Home Sejarah Barisan Umat Islam Palembang di Tahun 1945 (Bagian Pertama)

Barisan Umat Islam Palembang di Tahun 1945 (Bagian Pertama)

0
Pencak Silat Palembang. Foto/ISTIMEWA
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

BERMULA dari keengganan dimasukkan dalam satu kandang dengan komponen nasionalis, sebelumnya kelompok Islam sering berada di bawah dominasi kaum nasionalis dalam dunia pergerakan sejak awal abad 20.

Arah mulai berubah tatkala gagasan reformasi Islam dan pan-Islamisme dari Mesir—yang disebarkan Rasyid Ridla dan Jamaludin al-Afghani—menjadi sumber inspirasi bagi para aktivis Islam di Indonesua.

Begitu inspiratifnya gerakan al-Afghani bagi dunia Islam, intelektual India Pankaj Mishra dalam From the Ruins of Empire: the Revolt Against the West and the Remaking of Asia (2013) menyamakan pengaruh orang ini sebesar Alexander Herzen dan Karl Marx.

Mishra memang tidak mengada-ada. Dampak pemikiran al-Afghani jauh meluas ke seluruh Asia-Afrika, termasuk Hindia Belanda. Di negeri kolonial ini, semangat modernisme Islam dan bangkitnya martabat bangsa-bangsa terjajah bersatu padu membentuk sejenis ideologi baru yang terpisah dari nasionalisme sekuler.

Dalam semangat macam itu, kaum “reformis” atau “modernis” Islam — jika boleh mengatakannya demikian meski istilah ini problematis — bertekad tidak lagi sekubu dengan komponen nasionalis di Hindia Belanda.

Kemudian, dalam rangka mencari kawan sekubu, golongan reformis lebih memilih merangkul kelompok “tradisionalis” yang sebelumnya mereka curigai.

Kaum tradisionalis didekati atas nama “persatuan dan persaudaraan umat Islam Indonesia”. Janjinya adalah: golongan tradisionalis akan mendapat porsi besar dalam organisasi konfederasi yang mewakili suara umat Islam. Kelak, menjelang Pemilihan Umum pertama di Republik Indonesia merdeka, kaum tradisionalis merasa janji tersebut diingkari — membuat Nahdlatul Ulama sebagai representasi golongan tradisionalis menyatakan mufaraqah (berpisah).

Setelah golongan tradisionalis menyatakan mau bergandengan tangan demi menyatukan aspirasi umat Islam.Tapi persatuan itu ringkih. Pelbagai kepentingan di antara organisasi-organisasi lebih menonjol daripada keinginan bersatu. Terlebih para perwakilan golongan modernis, yang merasa lebih terdidik dibanding kaum tradisionalis, terkesan ingin mendominasi.

Semasa Komite Nasional Indonesia (KNI), daerah Palembang berdiri dan sebelum Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) hadir di Palembang, antara pengunjung September 1945, dikota Palembang didirikanlah suatu organisasi Islam yang diberi nama: Barisan Ummat Islam, dengan singkatan BOI.

Badan ini dibangunkan oleh para pemuka Islam, dimaksudkan pertama akan dijadikan suatu badan pemuka dan pemimpinnya dalam usaha ikut mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia, kedua sebagai saluran perjuangan dilapangan parlementarisme.

Memang pada saat itu belum ada satu organisasi atau partai Islam pun yang timbul ditengah-tengah masyarakat.

Karenanya BOI. Dimaksudkan untuk menjadi satu-satunya badan perjuangan bagi Ummat Islam didaerah ini.

Pendiri pertama dari badan ini, adalah Ki. Hi Ahmad Azhary, Ki Hi. Abubakar Bastari, dan lain-lain. Anggota umumnya terdiri dari para alim ulama dan cerdik pandai Islam di Palembang.

Salah satu usaha yang terpenting dari badan ini, ialah mendirikan sebuah asrama latihan-jihad untuk umat Islam umumnya terutama para pemuda, bertempat di Kampung 35 Ilir Palembang.

Dalam latihan perjuangan itu, tidak saja diajarkan ajaran jihad Islam, akan tetapi juga latihan memainkan senjata, seperti pencak bersenjata, dan sebagainya dijadikan suatu mata pelajaran yang utama. ***

Sumber :
1. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
2. https://historia.id/politik/articles/riwayat-berdirinya-partai-masyumi-
3. https://tirto.id/masyumi-dan-ilusi-persatuan-umat-islam

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here