Home Palembang Gelar-gelar Bangsawan di Palembang Tidak Ada Kelas

Gelar-gelar Bangsawan di Palembang Tidak Ada Kelas

0
Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM. Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn saat menggelar diskusi mengenai Gelar-gelar Bangsawan Palembang, di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam, Jumat (25/9).

PALEMBANG.PE- Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM. Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn menggelar diskusi mengenai Gelar-gelar Bangsawan Palembang di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam di Jalan Sultan M. Mansyur no. 776, Palembang, Jumat (25/9).

Acara tersebut diikuti berbagai kalangan terutama masyarakat Kota Palembang. Hadir mendampingi SMB IV, Raden Zainal Abidin Rahman Dato’ Pangeran Puspo Kesumo,R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, Pangeran Suryo Vebri Irwansyah, Pangeran Jayo Syarif Lukman, Pangeran Surya Kemas A. R. Panji dan Beby Johan Saimima.

Menurut SMB IV, masyarakat Palembang mempunyai gelaran nasab bangsawan yang memang dia kuatkan dengan pendapat Van Seven Hoven dan pendapat dari Vebri Al Lintani. “Berdasarkan cerita-cerita yang ada di masyarakat sehingga masyarakat menjadi jelas, gelaran-gelaran yang ada di Palembang itu seperti apa, baik Raden, Kiagus, Kemas dan Masagus sudah jelas, jadi masyarakat Palembang mengenal identitas mengenai gelaran-gelaran tersebut,” kata SMB IV.
Diskusi ini menurut pria yang merupakan notaris dan PPAT sangat menarik, karena banyak orang Palembang tidak tahu gelarannya dari mana.

“Kemarin kita melontarkan tulisan berdasarkan pendapat seseorang, ternyata banyak yang tidak menyukainya, kontra, padahal pendapat tersebut sudah banyak dikutip dari buku dan tesis, jadi harusnya kita mulai kaji, supaya pendapat itu tidak muncul lagi. Kenapa saya keluarkan pendapat itu , supaya masyarakat merasa terpancing dan ingin tahu seperti apa mereka. Sekarang mereka sudah tahu dan sudah jelas, jadi kalau ada masyarakat yang tersinggung, kita juga minta maaf karena tujuannya ini untuk edukasi kita sendiri,” katanya.

Kedepan menurutnya, pihaknya akan terus rutin melakukan kajian dan diskusi lanjutan tiap minggunya mungkin dua kali yang nanti akan dishare digroup ataupun di Instagram dan twitter.

Sedangkan Pangeran Suryo Vebri Irwansyah mengatakan, kalau di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam memang rutin melakukan diskusi dan kali ini temanya tentang Gelar-gelar Bangsawan Palembang Darussalam. Dimana latar belakang kegiatan ini karena ada dinamika grup di Zuriat Palembang Darussalam, orang yang bertanya dan salah paham terhadap tulisan PDF dari SMB IV yang mengutip pendapat Van Seven Hoven yang juga dikutip dari tulisan lain yang melihat Gelar-gelar Bangsawan Palembang itu dalam perspektif kolonial.

“Menurutnya Van Seven Hoven, melihat dan membandingkan bangsawan Palembang itu sama di Jawa, ada klasifikasi, ada kelas dan sebagainya. Padahal sebenarnya dalam praktik sehari-hari itu tidak ada, jadi kita memberikan pemahaman yang jelas dalam perspektif kita bahwa gelar bangsawan di Palembang tidak ada kelas,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, perspektif masyarakat melihat kijing-kijing rumah limas itu simbol dari gelar-gelar bangsawan Palembang. “Dan itu salah, karena pada kenyataannya kijing yang pertama bukan untuk Raden saja tapi untuk orang-orang yang cakap didalam keagamaan yaitu cakap mengaji, cakap ceramah, cakap dalam memimpin tahlil dan berdoa. Sehingga orang-orang yang dianggap mempunyai kecakapan, maka duduk di kijing atas,” katanya.

Dalam diskusi tersebut menurutnya juga disepakati orang Palembang seharusnya bersatu, karena gelar-gelar itu sendiri adalah mandat dari leluhur memakai gelar itu.

“Kita tahu Raden itu diturunkan dari Abdurahman, beliau adalah Sultan yang alim sampai ke SMB II yang alim dan yang ditinggikan dalam pengertiannya. Maka kalau dia memakai gelar Raden dia harus meninggikan dirinya sendiri, bukan sombong. Tetapi dengan meninggikan orang lain, otomatis dia akan meninggikan dirinya sendiri begitupula gelar-gelar lain,” katanya.

Selain itu gelar yang dipakai oleh orang-orang Palembang itu, menurut dia, adalah gelar yang mulia semua yang tidak boleh dia khianati atau lecehkan.

“Kalau ngomong sembarangan, ngomong basing-basing kata uwong itu, itu bukan gelar orang Palembang. Jadi orang Palembang harus menjaga itu, ini hasil diskusi kita, akan kita bukukan lagi, agar orang-orang Palembang paham terhadap asal –usulnya sendiri,” katanya.

Sedangkan budayawan Palembang Kemas Anwar Beck atau akrab disapa Yai Beck mengapresiasi diskusi ini. Menurutnya, perlu banyak menyatukan pendapat masyarakat, sehingga tahu yang sebenarnya dan bukan untuk memecah belah.

“Jadi dengan adanya Kesultanan kita bisa bersatu padu untuk menyongsong masa depan kita. Orang Palembang tetap bersatu dan tetap nomor satu wong Plembang,” katanya sembari mengatakan dirinya setuju kedepan Kesultanan Palembang rutin melakukan diskusi untuk kemaslahatan orang Palembang sendiri. DUD

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here