Home Sejarah Masyumi Daerah Palembang, Jatuh Bangun Ditengah Pergolakan Revolusi (Bagian Kedua)

Masyumi Daerah Palembang, Jatuh Bangun Ditengah Pergolakan Revolusi (Bagian Kedua)

0
Syahrul Hidayat dan Kevin W. Fogg, “Profil Anggota: Usman Hamid,” Konstituante.Net (1 Januari 2018), diakses pada 13 September 2020, ‹http://www.konstituante.net/id/profile/MASJUMI_usman_hamid›.
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

PADA tahun 1946, tahun yang penuh dengan gelombang pergolakan juga maha hebat sebagai lazimnya pada permulaan tiap revolusi. Disamping memilih utusannya untuk ke-Muktamar pertama di Yogja, yang terdiri dari A.S. Mattjik dan Nadjamuddin Hd, bersama dengan Amantjik Rozak dari GPII, juga Masyumi Palembang mengerahkan seluruh tenaga dan pengaruhnya untuk melaksanakan rencana perjuangan sebagai berikut:
1) Membangunkan cabang diseluruh Kewedanaan.
2) Mengerahkan tenaga ummat Islam untuk mempertahankan Kemer dekaan dalam organisasi Sabilillah dan Hizbullah.
3) Ikut mengembangkan secara luas pengertian kemerdekaan kepada masyarakat ramai.

Setelah API lama dibubarkan (API yang dipimpin oleh Uteh Jahja), maka oleh beberapa pemuda Islam di Kota Palembang API itu dihidupkan kembali.

Diantara pemimpin-pemimpinnya adalah Nungtjik Akib, Abu Haijin, Ansori, Hi. Ahlawi dan kawan-kawannya yang berjumlah semuanya 27 orang. Kemudian badan perjuangan ini dilebur menjadi Hizbullah, yaitu pada tanggal 24 Desember 1945.

Disamping usaha pemusatan perjuangan kepada pertahanan kemerdekaan, juga Masyumi dalam bagian triwulan pertama tahun 1946 sibuk membangunkan organisasi kemana-mana hingga sampai masanya pada pertengahan tahun 1946, diwaktu mana Masyumi mengadakan konperensinya yang pertama dikampung 3 Ulu Palembang, dengan mendapat kunjungan dari utusan-utusan Palembang dan beberapa utusan Karesidenan lain sebagai peninjau.

Dalam konperensi yang dihadiri juga oleh wakil Masyumi Sumatera, Ki. Hi. Tjikwan dari Bukit Tinggi, disusunlah rencana perjuangan secara positip dilapangan pertahanan negara dengan menggunakan tenaga Hizbullah dan Sabilillah sebagai basis.

Dalam konperensi itu juga, telah ditetapkan bahwa Ki.Hi. Mursal Azis ditunjuk untuk memegang pimpinan Hizbullah dan Sabilillah. Wakilnya ditunjuk Nungtjik Akib merangkap menjadi Komandan Resimen Palembang.

Sedang Kodir Hadi ditetapkan menjadi Komandan Resimen II diwilayah Ogan Ilir dan Kayuagung. Kepada Hi. Jasin ditugaskan sebagai Komandan Resimen III wilayah Sekayu sampai ke Jambi.

Selain itu diangkat pula Komandan untuk daerah Lampung, dan untuk daerah Bengkulu hanya ditempatkan batalyon. Tiga bulan setelah itu telah diambil tindakan memisahkan organisasi Hizbullah dan Sabilillah.

Hingga pada akhir 1946 Hizbullah sudah dapat menyusun dirinya dalam 1 divisi dengan Komandannya Hamzah Kuntjit, sedang Baidjuri duduk sebagai Kepala Staf Umum divisi. Kemudian Sabilillah telah dapat disusun begitu rupa, sehingga dapat mewujudkan Sabilillah Sumatera Selatan dengan Komandannya Hi. Mursal Aziz, dibantu oleh Amantjik Rozak dan Abu Haijin.

Sesuai dengan tuntutan keadaan, pada tahun 1946 itu pula oleh Masyumi dibentuk suatu badan ekonomi yang dipimpin oleh Hamzah Kuntjit, A. Roni, Wasik, Kodir dan kawan-kawan yang dimaksudkan untuk dapat secara aktip memungut bantuan dan mengorganisir bantuan itu untuk perjuangan.

Disampingnya, dibentuk suatu badan yang diberi nama Darul Mashrif, sebagai pusat pengumpulan uang yang umumnya dipergunakan untuk membiayai perjuangan dikala itu.

Pada waktu badan perjuangan, diharuskan meninggalkan Kota Palembang dalam batas 20 km. yang sudah terkenal itu, yaitu pada awal bulan Januari 1947. Seluruhnya pimpinan dan badan perjuangan Masyumipun ikut dipindahkan keluar kota, dan Mota Muara Eniml ah yang pada tatkala itu dijadikan pusatnya.

Pada Maret 1947, bertempat di Tanjung Enim diadakan suatu Konferensi Daerah kedua, dengan mendapat kunjungan sebagian saja utusan cabangnya. Selain mempelajari soal yang membawa kemunduran tenaga pertahanan keluar kota seperti yang dialami, juga konferensi menyusun pimpinan baru.

Urgensi pertama adalah meneruskan perjuangan Palembang dalam menyusun tenaga perjuangan ummat Islam. Keadaan perhubungan bertambah sulit. Hubungan dengan cabang tatkala itu sangat sulit dilakukan. Jalur pos tidak dapat melayani keperluan sebagaimana layaknya.

Dan oleh karena itu pula tiap daerah mengambil inisiatif sendiri berdasarkan kelaziman organisasi biasa. Begitulah perkembangan keadaan yang bertambah hari bertambah menekan, rupanya sedikit banyaknya juga menimbulkan kekendoran organisasi dimana-mana.

Keadaan sudah semakin begitu sulitnya. Agresi pertamapun datang. Kesejahteraan partai bertambah kurang. Tenaga pimpinan kucar-kacir.

Sampailah Masyumi ke Kota Lubuklinggau. Salah satu usaha untuk menyusun kembali tenaga partai tidaklah lain dari pada konperensi lagi di Linggau. Konperensi yang berlaku pada tangal 14 November 1947 itu sayang tidak membuahkan hasil konsolidasi. Tetapi membuat perpisahan organisatoris antara Masjumi dan P.S.I.I.

P.S.I.I. rupanya ingin membuat saluran sendiri dalam perjuangan. Demikianlah dari konperensi tersebut menghasilkan pemisahan organisatoris dan politis antara dua partai tersebut.

Beberapa tenaga pimpinan Masjumi yang dulunya berasal dari pimpinan PSII kembali aktif dalam organisasi PSII. (PSII sendiri baru ditahun 1948 dibangunkan lagi, dengan pimpinannya antara lain A.S. Mattjik, Suhardjo, Hi Zainuri dan kawan-kawan). ***

Sumber :

1. https://historia.id/politik/articles/lakon-masyumi-zaman-revolusi
2. https://tirto.id/masyumi-dan-ilusi-persatuan-umat-islam
3. /lahirnya-masyumi-mozaik-tirto-
4. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here