Home Headline News Lembaga Adat Marga Bakal Dihidupkan Kembali

Lembaga Adat Marga Bakal Dihidupkan Kembali

0

PALEMBANG, PE – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan menyelenggarakan acara diskusi Obsesi Obrolan Sore Santai Berisi di Bukit Siguntang, Rabu (23/9). Kali ini tema yang diangkat tentang adat istiadat marga di Sumsel.

Narasumber yang dihadirkan berkompeten di bidangnya. Yakni, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Aufa Syahrizal Sarkomi, Hidayat Comsu (Staf Khusus Gubernur Bidang Kebudayaan), Albar Subari (Ketua Pembina Adat Sumsel), dan A Rapani Igama (Kabid Dokumentasi dan Publikasi Disbudpar Sumsel).

Aufa Syahrizal mengatakan, zaman dahulu dikenal adanya pemerintahan marga (pasirah). Melalui lembaga adat yang sudah terbentuk ini, para pemangku adat sedang menyusun Peraturan Gubernur, agar adat istiadat yang ada di daerah akan kembali mengacu sistem adat istiadat marga.

“Sekarang sedang diproses penyusunan draf Pergub. Kalau sudah disetujui, kegiatan-kegiatan lembaga adat akan kita kembangkan lagi, khususnya yang berkaitan dengan lembaga adat marga,” ucapnya.

Pemerintah merasa perlu menghidupkan kembali lembaga adat marga, agar adat-adat yang ada di berbagai daerah di Sumsel tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

“Kalau sudah ada Pergub, ini akan jadi payung hukum. Banyak generasi muda yang sudah melupakan adat istiadat daerahnya. Dengan adanya lembaga adat marga, ini akan jadi payung hukum, sebuah aturan dan pedoman, bagaimana mengembangkan adat istiadat,” tuturnya.

Lembaga adat marga, ia melanjutkan, hingga saat ini masih dipakai oleh masyarakat. Seperti warga Suku Komering.

“Komering sangat kental dengan adat marga. Malah ada daerah yang namanya masih menggunakan marga, seperti Madang Suku 1, Madang Suku 2. Artinya masih dipakai marga ini,” ucapnya.

Makanya lembaga adat marga akan coba dibangkitkan kembali. Ini menjadi penting, lantaran adat merupakan jati diri atau identitas diri suatu daerah.

“Maka dari itu kita sangat berkeinginan untuk mengangkat hal-hal ini melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,” tukasnya.

Dengan adanya lembaga adat marga tentu akan menarik lebih banyak wisatawan datang ke Sumsel.

“Saya pernah melakukan penelitian. Bahwa salah satu motivasi wisatawan datang ke sebuah daerah, hal utama mereka ingin mempelajari adat dan budaya daerah yang dia kunjungi,” ujarnya.

Dengan adanya lembaga adat, ia berharap, adat dan budaya di Sumsel akan semakin eksis dan berkembang, serta tetap lestari.

Sementara itu Albar Subari mengatakan, sistem pemerintahan adat marga mulai dihapuskan di Sumsel sejak 1 April 1983. Dasarnya SK Gubernur No. 142/KPTS/III/83. Dampaknya, pasirah menarik kekuasaan.

“Dulu Ketika pasirah masih berkuasa, dialah yang mengurusi adat. Sekarang ketika pasirah sudah tidak ada, warga dusun seperti anak ayam kehilangan induk. Tidak ada yang bisa dipanuti,” tuturnya.

Dikatakan dia, pemerintah bukan bermaksud membangkitkan kembali pasirah. Dalam upaya melestarikan adat istiadat, maka diaktifkan lagi kepengurusan Dewan Adat Sumsel pada 2019 silam.

“Inilah yang jadi program kami masa bakti 2019-2024. Ada titipan dari Pak Gubernur untuk membuat Peraturan Gubernur. Ini untuk merealisasikan Perda yang sudah dibuat teman-teman di DPRD,” pungkasnya. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here