk mendapatkan minyak atsiri yang harganya sangat bagus di pasaran, mencapai Rp120,000 per Kg,” jelas Fasilitator Desa Berdaya Beha, Haryono.

Masyarakat Desa Beha sangat bersyukur dengan adanya pabrik penyulingan Cengkih. Selain limbah daun Cengkih bisa dikelola, keberadaan pabrik juga telah mampu menyerap tenaga kerja lokal sebanyak 30 orang.

“Alhamdulillah, kita bisa memberdayakan sekitar 30 warga Desa Beha untuk menjadi pekerja di pabrik penyulingan Cengkih. Kita berencana untuk bisa terus mengembangkan pabrik ini agar semakin besar dan bisa mengelola lebih banyak lagi limbah perkebunan, tak hanya daun Cengkih, kedepannya kita berharap bisa mengolah limbah kelapa dan pala,” ungkap Chief Wakaf Officer Rumah Zakat, Soleh Hidayat.

Saat ini, kapasitas produksi pabrik penyulingan Cengkih di Desa Beha mencapai satu ton daun Cengkih per hari. Dan memasuki masa panen raya Cengkih, Haryono rutin melakukan pemeriksaan terhadap mesin penyulingan untuk memastikan tidak ada masalah saat produksi nanti. “Pekan lalu kami Kembali menjual 500 Kg minyak Atsiri dengan harga Rp120,000 per Kg. Alhamdulillah, semoga hasil produksi kami semakin banyak, sehingga semakin banyak warga yang bisa diberdayakan,” tutur Haryono.

Selain di Sangihe, Rumah Zakat juga memiliki pabrik penyulingan Cengkih di Lombok yang dikelola oleh warga terdampak gempa yang terjadi pada tahun 2018 lalu. Salah satu tujuannya adalah untuk membangkitkan kembali UMKM di Lombok setelah porak poranda karena gempa.

“Dengan program wakaf produktif, kita bisa memperluas kebermanfaatan dari wakaf. Selain bisa membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar lokasi implementasi program, hasil dari wakaf produktif juga bisa kita distribusikan untuk program-program sosial lainnya seperti bantuan ekonomi, pendidikan dan Kesehatan,” jelas Soleh seraya menambahkan, hal itulah mengapa wakaf disebut ibadah multiple effect karena manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak orang. RIL

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here