Home Sejarah Lukisan Delegasi RI, A.K. Gani

Lukisan Delegasi RI, A.K. Gani

0
Sketsa AK Gani (sumber foto: https://lukisanku.id/lukisan-delegasi-ri-a-k-gani-henk-ngantung)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar (Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

HENK Ngantung tak melulu asyik melukis, tapi juga merekam suasana Revolusi lewat sketsa-sketsanya. AK Gani salah satu yang dipernah dilukisnya…..

Lukisan ini merupakan lukisan naturalism, realisme dengan gaya mooi indie. Dengan teknik melukis menggunakan pensil di atas kertas. Lukisan ini menggambarkan Delegasi RI Perjanjian Linggarjati, Dr A.K. Gani.

Di masa Revolusi, sketsa-sketsa yang dibuat Henk Ngantung bercorak perjuangan. Bukan hal aneh jika dia membuat sketsa tentang anggota KRIS yang berjaga dengan bedil panjang di tangan atau kombatan-kombatan Republik yang berlatih perang. Salah satu tokoh KRIS yang pernah dibuatkan sketsanya adalah Miss Kembang.

Waktu Perundingan Linggarjati, Henk ikut serta. “Selaku wartawan dan pelukis sekaligus, Henk Ngantung pernah mengikuti perundingan antara Pemerintah R.I. dan Belanda antara lain di Linggarjati, Kaliurang dan beberapa perundingan lagi,” tulis Sudarmadji dalam Pelukis dan Pematung Indonesia (1981: 75).

Dalam perundingan Linggajati, Henk membuat beberapa sketsa tentang Sukarno dengan pejabat asing seperti Lord Killearn dan H.J. van Mook termasuk Dr AK Gani. Juga tentang rakyat biasa yang berkerumun. Di sketsa itu ditulisi: “Rakyat dipinggir jalan ingin melihat pemimpinnya dan kepada siapa mereka menitipkan harapan dan cita-cita mereka.”

Ia juga membuat sketsa ibu-ibu yang memasak di komplek penginapan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Selain itu, ada pula wartawan yang mengetik di pagar tangga, pengawal yang berjaga di penginapan Sjahrir, tokoh-tokoh Republik yang hadir dalam perundingan, dan tentunya suasana perundingan.

Henk Ngantung, Pria kota Manado Sulawesi Utara ini telah aktif melukis dan berpameran. Namanya muncul di beberapa surat kabar umum yang terbit di Hindia Belanda. la terus bekerja sebagai pelukis di masa Jepang dan kemerdekaan. Salah satu lukisan terkenalnya, Memanah, yang ia buat di masa Jepang sering muncul dalam dokumen foto-foto perjuangan kemerdekaan.

Henk Ngantung memiliki keistimewaan dalam memaksimalkan elemen garis dalam setiap karya seninya. Garis hasil goresannya seakan hidup, bahkan bisa memancarkan satu kekuatan realita murni. Tak heran belakangan karya studi sketsanya banyak mempengaruhi rancangan arsitektur termasuk patung, di Jakarta. Dia pernah menjabat gubernur DKI periode 1964-1965, sebelumnya dipercaya sebagai wakil gubernur Dr. Sumarno pada tahun 1960.

Secara akademik dia belajar banyak melukis potret kepada Rudolf Wenghart (Austria) dan Sjafei Subardja (Pengajar Kesenian). Keinginan yang kuat terhadap senirupa, Henk Ngantung memutuskan belajar secara seni lukis dia terlebih dahulu mem¬buat studi berupa sketsa. Hasil rancangam garis yang dia susun dalam satu dokumentasi khusus dengan mene¬rakan judul, tahun dan tempat membuat sketsanya. Sebahagian sketsa cat air hitam putih itu ada pula yang diberi bingkai, dengan tujuan suatu saat akan dilukisnya dengan cat minyak.

Dalam soal merawat lukisan sketsa, Henk Ngantung satu-satunya pelukis yang mengapit dengan karton tebal. Cara ini dipakai agar sketsanya itu tetap rapi, datar dan bersih sekaligus menjaga agar tidak rusak. Karya sketsanya pernah diulas dalam buku “Sketsa-sketsa Henk Ngantung dari Masa ke Masa” buah pena Baharudin Marasutan. Karya lukisannya juga ada dalam buku Lukisan dan Patung Koleksi Bung Karno.

Sebagai orang yang dekat dengan Soekarno yang mencintai seni, dia didapuk untuk memperindah ibukota Jakarta. Keindahan yang kini tersisa dari karyanya ada berupa monumen, taman dan patung yang sketsanya berawal darinya. Patung Pembebasan Irian Barat dan Selamat Datang (dulu bernama Bangsa Indonesia Menyambut Hari Depannya).

Dia andil juga berperan dalam menata taman ibukota. Misalnya mengadakan pot bu¬nga hias di sepanjang jalan Husni Thamrin pada masa itu. Masing-masing lukisan memiliki makna sejarah berbeda-beda, dan menggambarkan suasana yang berkembang ketika lukisan itu dibuat.
Lukisan Henk yang dibuat di era penjajahan Jepang kala itu, menggambarkan kekuatan perjuangan yang begitu besar.

Tak hanya perjuangan ketika menghadapi penjajahan, melainkan juga bagaimana mempertahankan dan mengisi negara pasca-kemerdekaan itu. Henk Ngantung lebih menganut aliran realis (sosialis) menurut Rosihan Anwar. Dimasa pendudukan Jepang, Henk Ngantung bersama seniman lain seperti Soedjojono, Soedjana Kerton, Affandi adalah seniman yang karyanya punya watak demokrasi dan mengangkat penderitaan, kesengsaraan dan kemiskinan rakyat.

Henk adalah salah satu pelukis terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Deena Burton menyebutkan Henk Ngantung bersama Lee Manfong dan Basuki Abdullah merupakan tiga seniman Jakarta yang paling berpengaruh di dekade 50an. Henk telah membantu mewujudkan permintaan Sukarno untuk memperindah Jakarta dimasanya. ***

Sumber:
1. https://mediaindonesia.com/read/detail/269196-goresan-indonesia-di-tangan-henk-ngantung
2. https://lukisanku.id/lukisan-delegasi-ri-a-k-gani-henk-ngantung
3. https://tirto.id/denyut-nadi-revolusi-dalam-sketsa-henk-ngantung-

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here