Home Headline News Balitbang Kemenhan RI Ingin Revitalisasi dan Susun Ulang BKB

Balitbang Kemenhan RI Ingin Revitalisasi dan Susun Ulang BKB

0
Tim Balitbang Kemenhan RI foto bersama usai bertemu dengan Staf Ahli dan jajaran Pemkot Palembang, belum lama ini.

PALEMBANG. PE – Tim dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementrian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia (RI) melakukan kunjungan ke Kota Palembang, selama beberapa hari terakhir. Kunjungan tersebut dalam rangka penelitian terkait dengan benda cagar budaya bernilai pertahanan, yang ada di Kota Palembang.

Tim tersebut diketuai Gerald Theodorus L.Toruan, S.H.,M.H (Peneliti Ahli Muda Balitbang Kementrian Pertahanan RI), dengan anggota tim Jeanne Francoise yang tak lain penulis Disertasi entang Defense Heritage dan Founder Defense Heritage Intellectual Community.

Dalam kunjungan itu, Tim Balitbang Kemenhan RI ternyata menaruh perhatian besar dengan Benteng Kuto Besak (BKB), benteng pertahanan yang dibangun orang Sumsel.

Kepada wartawan, Gerald Theodorus L.Toruan menjelaskan dia sebagai ketua tim, menilai tidak semua kota itu memiliki cagar budaya bernilai pertahanan. Ada juga daerah yang punya cagar budaya, tapi ada nilai pertahanannya.

“Kemarin kami sudah bertatap muka dan berdiskusi di Bintaldam dengan beberapa pimpinan dengan Kabintaldam, Kakesdam dan Kazidam, kami sudah banyak diskusi tentang sejarah berdirinya Benteng Kuto Besak, berdirinya Kodam II Sriwijaya,” kata Theodorus L.Toruan, Rabu (23/9).

Pihaknya, lanjut dia, juga sudah beraudiensi dengan Staf Ahli Wali Kota Palembang, Altur dan dihadiri beberapa pejabat Eselon III dan IV dari Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Dinas PU PR dan Bapeda Litbangda.

“Setelah itu kita lanjut ke Akademisi dengan Warek I Universitas Sriwijaya, kami ingin melihat dari sudut pandang akademisi bagaimana rencana revitalisasi ini yang saat ini tidak berjalan dengan mulus atau jalan ditempat. Setelah itu kami ke Balai Arkeologi, kami lebih banyak berdiskusi ke arah sejarah, sejarahnya Benteng Kuto Besak dari perspektif para arkeolog,” katanya.

Dia menegaskan, pada intinya mereka bukan suatu badan yang bisa mengambil keputusan, tapi hanya memberikan rekomendasi dan pihaknya ingin revitalisasi ini dilanjutkan dan bisa disusun ulang.

“Karena pariwisata itu adalah suatu investasi jangka panjang, tidak bisa secara instan mendapatkan keuntungan. Dengan adanya revitalisasi Benteng Kuto Besak, dalam 10 tahun kemudian akan dirasakan manfaatnya untuk peningkatan PAD daerah. Jadi kami 100 persen mendukung, alangkah baiknya itu kembali disusun dan dimulai dengan Pemerintah Kota Palembang itu sendiri ,” katanya.

Hal senada dikemukakan Jeanne Francoise, mahasiswa S3 Universitas Pertahanan yang ikut membantu Balitbang Kemenhan RI untuk penelitian defense heritage dari unsur non PNS.

“Kami datang Senin pagi kemarin, terus wawancara di Kodam II Sriwijaya, kita paparan dari sudut pandang penelitian bagaimana defense heritage secara umum, juga spesifik tentang Benteng Kuto Besak,” katanya.

Setelah itu, pihaknya ke kantor Wali Kota Palembang dan bertemu staf Ahli Walikota Palembang, Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Bapeda Kota Palembang.

“Kami sebagai peneliti melihatnya secara objektif, bagaimana kami memperkenalkan konsep defense heritage secara umum. Kami melihat kalau bicara sejarah bangsa Indonesia itu, Palembang menjadi bagian yang penting karena disitu ada sejarah Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, era colonial, dan menarik adanya Islamic Heritage,”katanya.

Dan yang menarik, lanjut dia, untuk penelitian defense heritage terkait Pota Palembang, pihaknya melihat Benteng Kuto Besak satu-satunya benteng yang dibangun orang Indonesia dan memiliki tiga peralihan fungsi yang tidak ada di benteng lain, yaitu sebagai benteng pertahanan, menjadi istana sultan, dan kini menjadi rumah sakit .

“Kekhasan ini, selain identitasnya orang Palembang atau bisa menjadi ikon Sumatera Selatan, fungsi ini yang unik, yang tidak ada di benteng-benteng lain di Indonesia,”katanya.

Dia berharap kalau bisa dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kota dan Provinsi menaruh perhatian dengan cagar budaya secara umum di Palembang, dan punya program-program yang bisa diimplementasikan, komunitas bisa berkontribusi.

“Kedepan penelitian kami tentang defence heritage, bisa dikutip secara akademik dan non akademik,” tutupnya. DUD

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here