Home Opini Marga di Zaman Pendudukan Jepang

Marga di Zaman Pendudukan Jepang

0

Oleh pemerintah militer Jepang pada prinsipnya tidak ada perubahan yang mendasar terhadap kedudukan Marga dan kepala marga. Mereka hanya mengganti beberapa nama jabatan saja yang dirobah dengan istilah mereka.

Antara lain Pasirah sebagai Kepala Marga disebut SONCOO, krio kepala dusun dengan sebutan BUCOO.

Jepang tidak punya waktu untuk mencampuri urusan pemerintahan yang berlaku di masyarakat pedusunan. Pemerintahan Marga tetap berjalan sebagaimana peninggalan Belanda, hanya Dewan Marga mereka bubarkan. Marga hanya dijadikan sebagai lumbung untuk mendukung kebutuhan perang mereka saat itu. Mereka melalui keresidenan ( SYU) mempergunakan kearifan lokal kita yaitu gotong royong mengumpul tenaga dan biaya perang. Kepala Marga dipaksa untuk menunjang program mereka kalau tidak akan dipecat dari jabatan kepala marga karena dianggap antek Belanda. Atau dibiarkan tetap menjabat tapi tidak lagi mempunyai pengikut sebagai pemimpin rakyat,serta tidak mendapatkan perlindungan dari pemerintah Jepang. Sejak itulah kedudukan kepala marga serta perangkat nya sangat merosot di mata rakyat bahkan menimbulkan anti pati.
Dalam kondisi seperti ini Pasirah Bond masih tetap intensive melakukan komunikasi yang sudah memiliki rasa nasionalisme.

Sejarah membuktikan banyak putra putra mereka yang menjadi perwira tentara nasional Indonesia. Yang sejak kecil sudah membudaya menghormati Sepuh dan orang orang tua. Yang tentunya seizin mereka dan masyarakat. Namun segelintir mereka menghayalkan adanya zaman keemasan pada saat pemerintahan kolonial Belanda.

Tentu semuanya itu baik zaman kolonial Belanda dan pendudukan Jepang tjdak terlepas dari kelentingan mereka sendiri. Seperti contohnya dapat kita pahami saat memilih antara Pemerintah DUSUN dan MARGA menjadi sebagai kesatuan masyarakat adat. Mulanya Belanda memilih Dusun. Tapi setelah dicoba beberapa saat, Belanda menjadi kan Marga sebagai kesatuan masyarakat adat. (.baca IGOB).

Karena kalau Marga akan memudahkan Belanda untuk mengatur karena jumlah sedikit dibanding Dusun. Kepala Marga karena fasilitas yang diberikan Belanda mereka tentu akan memihak pemerintah Belanda. Sedang Dusun dipimpin oleh tua tua kekerabatan yang tentunya masih terikat satu kepuhyangan.
Namun sejarah tidak boleh dilupakan apalagj dizaman kita merebut kemerdekaan. Daerah uluan baca marga menjadi basis perjuangan dimana sifat kharismatis tradisional dari pimpinan masyarakat adat yang bersinergi dengan para pejuang kemerdekaan, menjadi basis yang kokoh dan tangguh. Masyarakat adat menjadi pendukung utama.

Fakta masih banyak bukti yang dapat kita telusuri bahwa banyak makam makam pejuang dan kuburan puyang masih diyakini oleh masyarakat setempat sebagai orang yang harus dihormati saat hidupnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here